Syang Art Space


MAGELANG adalah sebuah kota kecil di sisi selatan Propinsi Jawa Tengah, namun keberadaannya sebagai salah satu kota penting dalam dunia seni di Indonesia tidak bisa dikesampingkan. Selain menyimpan banyak karya seni dari maestro seni Indonesia, keberadaan galeri dan museum seni di Magelang-pun layak untuk dinikmati dan dikunjungi. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi salah satu galeri di Kota Magelang. Galeri yang terlihat menyolok dengan dindingnya yang berwarna merah marun.  Syang Art Space, bagitu galeri seni di Jl. MT Haryono No. 2 ini diberi nama.  “Syang” sendiri memiliki makna “cinta”. Untuk menemukan lokasinya tidaklah terlalu sulit, mengingat  bangunan Syang Art Space yang berdekatan dengan Monumen Tentara Pelajar.

Awal ketertarikan saya bermula saat melihat deretan sepeda di depan galeri serta sebuah totem setinggi 2,5 meter. Penempatan karya seni yang cukup cerdik karena menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi.  “Harus ada jadual khusus”, pikir saya. Saya harus mencari waktu yang pas agar bisa menikmati isi dari galeri berwarna merah marun dengan deretan bambu pada bagian fasade-nya. Meskipun Magelang merupakan kota kecil, namun dari beberapa catatan yang saya peroleh, di kota kecil ini terdapat aset seni rupa senilai Rp 2 triliun lebih yang disimpan para kolektor seni. Bahkan setidaknya terjadi transaksi seni senilai Rp 100-200 milyar rupiah tiap tahunnya. Kondisi tersebut tak lepas pula dari keberadaan galeri-galeri seni di kota yang mendapat julukan “kota getuk” ini.

Saya sengaja memilih waktu berkunjung agak pagi, agar bisa lebih leluasa menikmati bangunan sekaligus karya seni yang ada di dalamnya. Sekitar pukul 9, saya tiba di lokasi. Keadaan masih sepi dan hanya ada 1 karyawan perempuan yang bertugas menjaga sekaligus membantu para pengunjung. Setelah berbincang sejenak dan meminta ijin untuk mengambil gambar, maka saya mulai berkeliling galeri untuk menikmati karya yang ada. “Tidak terlalu besar…..”, inilah kesan pertama yang saya peroleh saat mengelilingi bangunan 2 lantai ini. Meskipun tidak terlalu besar namun karya-karya kontemporer yang tersaji tidak bisa dilewatkan begitu saja.  Setelah puas menikmati karya yang disajikan di lantai 1, saya melangkahkan kaki ke anak tangga dan mulai merambah di lantai 2.  Ada hal menarik di lantai 2, selain masih menyajikan koleksi karya-karya seni kontemporer, ternyata terdapat balkon di sisi barat. Semilir angin, hamparan Gunung Sumbing beserta lembah Sungai Progo-nya  serta pemandangan kampung di sekitar menjadi pengalaman visual yang menarik  jika dinikmati dari balkon galeri.

Saat terlena menikmati semilir angin dan eksotika pemandanganya, tiba-tiba saya dikejutkan dengan kedatangan karyawan perempuan yang  bertugas mengelola galeri ini. Saya mendapat pemberitahuan bahwa sang pemilik, Ridwan Muljosudarmo datang dan berkenan untuk ditemui. Sebuah kesempatan tak terduga. Sayapun bergegas menemui beliau dan memperkenalkan diri.

Ridwan Muljosudarmo, arsitek lulusan Universitas Gadjah Mada, kontraktor sekaligus kolektor lukisan. Kecintaannya pada dunia, menjadi salah satu alasan mengubah bangunan yang sebelumnya berfungsi sebagai restoran menjadi sebuah galeri seni.  Di sisi lain, koleksi lukisan dan benda seni yang menumpuk di rumah memerlukan tempat penyimpanan.  Faktor pendorong lainnya adalah dukungan dari dr Oei Hong Djien, kolektor lukisan dan karya seni besar di Indonesia.  Maka sejak 18 Januari 2009 secara resmi Syang Art Space resmi dibuka dan ditandai dengan orasi budaya oleh alm. W.S Rendra.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Tujuan awal didirikannya Syang Art Space, selain dimanfaatkan sebagai sarana pameran juga diperuntukkan bagi tempat berkumpulnya komunitas seni di Magelang.  Ridwan Muljosudarmo mulai mengoleksi berbagai karya seni sejak awal tahun 90-an. Ia bersama teman-temannya yang tergabung dalam “Kelompok Lima” tergolong generasi pertama “murid” Hong Djien. Selain Ridwan, empat lainnya adalah Harmanto, Ongki, Che Kong, dan Kris Dharmawan. Nama terakhir adalah pemilik Galeri Semarang yang kini dianggap sebagai galeri terbesar dan berpengaruh di ibukota Jawa Tengah itu.

Terbuka dan mau berbagi, itulah kesan yang saya tangkap dari Ridwan Muljosudarmo. Berbagai hal tentang pengelolaan galeri, bagaimana sebuah galeri seni hidup dan menghidupi seniman dipaparkannya dengan gamblang. Sembari menunjukkan beberapa katalog dari beberapa rumah lelang.  Di dalamnya berisi pula karya seni seniman negeri ini beserta harganya yang mencapai milyaran rupiah. Selain rutin menggelar pameran dan kegiatan seni lain, dalam periode tertentu karya seni yang ada di galeri diganti agar memberi warna segar.

Di sisi lain, keberadaan Syang Art Space-pun secara perlahan mengalami perluasan fungsi. Jika awal berdirinya hanya dikhususkan sebagai sebuah galeri,  sekarang telah  berkembang  pula sebagai workshop bagi seniman-seniman baru. Kebetulan pada saat saya berbincang dengan pemilik datang salah satu seniman yang karya seninya dipamerkan di ruang galeri. Pemilik menyediakan tempat bagi sang seniman untuk mengerjakan karya seninya di tempat ini. Rupanya balkon di lantai 2 selain berfungsi sebagai ruang bersantai bagi pengunjung berfungsi pula menjadi ruang santai dan menikmati kopi bagi seniman yang sedang mengerjakan karya seninya di tempat ini. Sebuah hubungan yang saling menguntungkan antara seniman dan galeri yang menaunginya.

Setelah cukup lama berbincang dan mendapatkan berbagai informasi tentang dunia seni beserta liku-likunya, tiba waktu bagi saya untuk berpamitan. Saya meninggalkan Syang Art Space tepat di tengah hari dengan membawa kesan yang mendalam. Karya seni kontemporer, keramahan sang pemilik dan kesediannya untuk berbagi menjadi catatan tersendiri dari kunjungan saya ke Syang Art Space.

*Naskah dari tulisan dengan judul yang sama dan telah diterbitkan di Tabloid Hunianku edisi 29, Desember 2011

2 thoughts on “Syang Art Space

  1. mas…. peta lokasi syang art space kok gak bisa ditemukan yaa…. hmmmm…….. punya peta lokasinya ga mas??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s