Trowulan, Melacak Jejak Masa Lalu


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“cak Aji, ayok ikutan jalan2 ke trowulan tanggal 4 desember nanti. ada pak Langit Kresna Hariadi lho :)”,  sebuah pesan yang ditulis teman pada dinding (wall) facebook saya.  Trowulan? Saya mencoba menelusuri  lebih detail isi pengumuman sekaligus ajakan itu. Rupanya teman-teman  Forum Arek Arsitektur (FAA) Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya berniat mengadakan perjalanan menyusuri jejak Kerajaan Majapahit di wilayah Trowulan.  Dalam pengumuman yang disebarkan tertulis bahwa penyusuran ini akan menghadirkan Langit Kresna Hariadi, penulis pentalogi Gajah Mada dan Candi Murca serta Ir Andy Mappajaya dari Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya yang banyak bergelut dengan bangunan cagar budaya.

Menurut rencana rombongan berangkat setelah Shubuh, sekitar jam 4.45 WIB agar bisa menikmati kondisi Trowulan yang berkabut. Sebuah pemandangan yang jarang ditemui bagi kami yang terbiasa  tinggal di Surabaya.  Setelah beberapa saat mengalami penundaan, akhirnya rombongan berangkat dari kampus ITS Surabaya pada pukul 5.00 WIB, beberapa peserta lain berangkat dalam rombongan terpisah. Memang benar, kabut tipis menemani perjalanan kami saat memasuki Trowulan, menambah suasana menjadi makin eksotis.  Konon kabut tipis yang sering menyelimuti Trowulan memberi keuntungan tersendiri karena menjadi sebuah sistem pertahanan alam dan membuat ibukota Majapahit di masa lalu ini makin sulit terjamah lawan.

1. Candi  Wringin Lawang
Pukul 6.30 WIB, ditemani kabut tipis di sekitar Trowulan, kami tiba di tujuan pertama Candi Wringin Lawang. Beberapa teman yang berangkat dalam rombongan terpisah mulai berdatangan. Pegawai BP3 Trowulan Bapak Pekik, menyambut kedatangan rombongonan kami.

Kondisi berkabut dan udara yang agak dingin tidaklah menyurutkan semangat kami.  Apalagi di depan kami terhampar bangunan tinggi menjulang dengan warna terakota.  Setelah dilakukan pembukaan sekaligus pengantar dari Langit Kresna Hariadi, kami pun memulai eksplorasi visual dan detail bangunan.  Pemandangan di sekitar candi pada pagi hari, berbalut kabut tipis amatlah elok.  Hamparan hijau pepohonan cukup mendominasi lansekapnya.

Wringin Lawang adalah gapura (pintu gerbang)  berbentuk “bentar” atau gapura tanpa atap. Namun masyarakat sekitar lebih mengenalnya sebagai sebuah  candi. Gapura Wringin Lawang terletak di Dukuh Wringin Lawang, Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.  Tepatnya 11 km dari Mojokerto ke arah Jombang (tidak terlalu jauh dari jalan raya Trowulan).  Penamaan Wringin Lawang berasal dari pohon beringin yang konon ada di dekat gapura ini (dalam bahasa Jawa, wringin berarti beringin, lawang berarti pintu).  Beberapa bagian gapura telah mengalami pemugaran. Hal ini bisa terlihat jelas dari perbedaan susunan bata antara bagian asli dan yang mengalami pemugaran.  Setelah satu jam mengeksplorasi Candi Wringin Lawang, kamipun meninggalkan lokasi dan menuju lokasi kedua, Candi Bajang Ratu.

2. Candi Bajang Ratu
3,5 km dari Candi Wringin Lawang terdapat peninggalan Kerajaan Majapahit lainnya. Bajang Ratu, begitu nama peninggalan yang terletak di Dukuh Kraton, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.   Jika  Wringin Lawang merupakan  gapura berbentuk bentar atau tanpa atap, maka Bajang Ratu adalah gapura berbentuk paduraksa atau gapura yang memiliki atap. Candi ini masih menyimpan banyak hal yang belum diketahui secara pasti, baik mengenai tahun pembuatannya,  raja yang memerintahkan pembangunannya, fungsinya, maupun segi-segi lainnya. Namun beberapa catatan menyebutkan bahwa nama Bajang Ratu pertama kali disebut dalam Oudheidkunding Verslag (OV) tahun 1915. Arkeolog Sri Soeyatmi Satari menduga nama Bajang Ratu erat berkaitan dengan Raja Jayanegara dari Majapahit karena kata ‘bajang’ berarti kerdil. Menurut Kitab Pararaton dan cerita rakyat, Jayanegara dinobatkan tatkala masih berusia bajang atau masih kecil, sehingga gelar Ratu Bajang atau Bajang ratu melekat padanya.

Ada beberapa hal menarik yang saya temui di komplek Candi Bajang Ratu ini. Untuk pertama kalinya saya melihat langsung buah Maja. Buah yang rasanya pahit dan banyak ditemukan di Trowulan, dipercaya menjadi cikal bakal penamaan Majapahit. Buah ini pulalah yang disebut dalam Sumpah Palapa (Hamukti Palapa) Gajah Mada.

Hal menarik lain adalah adanya tulisan “Dilarang Naik” yang diletakan di depan pintu masuk gapura. Setelah saya amati,  tulisan tersebut dimaksudkan untuk menjaga keselamatan pengunjung, mengingat bangunan telah mengalami perbaikan dan penguatan struktur. Perbaikan yang telah dilakukan mencakup penguatan pada bagian sudut dengan cara mengisikan adonan pengeras ke dalam nat-nat yang renggang dan mengganti balok-balok kayu dengan semen cor. Beberapa batu yang hilang dari susunan anak tangga anak tangga juga sudah diganti. Bagian yang berwarna hitam di bagian atas pintu Bajang Ratu merupakan tanda yang menunjukan bahwa bagian tersebut telah mengalami perbaikan serta penguatan struktur.

3. Candi Tikus
Lokasi penjelajahan ketiga adalah Candi Tikus. Tidak seperti bangunan lain yang berbentuk vertikal menjulang, candi tikus merupakan sebuah kolam pemandian atau petirtaan. Kolam berukuran 29, 5 m x 28,25 m hampir seluruhnya terbuat dari batu bata.  Pada bagian tengah kolam terdapat sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Di atas bangunan ini terdapat sebuah ‘menara’ setinggi sekitar 2 m dengan atap berbentuk meru dengan puncak datar. Menara tersebut dikelilingi oleh 8 menara sejenis yang berukuran lebih kecil. Di sekeliling dinding kaki bangunan berjajar 17 pancuran berbentuk bunga teratai dan makara.

Penamaan tikus pada bangunan yang terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto (sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto) ternyata memiliki latar belakang yang unik. Konon pada saat ditemukan dan dilakukan penggalian, di tempat ini banyak dijumpai sarang tikus. Karena banyaknya sarang tikus inilah, maka kolam yang ditemukan dinamai Candi Tikus.

Ada sebuah catatan menarik yang didapat yaitu proses pemugaran kembali peninggalan-peninggalan Majapahit (termasuk Candi Tikus) banyak melibatkan para pekerja (tukang) dari Bali karena pekerja dari Bali-lah yang lebih menguasai teknik membanguns seperti pada peninggalan-peninggalan kerajaan Majapahit. Hal ini makin menguatkan asumsi tentang adanya kaitan erat antara Majapahit dan Bali.

4. Candi Kedaton
Candi Kedaton merupakan sebuah situs yang terletak di  Dusun Kedaton, Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan, Mojokerto.  Sewaktu dikunjungi, situs ini sudah digali untuk diteliti hingga kedalaman kira-kira 80 cm. Sayangnya saat ini keadaannya terbengkalai dan belum dilakukan penggalian lebih lanjut. Masyarakat lebih mengenal situs ini dengan sebutan Sumur Upas karena memang di bagian tengah situs terdapat sebuah lubang mirip sumur.  Pada saat dilakukan penggalian, sempat ditemukan 4 kerangka manusia pada bangunan Candi Kedaton dan sebuah kerangka lagi di dekat Sumur Upas.

Dari hasil penelitian kerangka manusia tersebut menunjukkan bahwa keempat kerangka yang ditemukan di dalam bangunan Candi Kedaton berjenis kelamin wanita, sedangkan yang ditemukan di dekat Sumur Upas berjenis kelamin pria. Penemuan kerangka tersebut menguatkan dugaan bahwa saat itu agama Islam mulai masuk ke Majapahit karena kerangka yang ditemukan dikuburkan sesuai tata cara penguburan Islam, tidak lagi dibakar seperti adat agama Hindu. Ada dugaan sementara bahwa situs Kedaton merupakan bekas kraton Majapahit.

Selain situs Kedaton di sekitar lokasi Desa Sentonorejo terdapat pula beberapa peninggalan lain, misal  umpak atau batu yang dijadikan alas sebuah tiang serta lantai segi enam yang terbuat dari tanah liat, mirip dengan paving stone yang kita kenal saat ini. Peninggalan-peninggalan tersebut makin menunjukan bahwa teknologi pembangunan yang dikuasai nenek moyang kita sudah luar biasa.

5. Pusat Informasi Majapahit (PIM)
Bagian terakhir dari perjalanan penyusuran jejak Kerajaan Majapahit adalah Pusat Informasi Majapahit, yang dulu dikenal sebagai Museum Trowulan.  Sejarah berdirinya Museum Trowulan tak lepas dari peran Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro. Atas prakarsa beliau dan seorang arsitek berkebangsaan Belanda bernama Henry Maclaine Pont maka didirikanlah Oudheeidkundige Vereebeging Majapahit (OVM) pada tanggal 24 April 1924. OVM adalah suatu perkumpulan yang bertujuan meneliti peninggalan-peninggalan Majapahit. OVM menempati sebuah bangunan di Trowulan yang terletak di Jalan Raya antara Mojokerto dan Jombang (sekarang Kantor BP3 Trowulan).

Seiring dengan perkembangan waktu maka OVM memiliki jumlah koleksi yang melimpah bahkan beberapa temuan berasal dari luar Situs Trowulan. Mengingat jumlah koleksi yang makin banyak maka pada tahun 1926 para pemrakarsa OVM berniat mendirikan museum yang kemudian dikenal dengan sebutan Museum Trowulan.

Sejak 3 November 2008, nama Balai Penyelamatan Arca atau Museum Trowulan berganti nama menjadi Pusat Informasi Majapahit (PIM) dan diresmikan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Jero Wacik. Penamaan tersebut didasarkan atas peningkatan kebutuhan masyarakat akan informasi tentang Majapahit baik oleh peneliti maupun masyarakat umum. Sebuah informasi terpadu baik berupa data tertulis, digital, gambar maupun peninggalan pada zaman Majapahit nantinya dapat diakses secara lengkap di Pusat Informasi Majapahit tersebut.

Kami dibantu oleh Bapak Wicaksono Dwi Nugroho, seorang arkeolog dari PIM untuk menjelaskan koleksi-koleksi yang ada.  Kompleks PIM terdiri dari 3 bagian yaitu museum sebagai ruang pamer peninggalan-peninggalan dari gerabah (terbuat dari tanah liat) serta logam. Bagian kedua adalah pendopo terbuka yang memamerkan koleksi patung dan bagian ketiga adalah ruang terbuka yang masih menyisakan proses penggalian dengan bangunan pernaungan di atasnya.  Bagian inilah yang sempat menjadi kontroversi mengingat proses pelaksanaannya sempat menghancurkan beberapa peninggalan yang belum tergali. Kejadian tersebut menjadi catatan bagi rancangan baru bangunan  di area PIM.  Tim perancang yang terdiri dari Adi Purnomo, Adria Ricardo, Danny Wicaksono, Grace Kartono, Jessica Pangastuti, Mira Agusnani, Monica Renata, Paskalis Khrisno Ayodyantoro, Reginald Agus­salim, Varani Kosasih, Yori Antar dan Yurike Sanafayong mencoba mencari solusi desain arsitektur pada sebuah area yang memilki peninggalan benda-benda arkelologis. Desain yang dihasilkan harus mampu memberi pernaungan pada peninggalan di bawahnya, mengingat sebagian besar peninggalan tersebut berbahan bata dan cenderung rentan terhadap panas dan hujan.  Meskipun dalam pelaksanaan banyak menghadapi kendala diantaranya waktu perencanaan yang demikian pendek (hanya dua minggu), padahal yang harus diselamatkan adalah benda-benda cagar budaya yang maha penting. Kendala lain adalah data-data yang kurang lengkap.

Namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkah untuk menghasilkan desain arsitektur yang mampu bersinergi dengan lingkungan sekitarnya. Gagasan awal desain yang ditawarkan adalah membuat sebuah bangunan sementara dengan menggunkan sistem yang sesedikit mungkin menapak pada tanah namun dapat memberi penaungan pada benda-benda arkeologi di bawahnya.  Ide tersebut dimaksudkan untuk mengurangi kerusakan selama proses pengerjaan.  Berpijak dari gagasan awal ini maka dipilih modul rangka sebagai struktur utama bangunan yang akan didirikan.  Rangka-rangka tersebut diproduksi di luar lahan kemudian baru dirangkai di lokasi. Kondisi ini cukup menguntungkan mengingat dalam pelaksanaannya meminimalkan pemakaian alat berat. Modul terkecil yang terdiri dari 8 batang pipa berdiameter 10 cm mempunyai kisaran berat 200 kg untuk bisa diangkat oleh 4 – 6 orang. Rangka-rangka ini dihubungkan oleh sebuah bola (ball joint) berwarna oranye.

Rangka-rangka itu selain menopang struktur membran/ tenda pada bagian atap, berfungsi pula untuk menyangga lantai yang terbuat dari susunan kayu. Dari bagian inilah pengunjung bisa menyaksikan sisa-sisa peninggalan Majapahit dan diharapkan tidak merusak situs yang ada.  Sebuah pola pendekatan desain untuk tetap menjaga keutuhan situs yang masih bisa diselamatkan.

Namun bukan berarti bangunan baru ini tanpa kekurangan. Penggunaan struktur membran/tenda pada bagian atap menimbulkan masalah tersendiri.  Butiran-butiran debu yang tertiup angin banyak menempel pada bagian dalam tenda. Untuk wilayah yang beriklim tropis lembab seperti Indonesia, debu yang sudah terlanjur menempel tidak bisa begitu saja hilang ditiup angin. Uap air yang cukup tinggi di udara membuat debu-debu tersebut melekat pada tenda.

Lepas dari kekurangannya, karya arsitektur pada sebuah situs arkeologi yang direncanakan hanya dalam waktu dua minggu dan memiliki gagasan awal untuk meminimalkan kerusakan serta menyelamatkan benda-benda yang ada di bawahnya perlu mendapat apresiasi tersendiri.

Menjelang pukul tiga sore, rombongan kami bersiap-siap untuk kembali ke Surabaya. Untuk sebuah penelusuran jejak peradaban masa lalu yang luar biasa, waktu yang tersedia memang terlalu singkat. Namun ada secuil kekaguman yang terpahat, bangsa ini memiliki jejak masa lalu nan luar biasa dan potensi tersbut dapat menjadi modal besar untuk sebuah masa depan yang lebih baik. Semoga.

*Tulisan ini merupakan naskah dari tulisan berjudul “Jalan-jalan Ke Situs Majapahit, Melacak Jejak Masa Lalu” yang dimuat dalam Tabloid Hunianku edisi 32, Maret 2012

One thought on “Trowulan, Melacak Jejak Masa Lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s