Potret Diri

potret diri

potret diri

Terlahir dari keluarga yang mengabdikan dirinya kepada negara. Bisa dikatakan kedua orangtuaku adalah “abdi negara” seorang yang mengabdikan diri dan pikirannya bagi negara,sebagai aparatur pemerintah.Tentunya selain sebagai abdi negara ada hal lain yang lebih penting yaitu sebagai abdi masyarakat. Dalam hal ini konteks sebagai abdi masyarakat adalah menjadi seorang warga negara dan masyarakat yang baik. Baik dalam pengertian bukan hanya sebagai warga masyarakat yang pasif namun lebih dari itu mampu memberikan sumbangsih pikiran dan tenaga bagi kamanfaatan orang lain. Barangkali terlalu naif dan absurd namun hal tersebut memang bisa diamati dan dirasakan. Ada pesan moral dari orangtua dan pengajarku ketika masih mengenyam bangku pendidikan dulu bahwa “nilai” yang diperoleh secara normatif di bangku sekolah barangkali memang bisa didapat dan diberikan. “A” dipastikan menjadi sebuah nilai yang diburu dan dituju, hal tersebut sedikit banyak memperlihatkan sebuah kemampuan diri. Penilaian mayoritas mengatakan bahwa seorang mahasiswa yang memperoleh nilai A adalah mahasiswa yang dianggap “mampu” menguasai apa yang dipelajarinya. Namun lebih dari itu ada hal lain yang lebih penting,yaitu penilaian dan penghargaan dari masyarakat. Sebuah penilaian dan hukuman dari masyarakat memiliki apresiasi tersendiri. Di sini akan bisa terlihat apakah yang selama ini diperoleh memang benar-benar bermanfaat atau hanya sebuah “teori” yang tidak mampu diaplikasikan dan hanya akan menjadi sebuah hiasan saja. Jika direnungkan bangku pendidikan bukanlah satu-satunya tempat dan cara untuk menjadikan manusia lebih berarti dan bernilai.

Magelang, sebuah kota kecil di bagian selatan Pulau Jawa. Magelang, kota yang sedikit berada di ketinggian. Ini berimbas pada kondisi udaranya yang sejuk.Nyaman…barangkali itu sebuah kata yang cukup pas untuk menggambarkan kondisi kotanya. Magelang, sebuah kota yang berada di sebuah hamparan “cekungan” yang dikelilingi lima gunung. Karena cekungan dan lima gunung inilah nama Magelang berasal. Konon nama Magelang sendiri di ambil dari kata Maha dan Gelang. Jika diterjemahkan secara bebas berarti “gelang yang sangat besar.” Kok bisa? Ini disebabkan karena jika dilihat dari “atas” cekungan yang dikelilingi lima gunung ini bagaikan gelang raksasa. Dan satu lagi yang perlu dicatat bahwa dengan dikelilingi gunung dan pegunungan ini memberikan keuntungan pada view kota yang sangat menarik.

Catatan menarik lainnya dan ini bukan bermaksud menyombongkan diri,kota ini banyak menghasilkan “orang-orang besar” dan memiliki pengaruh di negeri ini. Dari mana pernyataan ini bisa muncul? Sebenarnya jika dirunut pernyataan tersebut tidak mengada-ada dan benar adanya. Akmil (dulu Akabri) atau Akademi Militer yang menjadi penyebabnya. Sebab memang banyak pejabat negeri ini merupakan lulusan dari akademi tersebut. Jadi bisa dikatakan bahwa Magelang, sebuah kota kecil namun memilki kontribusi yang besar bagi republik ini. Tempat tinggalku sendiri jaraknya tidak jauh dari kompleks Akmil (barangkali hanya 500 m saja) membuat yang namanya keseharian para prajurit itu sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Bisa dikatakan sudah menjadi santapan rutin.

Begitulah sedikit gambaran lingkungan di sekitarku. Tampaknya tidak adil dan kurang bijaksana kalau harus bercerita kehidupan di sekitar tanpa pernah menyentuh akar permasalahan sebenarnya yaitu “potret diri” Sebuah gambaran tentang diriku dan sebelumnya diriku meminta maaf kepada pihak-pihak yang membaca,kalau tulisan ini terkesan subyektif. Kesan tersebut sudah kuusahakan seminimal mungkin tidak muncul dan kukikis. Namun kembali ke dasar fitrahnya bahwa manusia merupakan gudangnya salah,khilaf,alpa dan lupa.

Masa kecil dan awal pendidikan banyak kuhabiskan di sekitar lingkungan tempat tinggalku. Ini terjadi karena memang awal diriku memasuki bangku sekolah diawali dari Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar,letak kedua tempatku mengenyam pendidikan berada di dekat tempat tinggalku. Bisa dibayangkan bahwa mayoritas teman-teman di sekolah adalah teman-teman bermain dan juga tetangga di sekitarku. Baru ketika memasuki pendidikan menengah pertama mulai terjadi kompleksitas pergaulan dan pertemanan. Karena letak sekolahku agak jauh dari rumah,ditambah dengan siswa yang belajar di sana lebih beragam membuat tingkat pertemanan dan pergaulannyapun makin kompleks.Selepas dari pendidikan menengah pertama dan memasuki pendidikan menengah atas kembali “jarak” menjadi lebih dekat dari rumah. Pendapat bahwa masa-masa SMA adalah masa yang paling indah kupikir tidak sepenuhnya benar. Tiap masa memiliki keindahannya masing-masing. Anggapan itu sudah menjadi rahasia umum barangkali karena masa-masa tersebut setiap personal mulai mencari jati dirinya masing-masing. Selain itu kecenderungan untuk mulai mengenal lawan jenisnya menjadi lebih intens. Toh masa-masa ini kulewati dengan datar tanpa ada satu “letupan” yang berarti. Bisa dikatakan diriku bukanlah orang yang menarik dan menonjol baik secara fisik maupun intelektual. Jadi dapat disimpulkan bahwa diriku bukanlah seorang siswa yang menjadi “idola” yang mempunyai tingkat “kebisaan” yang beragam. Jika memberi penilaian sendiri aku adalah seorang siswa dan individu yang cenderung tertutup dan “kuper” atau kurang pandai dalam bergaul. Namun apa yang kumilki tersebut sampai saat ini tetap kusyukuri, bagaimanapun juga manusia diciptakan dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Satu hal yang utama bahwa apa yang diberikan adalah yang terbaik serta mencoba terus memperbaiki diri,”belajar” dan tidak pernah berhenti menggali potensi diri.

Surabaya, kota yang sebelumnya tidak pernah kubayangkan bahwa pada akhirnya lebih dari 10 tahun hidupku dihabiskan di kota ini. Sebuah kota pelabuhan dengan tingkat kepadatan, keberagaman kotanya yang sangat kompleks. Jauh berbeda jika dibandingkan dengan Magelang kota asalku. Kebiasaan dan kebudayaan masyarakatnyapun sangat berbeda. Jika di tempatku tinggal dulu masyarakatnya demikian menjunjung “unggah ungguh” dan cenderung halus maka yang kutemui saat pertama kali menginjakkan kaki adalah sebuah komunitas masyarakat yang sangat terbuka dan egaliter bahkan cenderung “keras.” Namun bukan berarti apa yang kutemui semua berkesan negatif. Penilaian awal tersebut memang timbul bukannya tanpa sebab. Aku yang berasal dari sebuah kota kecil, yang membawa kebiasaan “halus” dalam melakukan segala hal tiba-tiba harus datang dan menetap di kota yang demikian beragam dan hidup sendiri, jauh dari orangtua dan tidak mempunyai sanak keluarga. Apapun yang terjadi, tantangan dan hambatan di depanku harus diatasi. Meskipun harus memendam kerinduan karena harus jauh dari orangtua “hidup” harus terus berlangsung dan mengalir.

“Kenapa aku sampai tiba di Surabaya?” Keadaan yang mengharuskanku “menetap” di Surabaya, kebetulan aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri teknik di Surabaya, dengan pendalaman ilmu di bidang rancang bangun. Ya…arsitektur itulah ilmu yang harus kudalami selama 6,5 tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang untuk menempuh dan menyelesaikannya. Dapat kukatakan bahwa aku termasuk salah satu “fosil” yang masih tersisa pada saat itu.Lho kok bisa begitu? Lebih dari 80% teman-teman satu angkatanku sudah menyelesaikan studinya dan mulai menerapkan dan mengaplikasikan ilmunya masing-masing. Sementara pada saat itu diriku masih berkutat dengan kuliah dan urusan tugas akhir yang membuat pikiranku luar biasa terbebani dan menguras seluruh energiku. Dengan modal kapasitas intelektual yang pas-pasan tidak mengherankan bahwa masa tempuh studiku begitu panjang. Terlambat sedikit, hanya namaku saja yang tercatat pernah mengenyam pendidikan di sana tanpa pernah menyelesaikannya. Toh dengan tertatih-tatih dan menghadapai demikian banyak cobaan dan ujian hidup akhirnya tiba juga saat aku menerima tanda kelulusan. Sebuah tanda yang begitu dinanti oleh kedua orangtuaku yang sudah kubikin kerepotan baik secara fisik maupun pikiran.

Peristiwa tersebut patut disyukuri meskipun tidak secara berlebihan. Aku sadar dengan masa tempuh studiku yang panjang berdampak pada usiaku pada saat lulus yang sudah demikian “meninggi” Dampaknya adalah pada saat mencari pekerjaan untuk bekal masa depan seringkali terbentur oleh persyaratan usia. Pun demikian dengan bekal kemampuanku yang pas-pasan masih jauh dari kriteria untuk terjun di bidangku dan mengaplikasikan bekal ilmu yang kuperoleh. Itulah kenyataan, realita yang harus dihadapi. Bagaimanapun juga apa yang “diberikan” dan yang kuperoleh saat ini adalah yang terbaik bagiku. Tidak harus ada penyesalan apalagi menyalahkan takdir.Semuanya sudah memiliki “jalan” masing-masing. Dengan terus berusaha “belajar” dan menggali potensi diri yang ada untuk menemukan apa yang pas dan baik bagiku, sedikit dan perlahan-lahan mencoba mengaplikasikan ilmu arsitektur yang kuperoleh. Usaha untuk terus belajar dan menggali potensi diri inilah yang kulakukan. Di tengah waktu untuk mengaplikasikan ilmu yang kupunya dengan belajar berprofesi sebagai seorang arsitek yang baik, sedikit mencuri waktu untuk menjalankan hobiku. Sedikit demi sedikit mulai mencoba dan belajar menulis. Kebetulan di saat “melamun” terkadang ada saja ide kecil yang muncul. Hobi menulis ini bukanlah sebuah kesenangan yang dulu kutekuni. Berawal dari kebiasaan sejak kecil yang gemar membaca. Sedikit banyak ada ide-ide yang mengendap. Kebetulan ada seorang rekan yang memperkenalkanku pada blog. Sedikit demi sedikit endapan ide tersebut kutuangkan melalui tulisan meskipun terkesan masih amburadul. Mohon untuk dimaklumi bahwa apa yang kulakukan adalah sebuah permulaan dan bisa dikatakan diriku adalah seorang pemula dalam dunia tulis menulis.

Mencoba menarik benang merah antara profesi menjadi seorang arsitek pemula dan hobi sebagai penulis pemula ternyata sedikit banyak ada kemiripan. Saat menjadi “arsitek” aku banyak berjumpa orang-orang dengan berbagai profesi, tingkat hidup dan banyak berdiskusi untuk mencari solusi yang terbaik bagi rancangan yang kuajukan. Dalam hal ini aku banyak belajar dari mereka tentang profesi dan pekerjaannya, bagaimana cara berpikirnya, bagaimana untuk menghargai pendapat dan masukan. Point yang sama kutemukan pula pada saat aku menulis di blog. Sering aku sekedar “jalan-jalan” untuk melihat blog dari pengguna lain. Melihat bagaimana mereka menyampaikan ide-ide dan belajar menghargai pendapat orang lain. Terkadang bila ada tulisan yang kuanggap pas, diriku meninggalkan jejak untuk sekedar mengisi buku tamu maupun memberi komentar. Sama-sama berinteraksi dengan orang lain,namun dalam konteks yang berbeda. Di satu sisi memerlukan kehadiran person secara fisik ataupun absolut namun di sisi lain kehadiran tersebut tidak mutlak dan tidak harus berada dalam satu tempat dan waktu yang sama. Barangkali yang lebih penting adalah “kehadiran” yang mampu dirasakan dalam sebuah ruang semu atau maya. Sebuah perkembangann ilmu pengetahuan dan teknologi yang berhasil “mempertemukan” manusia dalam sebuah ruang tak berbatas.

Itulah sedikit potret diri yang bisa kuceritakan dan apa yang kulakukan adalah demi tujuan dan mimpi-mimpiku…

Sisi lain dari diriku bisa dilihat di sini. 

Imajinasi lebih berarti dari sekedar ilmu pasti…(Albert Einstein)

17 thoughts on “Potret Diri

  1. salam kenal, kita sama dalam garis yang tebal : MAGELANG dan SURABAYA.

    Terima kasih telah berkunjung ke blog saya. alam Kenal juga Pak Eko, dan jangan lupa…..ada garis samar di dalamnya, sama-sama menyukai bangunan bersejarah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s