Indonesiaku Kini, “Sambung Menyambung Menjadi Satu”


“…..Di Ersilia, untuk menciptakan hubungan-hubungan yang menopang kehidupan kota, para penduduknya merentang tali-tali dari pojokan rumah-rumah, putih atau kelabu atau hitam putih berdasarkan penandaan hubungan darah, perdagangan, otoritas, peragenan. Tatkala tali itu menjadi begitu banyak sehingga kau tak dapat lagi lewat di sela-selanya, para penduduk meninggalkannya: rumah-rumah dirobohkan; hanya tali-tali dan penopangnya saja yang tertinggal….”

Nukilan novel Invisible City (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kota-kota Imajiner) karya Italo Calvano sedikit banyak memberikan gambaran wajah dunia yang telah berubah. Pergerakan menjadi semakin cepat. Waktu seakan termampatkan. Pertukaran informasi tidak lagi berpijak pada hitungan bulan, hari dan jam, namun sudah bergeser dalam hitungan detik. Imajinasi geografis yang menghasilkan konsep “desa”, “kota”, “bangsa”, “negara”, “global” dan sebagainya telah menghilang dan lebur. Internetlah yang menghilangkan sekat dan batas geografis itu. Dunia  terlipat dalam sebuah lipatan kecil.  Pelipatan dan pemampatan yang oleh David Harvey disebut dengan time-space compression (pemampatan ruang-waktu).  Hambatan-hambatan ruang (space barriers) dapat diatasi dengan teknologi, sehingga menciptakan percepatan kehidupan.

Internet dan Revolusi Informasi

Tak dapat dipungkiri, internet yang pada mulanya dimanfaatkan untuk keperluan militer telah berkembang dengan pesat.  Tahun 1969 Depertemen Pertahanan Amerika melalui proyek ARPA yang disebut dengan ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), membuat sistem jaringan komputer  yang diperuntukan bagi daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir. Bergulirnya waktu membuat peran internet mengalami pergeseran, bukan hanya untuk keperluan militer semata, namun telah berkembang pada sector-sektor lain.  Penelitian Pew Research Center yang dilakukan di Amerika Serikat  pada anak muda usia 18-29 tahun tahun 2011 menyebutkan bahwa sejak tahun 2009 internet telah mengalahkan televisi sebagai sumber informasi utama.  Bahkan untuk  generasi yang lebih tua, pemakaian internet juga meningkat meskipun pencarian sumber informasi dari televisi masih dominan

Sementara di Indonesia internet mengalami perkembangan yang luar biasa.  Sejak diperkenalkan sekitar tahun 1990-an, internet tumbuh dengan pesat. The Jakarta Post edisi 12 Mei 2011 mencatat bahwa  penyebarluasan pemakaian internet berlangsung cepat dalam beberapa tahun terakhir ini. Per 2010 baru sekitar 12,5 persen dari total penduduk memakai internet namun diperkirakan angka ini akan menjadi tiga kali lipat pada  tahun 2015. Kondisi ini ditunjang dengan hadirnya piranti-piranti digital seperti telepon pintar  (smart phone) yang terjangkau sehingga membantu perluasan akses internet di kalangan anak muda, mengingat 66 persen penduduk Indonesia saat ini sudah memiliki telepon seluler, lebih banyak daripada tingkat kepemilikan piranti ini di Cina.

Pertumbuhan pemakaian internet mengalami akselerasi semenjak munculnya jejaring sosial (social network) yang membuat pengguna menjadi lebih aktif berinteraksi. Keberadaan jejaring sosial seperti facebook, twitter dan media sejenis  bukan sekedar menjadi media “bercakap-cakap” semata, namun telah mengalami perkembangan fungsi yang luar biasa. Mulai dari sarana berbisnis, ajang menampilkan hasil olah digital hingga menjadi media citizen journalism. Seringkali kecepatan dan ketepatan informasi jejaring sosial menjadi rujukan bagi penggunanya.

Banyak peristiwa yang bermula dari ikatan di jejaring  sosial di internet. Mulai aksi penggalangan massa untuk memprotes kebijakan hingga penggulingan rezim seperti yang terjadi di Mesir, Tunisia dan beberapa negara lain.  Apa yang terjadi adalah contoh bagaimana media internet mampu menjadi cikal bakal lahirnya revolusi sosial dan politik.

Internet dan Mobilisasi Massal

Indonesia-pun mencatat bagaimana internet mampu membantu mewujudkan rasa solidaritas yang tinggi.  Hadirnya  kembali pola hidup bebrayan dalam konteks kekinian. Yang cukup fenomenal adalah pengumpulan koin untuk Prita Mulyasari. Bukan sekedar berapa jumlah nominal yang terkumpul, tapi bagaimana masyarakat sudah mampu memberdayakan dan memposisikan dirinya dalam ruang publik.  Ada kekuatan dan kebersamaan untuk bersuara di saat muncul ketidakadilan. Ada fungsi pengawasan publik terhadap pelaksanaan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Meletusnya Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2010 lalu menjadi saksi bisu “kegemilangan” internet. Melalui jejering sosial facebook dan twitter “jalin merapi” kita bisa menyaksikan bagaimana masyarakat dengan cerdas saling berkoordinasi dan memobilisasi kelompoknya untuk melakukan pemantauan, evakuasi dan penyebaran batuan bagi pengungsi. Apa yang kita lihat adalah kecerdasan masyarakat melakukan pengelolaan manajemen bencana secara mandiri. Fakta-fakta ini perlu dicermati penyedia layanan internet untuk meningkatkan layanannya agar “XLangkah lebih maju.”

Keberadaan internet saat ini nyaris tak terbendung. Internet menjadi media yang “XLangkah lebih maju” dibandingkan media lain. Hanya kemiskinan dan rezim otoriterlah yang bisa sedikit menghambat internet sebagai ujung tombak informasi.  Namun keterbukaan informasi ini tak seharusnya membuat kita tercerabut dari akar ke-Indonesiaan yang sudah dimiliki.  Kasus Prita Mulyasari dan kegigihan masyarakat menangani bencana letusan Gunung Merapi adalah contoh bahwa internet tak seharusnya membuat kita tak mengenal lingkungan sekitarnya (asosial).

Seperti nukilan novel Invisible City “…..Tatkala tali itu menjadi begitu banyak sehingga kau tak dapat lagi lewat di sela-selanya, para penduduk meninggalkannya: rumah-rumah dirobohkan; hanya tali-tali dan penopangnya saja yang tertinggal….”.  Internet telah membantu dan mempermudah manusia, dan di saat semua manusia terhubung dengannya, penopang-penopang kita sebagai manusia Indonesia harus tetap kokoh. Jika di masa lalu, kita hanya mengenal lautan sebagai penghubung pulau-pulau Negara Indonesia.  Saat ini internet telah menjadikan pulau-pulau tersebut (kembali) “sambung menyambung menjadi satu” dalam sebuah layar besar bernama Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s