Menuju Surabaya yang Lebih Hijau


Surabaya green and clean, Surabayaku hijau dan bersih, begitu bunyi ungkapan pada baliho yang banyak betebaran di sudut kota. Kata yang bukan sekedar omong kosong belaka, terbukti tahun ini Kota Surabaya meraih Adipura, penghargaan bagi kota terbersih di Indonesia untuk kategori Kota Metropolitan. Namun masih banyak pekerjaan rumah untuk Surabaya jika benar-benar ingin menyebut dirinya ”green and clean.”

Beberapa waktu lalu, Surabaya banyak berbenah untuk mengatasi banjir dengan membangun saluran drainage kota atau lazim dikenal dengan box culvert serta perbaikan jalur pejalan kaki (pedestrian way). Salah satunya di sekitar Jl. Wijaya Kusuma. Namun betapa terkejutnya saat melihat kenyataan bahwa pekerjaan itu mengorbankan beberapa batang pohon yang sudah tumbuh puluhan tahun di lokasi tersebut. Meskipun dengan dalih bahwa pohon yang ditebang akan diganti tetapi kejadian itu perlu dicermati.

Berbicara tentang pohon bukan sekedar tentang kehijauan semata, tetapi bagaimana pula daya dukungnya terhadap lingkungan sekitar. Pohon berbiomassa besar dan rimbun memiliki fungsi penting untuk menyerap CO2, merindangi, menunda jatuhnya air hujan ke tanah. Sedangkan daerah akarnya akan menahan sedikitnya 20 liter air per pohon. Pohon juga merupakan bagian dari watak kota yang dijalani dengan kaki. Adanya kerindangan dan keteduhan menghilangkan kemalasan untuk berjalan kaki. Di sisi lain aktivitas berjalan kaki  di dalam kota membuat orang menjadi ramah dan dapat menyerap lebih banyak realitas lingkungannya. Sungguh ironi, pembangunan sebuah area pejalan kaki justru mengorbankan pohon yang seharusnya menjadi pendukung kenyaman penggunanya.

Pohon di masa pemerintah kolonial Belanda merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari jalan.  Setiap kali terjadi proses pembangunan jalan pasti disertai dengan penanaman pohon dengan massa besar.  Demikian pula penyediaan RTH berupa taman-taman kota.  Namun kondisi saat ini berubah seratus delapan puluh derajat.  Setiap ada kegiatan pembangunan, baik jalan maupun non jalan, penebangan pohon dianggap aktivitas yang lumrah.  Jika ditelusuri perusakan pohon yang terjadi lebih banyak disebabkan kemalasan untuk berpikir secara terperinci dan mendalam.  Padahal andai pelaksana kebijakan mau menggali lebih dalam dan menimbang lebih tenang, banyak jalan keluar yang bisa dipilih tanpa harus menebang pohon. Misal, dengan memindahkannya ke lokasi lain atau justru menjadikan pohon tersebut menjadi bagian perancangan infrastruktur yang akan dibangun.  Perlu pergeseran pola pikir dari sekedar apatah pohon tersebut “boleh” ditebang menjadi apatah pohon tersebut “perlu” ditebang.

Salah satu permasalahan utama  kota dan wilayahnya, termasuk Surabaya di masa mendatang adalah kemacetan yang makin akut.  Pertumbuhan kendaraan bermotor yang pesat tidak diimbangi dengan kecukupan ruas jalan serta penyediaan sarana transportasi massal yang baik. Kemacetan akan berimbas pada tingginya tingkat polusi.  Untuk masuk dalam kategori kota yang sehat ada indikator lingkungan, terutama tingkat polusi yang harus diperhatikan yaitu kondisi ideal  SO2=3 mkg/m³, NO2=12 mkg/m³ serta CO=0,5 mkg/m³.  Peran pohon menjadi penting untuk membantu mencapai kondisi ideal tersebut.

Semoga pembangunan Kota Surabaya di masa mendatang lebih baik dan terkandung kearifan dalam setiap langkah yang ditempuhnya.

 

* Naskah dari tulisan yang dimuat di rubrik Warteg Harian Surya, Selasa 12 Juli 2011.  Edisi cetaknya bisa klik di sini.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s