Wajah Kita

Tangan-tangan halus itu perlahan, penuh kehati-hatian menyusuri sudut-sudut pigura dan hiasan di almari.Jari-jari lentiknya begitu terampil menjelajah. Hingga tak sengaja dalam sekedipan mata,praakk….sebuah pigura berukir bergambar foto diri tersenggol dan jatuh berserakan di lantai.Hah…!jerit kaget bercampur takut tiba-tiba menghinggapinya. Sebuah pigura berisi potret diri yang begitu dibanggakan dan disayanginya kini teronggok di lantai. Seakan menjadi benda tak bernilai. Pigura berukir berwarna keemasan yang untuk membelinyapun harus mengorbankan sebagian tabungannya. Gambaran potret diri berbalut busana casual, dengan pose close up yang saat akan take pengambilan gambar membuat rasa percaya dirinya sedikit terkikis. “Aduh…make up ku sudah pas belum ya? Aduh…posenya bagaimana ya? Aduh…dan aduh…” Bahkan untuk memikirkan angle mana yang harus di ekspose sampai harus mengorbankan jam tidurnya. Kini hasil perjuangan itu seakan menjadi tidak berarti…Perlahan diambilnya foto yang jatuh dilantai,diusap perlahan,dibersihkan dari sisa-sisa kaca pigura. Butiran air matapun menetes menyesali kebodohan yang telah dilakukannya.

wajah kita ?

wajah kita ?

Di waktu yang sama, di sudut ruang berbeda seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan sedang mengoleskan krim malam sambil mengamati detail, tiap centi hingga milimeter wajahnya. Terlihat dia mendekatkan wajahnya ke depan cermin. Mengamati kerutan di bawah kelopak matanya. “Kenapa kerutan ini tidak berkurang? Bukannya dua hari lalu aku sudah merawat diri ke salon? Apa yang salah dengan wajahku ini?” Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk dalam hati. Begitu khawatir sang empunya akan hilangnya sebuah mahkota bernama “kecantikan.” Mahkota yang demikian diagungkan kaum hawa dan begitu dipuja kaum adam.

Pun demikian dengan kaum laki-laki. Istilah pria metroseksual seakan demikian terpatri dalam diri dan otak kaum yang identik dengan otot dan kekuatan ini. Dahulu seorang laki-laki adalah individu yang begitu kuat secara fisik namun kurang begitu memperhatikan penampilannya. Kini kondisi itu seakan berbalik seratus delapan puluh derajat. Seorang laki-lakipun mempunyai hak untuk merawat diri, mempunyai hak untuk merawat tubuhnya, hak untuk merawat wajahnya. Demikian gencarnya fenomena budaya gaya hidup modern ini hingga tak jarang di salon-salon dan tempat perawatan diri mayoritas justru diisi kaum adam. “Sebenarnya apa yang terjadi?”

Toh semua itu tidak sepenuhnya salah. Setiap masa dan jaman manusia selalu berkembang dan mempunyai tolok ukur yang berbeda untuk menilai sesamanya. Bahwa tiap manusia dikaruniai wajahnya masing-masing dan berhak untuk berbuat apa saja terhadap apa yang dimilikinya. Bahwa wajah ini tak jarang menjadi sebuah komoditas yang demikian “mahal.” Cobalah mengamati di televisi dan media visual lainnya, setiap hari bermunculan sinetron yang memasang aktris dan aktor dengan penampilan dan wajah yang demikian menariknya. Dari waktu ke waktu kita disuguhi sebuah “panggung sandiwara” dengan beraneka wajah. Namun mayoritas memiliki benang merah dan keseragaman yaitu wajah-wajah dengan kategori ganteng dan cantik. Kalaupun ada yang berwajah “kurang” biasanya hanya untuk seorang figuran atau jika menjadi pemeran utama kalau tidak untuk peran yang didaulat menjadi penguras air mata pemirsa,ya…seorang yang memancing tawa penonton.

Bahkan kita sendiripun juga dihinggapi penyakit “takut dan kurang percaya diri” bila berurusan dengan wajah. Saat diri ini mencoba berkaca sekedar melihat penampilan diri dan menjumpai cermin yang dipakai kotor, tak segan-segan kita membersihkannya. Namun ketika cermin itu menjadi bersih dan bening dengan bayang diri begitu jelas terpampang justru kita sendiri yang mengernyitkan dahi. Tidak percaya diri dengan wajah sendiri.Seakan tidak percaya diri dengan penampilan atau malah justru takut dengan takdir akan merambatnya usia dan menjumpai hal yang begitu menakutkan, penuaan.

Padahal jika mau mencermati,sedikit merenung, barangkali kita perlu malu dengan seniman tari Didi “Nini Thowok” Di saat kita berusaha dengan segala daya upaya untuk “menyembunyikan” wajah kita justru dia membuat parodi satire tarian yang membuatnya melanglang buwana. “Dwi Muka”, begitulah dia memberi judul untuk tariannya itu. Sebuah parodi tarian dimana sang penari memasang dua buah topeng secara berlawanan arah,di muka dan bagian belakang kepalanya. Itupun dengan gambaran “wajah” yang membikin orang tersenyum dan tertawa. Dengan komposisi gerakan yang sulit dibedakan mana tubuh bagian depan mana tubuh bagian belakang dan mengajak penikmatnya selalu tertawa. Sebuah komposisi tari yang membuat orang geleng kepala dibuat kagum. Namun di balik kekaguman dan tawa itu sebenarnya penonton seakan diajak untuk menertawakan dirinya sendiri. Menertawakan tingkah polah manusia, menertawakan ketidak percayaannya pada takdir, menertawakan kebodohannya sendiri, menertawakan mereka yang selalu ingin mengubah “wajahnya” dengan sebuah ketidakjujuran.

Gambaran tari itu seakan “menyadarkan” kita akan ketakutan diri terhadap sesuatu bernama “wajah.” Memang di zaman dimana penampilan sudah menjadi harga mati, “topeng wajah” seakan menjadi sah-sah saja. Orang dengan penampilan perlente dipandang memiliki status dan kasta yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang berpenampilan seadanya. Namun lebih dari itu bahwa ada nilai yang lebih dari sekedar sebuah penampilan perlente, glamour dan berkesan mewah. Kejujuran…karena kejujuran adalah bahasa hati. Bahwa “wajah diri adalah cerminan bahasa hati.”

3 thoughts on “Wajah Kita

  1. untuk “anak muda” seperti saya yang terkesan cuek dan gak mau terlalu mencampuri urusan orang lain, terserah orang mau menilai apa tapi yang lebih penting adalah berusaha menjadi lebih baik dengan memberi contoh yang baik bukan dengan omong kosong. Show them about the right thing to do! Start with ourselves.

  2. ini nyindir aku pra merried. berMUKA DUA.
    pasca merried. muka-muka lain tak bisa aku tampilkan.

    intinya, udah gak bisa CARI MUKA lagi.
    sudah ketangkap basah aslinya..🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s