Pasar, Nasibmu Kini



Becek, kumuh dan tak jarang menjadi area dengan tingkat kriminalitas tinggi. Begitulah gambaran umum pasar saat ini. Buah simalakama bagi pemerintah daerah setempat. Di satu sisi pasar tradisional adalah sentra perekonomian rakyat namun di sisi lain kondisinya yang carut marut memberi citra negatif kota. Padahal jika merunut ke belakang, keberadaan pasar tak jarang menjadi cikal-bakal tumbuhnya sebuah kota. Itu yang terjadi pada Surakarta dan Bukittinggi.

Sejarah mencatat pasar-pasar yang dibangun pada awal abad ke-20 di kota-kota besar Hindia Belanda dirancang oleh arsitek terkemuka pada masa itu dan didasari atas rasa hormat terhadap fungsinya sebagai ruang publik serta empati pada tumbuhnya ekonomi rakyat.

Di tengah ketidakberdayaan pasar tradisional, pasar modern (mall, hypermarket, supermarket, minimarket ) tumbuh bak cendawan di musim hujan. Apa yang dihadirkan pasar modern adalah sebuah antitesis pasar tradisional.

Keppres No 96/2000 tentang Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan Tertentu bagi Penanaman Modal dianggap menjadi pemicu maraknya pertumbuhan pasar modern. Keppres tersebut menyatakan bahwa usaha perdagangan eceran merupakan salah satu bidang usaha yang terbuka bagi pihak asing. Regulasi ini tentu menjadi angin segar bagi pemodal asing besar untuk menggarap pangsa pasar di Indonesia. Jumlah penduduk besar dan tingkat konsumsi tinggi merupakan lahan potensial untuk pemasaran produk. Kebijakan pemerintah untuk menanamkan modal sebesar-besarnya masih dominan dibandingkan usaha untuk memperbaiki tata kelola pasar.

Kondisi Pasar

Data AC Nielsen (2006) menyebut bahwa pertumbuhan pasar modern mencapai 31,4% per tahun sementara pasar tradisional justru mengalami penyusutan 8,1% per tahunnya. Gambaran ini makin diperburuk dengan banyaknya kasus kebakaran seperti yang menimpa Pasar Turi Surabaya, 26 Juli 2007 lalu. Kejadian yang mengakibatkan penderitaan bagi 5.017 pedagang di dalamnya. Lebih 3 tahun sejak kejadian itu pembangunan fisik masih dalam tahap pembersihan sehingga banyak pedagang yang pindah lokasi karena tidak adanya kejelasan nasib. Meskipun saat ini sudah dimulai pembangunan fisiknya, namun masih saja menemui berbagai kendala terutama keberadaan pedagang yang tidak semuanya tertampung.

Ada banyak faktor penyebab pasar mengalami keterpurukan salah satunya adalah ketidakberdayaan lembaga pengelola dalam mengendalikan pemanfaatan bangunan gedung. Lembaga pengelola hanya melihat pasar sebagai obyek pemenuhan target pendapatan daerah dan kurang mempedulikan aspek fisik maupun manajemen pengelolaannya.

Ketidakmampuan kota dalam mengelola desakan pertumbuhan baik dalam skala kawasan maupun wilayah turut pula memberi andil. Pasar identik dengan kekumuhan dan kondisi ini menular pada lingkungan sekitarnya. Hal tersebut terjadi karena pedagang dari luar daerah maupun penduduk sekitar begitu bergantung dengan keberadaan pasar sehingga mereka rela tinggal berdesak-desakan.

Faktor lain adalah penerapan regulasi yang masih longgar. Pemodal besar dengan pasar modernnya tentu bisa menekan harga sehingga harga jual yang ditawarkan lebih rendah. Kualitas barang serta lokasi lebih terjamin menjadi daya tarik bagi pembeli, ditambah dengan jam operasionalnya yang terkadang hingga 24 jam. Keadaan ini menyebabkan konsumen lebih memilih pergi ke pasar modern. Sebuah pilihan rasional namun di sisi lain semakin membuat posisi pasar tradisional kian terdesak.

Mengonsep Kembali Pasar

Kondisi pasar tradisional yang makin terpuruk tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Harus ada usaha perbaikan dengan mengonsep kembali pasar tradisional. Di Surabaya, PD Pasar Surya selaku pengelola pasar di Surabaya memang telah melakukan langkah revitalisasi beberapa pasar menjadi lebih modern. Misal Pasar Wonokromo yang direlokasi di Lantai Dasar Bawah (LDB) dan Lantai Dasar Atas (LDA) Gedung Darmo Trade Center demikian pula dengan Pasar Tambahrejo. Namun perlu ditelaah lebih lanjut apakah pemindahan itu mampu memberi nilai tambah untuk kota Surabaya?

Merujuk sejarah masa lalu, Thomas Karsten merancang Pasar Johar di Semarang tahun 1933 dengan menggunakan konstruksi kolom jamur, mendahului Johnson Wax Administration Center di Racine, Wisconsi, Amerika Serikat karya arsitek ternama Frank Lloyd Wright yang baru dibangun tahun 1936. Fakta ini bisa mendorong arsitek di Indonesia untuk menciptakan desain pasar dengan konsep kekinian namun tidak lepas dari konteks lokal . Tidak ada salahnya di dalam perencanaan maupun revitalisasi fasilitas publik seperti pasar menggunakan metode sayembara terbuka. Karena dari sayembara inilah akan didapatkan ide-ide dan pendekatan desain pasar yang baru, segar sehingga mampu menjadikannya tetenger (landmark) sebuah kota. Bukan sekedar desain yang tak menunjukkan keistimewaan apapun selain kilap cahaya dari bahan pelapis sintetisnya.

Di sisi lain manajemen pengelolaannyapun perlu pendekatan modern, misal dengan sistem keuangan terpusat dan penerapan pola pemasaran modern seperti melakukan acara-acara promosi serta penyediaan customer service centre. Pasar harus bisa menciptakan brand image-nya sendiri. Pengonsepan kembali ini penting untuk menciptakan sebuah pasar kota yang bersih dan modern, meskipun kegiatan di dalamnya tradisional.

Penegakan pelaksanaan regulasi terutama Perpres No 117/2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern, Permendag No 53/2008 tentang Pedoman Penataan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan, dan Toko Modern serta Peraturan Daerah No 30 Tahun 2008 tentang Perlindungan, Pemberdayaan Pasar Tradisional dan Penataan Pasar Modern di Jawa Timur perlu mendapat perhatian. Data tentang 122 minimarket dari total 265 minimarket di 22 wilayah Kecamatan di Surabaya yang tidak memiliki ijin perlu ditelusuri dan mendapat perhatian serius (www.beritajatim.com). Jangan sampai regulasi tersebut hanya menjadi kuat di atas kertas namun menjadi ompong dalam pelaksanaannya. Perlu kesungguhan, keberanian dan konsistensi untuk menegakkannya.

Bagaimanapun juga pasar bukan sekedar tempat kegiatan ekonomi semata. Ada aktivitas komunikasi dan rasa saling memanusiakan sesama. Tak terbayangkan jika akhirnya warga tidak mengenal pasarnya, sibuk menjejali ruang pribadinya dengan segala bentuk dan rupa konsumsi hingga rumah-rumah mereka menjadi tertutup (introvert). Di sisi lain, pengelola kotapun menjejali dan menjarah ruang publiknya untuk keperluan komersial semata. Kita tentu tidak ingin jika kelak pasar hanya menjadi bagian cerita masa lalu semata. Semoga apa yang dikhawatirkan Ronggowarsito, seorang pujangga Jawa bahwa “ pasar ilang kumandhange “ tidak menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s