Balai Kota Surabaya (Staadhuis te Soerabaia), “Total Work of Art”


Gedung-balaikota-surabaya-tahun-1940-an

SURABAYA, kota yang di masa lalu menjadi salah satu pelabuhan penting Kerajaan Majapahit, kota yang dikenal pula karena perjuangan heroiknya saat peristiwa 10 Nopember 1945.  Cerita, legenda dan peristiwa banyak menjadi saksi bisu keberadaan kota pelabuhan tersebut. Banyaknya kejadian dan peristiwa ternyata meninggalkan berbagai jejak di kota yang 31 Mei 2011 ini genap berusia 718 tahun. Salah satu jejak peninggalan yang masih bisa dinikmati adalah Balai Kota Surabaya di daerah Ketabang (alamat resmi yang dipergunakan Jl. Taman Surya no. 1). Gedung dua lantai yang dirancang arsitek G.C. Citroen dengan pelaksana H.V. Hollandsche Beton Mij, dibangun pada masa walikota kedua Surabaya G.J. Dijkerman serta menghabiskan dana hingga 1000 gulden. Sejak dibangun hingga sekarang, gedung dua lantai ini tidak banyak mengalami perubahan. Perubahan paling menyolok adalah pergantian bahan atap dari sirap (di masa awal pembangunannya) dengan genteng. Banyak cerita yang bisa dicatat dari bangunan yang memiliki gedung utama berukuran panjang 102 m, lebar 19 m dan ditempati secara resmi tahun 1927 ini. Sementara fungsinya tidak mengalami perubahan karena sampai saat ini masih dipergunakan sebagai kantor Walikota Surabaya.

Latar Belakang dan Sejarah
Menyusuri Balai kota Surabaya adalah perjalanan menyusuri penggal sejarah arsitektur Indonesia. Begitu pentingnya posisi G.C Citroen dalam perkembangan arsitektur Indonesia, hingga H. P Berlage dalam bukunya “Mijn Indische Reis” (perjalanan saya ke Hindia Belanda) mengatakan, “…..Bandung de staad van Wolff Schoemaker en Aalbers is, Batavia van Hulswit, Fermont en Ed. Cuypers, Semarang van Karsten dan is Surabaya de staad van C . Citroen” – Kota Bandung secara arsitektur adalah milik Wolff Schoemaker dan Aalbers, Batavia adalah milik Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers, Semarang milik Karsten dan Surabaya adalah kota milik C. Citroen. (Handinoto, Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940)). Sebuah pernyataan wajar, mengingat begitu banyaknya karya arsitektur G.C Citroen yang tersebar dan mewarnai Kota Surabaya. Balai kota Surabaya adalah salah satu karya masterpiece-nya.
Namun tahukah Anda bahwa Balai kota Surabaya ini mempunyai sejarah perancangan dan pembangunan yang memakan waktu cukup lama? Kompleks bangunan yang bisa kita nikmati saat ini sebenarnya merupakan bagian belakang dari keseluruhan desain yang sudah direncanakan G.C Citroen.

Handinoto mencatat bahwa rancangan pertama gedung Balai kota Surabaya diajukan Citroen tahun 1915-1916, mengingat sejak menjadi Gemeente (1 April 1906), Surabaya belum memiliki gedung pemerintahan sendiri. Lokasi awal yang dipilih adalah stadstuin (di depan Tugu Pahlawan). Rancangan ini tidak terwujud karena terkendala biaya dan masalah-masalah lainnya. Tahun 1920, rancangan Balai kota Surabaya mengalami perubahan karena terjadi pemindahan lokasi ke daerah Ketabang (lokasi Balai kota sekarang). Barulah di tahun 1925 sebagian rancangan Balaikota Surabaya selesai dibangun dan apa yang kita lihat sekarang sebenarnya adalah rancangan yang tidak terselesaikan. Citroen merancang Balai kota dalam satu kompleks yang terdiri dari 4 massa bangunan. Keempat massa bangunan tersebut dirancang untuk mengelilingi sebuah taman pada bagian tengahnya. Karena terhambat faktor biaya, akhirnya hanya massa bagian belakang saja yang terbangun (massa bagian belakang inilah yang sampai sekarang masih bisa dilihat dan dinikmati). Berdirinya Balai kota Surabaya ini sekaligus menandai perpindahan aktivitas pemerintahan kota di luar tembok atau wilayah Kota Atas (Bovenstad) setelah sebelumnya berada di wilayah Kota Bawah (Benedenstad) – sekitar Jl Rajawali, Ampel dan Jl. Kembang Jepun. Balai kota ini pernah pula menjadi tempat penyambutan Ratu Juliana dan Pangeran Bernhardfeesten di bulan Januari 1937 ketika berkunjung ke Surabaya. Di sisi lain gedung Balai kota yang selalu difungsikan sebagai pusat pemerintahan, (pada masa penjajahan Belanda benama Burgemeester’s Kantoor , pada zaman penjajahan Jepang menjadi kantor Shi-Co dan saat ini menjadi Balai kota Surabaya) merupakan saksi bisu sejarah perjuangan anggota Dewan Kota (R. Ng. Soebroto, Ashabul Djojopranoto , Ramamin Nasution Gelar Sutan Kemala Pontas dan Cak Doel Arnowo) dalam memperjuangkan nasib bangsanya.

G.C Citroen dan Pengalaman Arsitekturalnya
Dalam mendesain Balai kota Surabaya, G.C Citroen selaku arsitek menerapkan sebuah pendekatan rancangan yang selaras terhadap iklim tropis. Latar belakang bekerja selama 13 tahun di Biro Arsitek B.J. Quendag di Amsterdam dan membantu Prof. Klinkhamer serta B.J. Qüendag dalam merancang gedung “ Nederlandsch Indische Spoorweg Mij” (sekarang dikenal dengan Gedung Lawang Sewu di Semarang) banyak memberinya pengalaman arsitektural. Solusi desain untuk memecahkan masalah pencahayaan dan penghawaan alami melalui “double gavel” (seperti atap susun), gallery (selasar yang mengelilingi) bangunan serta orientasi bangunan yang sebagian sisinya tidak menghadap arah barat-timur adalah apa yang dia peroleh dari proses membantu desain Gedung Lawang Sewu tersebut. Prinsip dasar bangunan yang peka terhadap iklim tropis tersebut dia terapkan dalam perancangan Gedung Balai kota Surabaya.

Balai kota Surabaya yang berbentuk memanjang yang merupakan respond dari desain yang peka terhadap lingkungan tropis. Massa bangunan ini sebenarnya adalah bagian belakang dari keseluruhan desain yang sudah dirancang Citroen. 3 massa bangunan lainnya belum sempat terbangun karena kendala biaya (foto koleksi FRO)

Arsitektur yang Selaras dengan Iklim Tropis
Begitu melihat bangunan Balai kota, yang pertama kali tertangkap adalah bentuknya yang memanjang. Ternyata Citroen memang merancangnya dengan pemikiran yang matang. Bentuk denah memanjang yang membujur ke arah timur-barat (orientasi bangunan menghadap utara selatan) memiliki tujuan untuk meminimalisir bagian dinding yang terkena panas matahari. Hal ini berpengaruh pada pengurangan panas di dalam ruangan gedung. Selain itu arah hadap utara-selatan juga bermanfaat untuk memaksimalkan terjadinya sirkulasi udara silang (cross ventilation). Permasalahan sistem penghawaan dan pencahayaan alami dalam ruang dipecahkan dengan bentuk atap yang “seakan” terkesan bertumpuk (double gevel) dengan lubang ventilasi di antara kedua celah atap. Lubang inilah yang menjadi jalan masuknya cahaya dan udara ke dalam ruangan.

Rupanya pemecahan desain yang selaras dengan iklim tropis tidak hanya berhenti sampai di situ. Kita bisa berkeliling gedung ini secara nyaman dengan menyusuri selasar (façade gallery)nya dan menikmati keindahan detail ornament baik berupa detail ornament pada kolom, penataan pola lantai, kusen kayu jati maupun detail-detail unik lain. Desain selasar (façade gallery) adalah salah satu bentuk desain yang tanggap dengan kondisi setempat. Keberadaannya yang mengelilingi bangunan berfungsi untuk mengurangi tampias air hujan, mengingat curah hujan di Indonesia yang demikian tinggi serta sinar matahari yang langsung mengenai permukaan dinding. Kondisi inipun memberi keuntungan lain yaitu membuat kusen bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu jati menjadi lebih tahan lama dan berumur panjang.

Salah satu detail ornament eksterior Balai kota Surabaya. Perhatikan di antara ornament itu tampak kisi-kisi untuk ventilasi

Total Work of Art
Totalitas G.C Citroen dalam merancang Balai kota bukan hanya bagaimana membuat karya arsitekturnya mampu selaras dengan iklim tropis namun sebuah karya arsitektur yang direncanakan dan dirancang secara menyeluruh , mulai dari façade (tampilan bangunan), interior hingga detail perabotnya. Rentang waktu desain yang panjang (1915-1925) banyak memberi keuntungan pada sang arsitek, hingga dia bisa mencurahkan seluruh kreasi dan daya imajinasinya.

Tahun 1920-an merupakan masa pemantapan kekuasaan pemerintah Kolonial Belanda untuk menancapkan pengaruhnya baik dalam bidang politik, ekonomi maupun sosial di Hindia Belanda (Indonesia). Kondisi tersebut memberi pengaruh pula dalam bidang arsitektur. Perkembangan bidang pelayaran (kapal api) pada awal abad ke 20 berdampak pada waktu tempuh Eropa dan Batavia menjadi lebih singkat. Perjalanan dari Eropa melalui pelabuhan Genoa ke Batavia hanya memerlukan waktu 3 minggu. Situasi ini membuat sumber-sumber referensi arsitektur seperti majalah yang mengulas perkembangan arsitektur modern “De Architect”(1890-1918), “Architectura” ( 1893-1915, 1921-1926) maupun majalah arsitektur modern Belanda seperti “Wendingen” (1918-1931) – yang beraliran Amsterdam School dan “De Stijl” ( 1917-1932) – yang beraliran De Stijl, bisa dibaca oleh para arsitek di Hindia Belanda pada waktu itu. Mengingat lebih dari 90% arsitek yang berpraktek di Hindia Belanda adalah orang Belanda, maka dalam perkembangannya aliran-aliran tersebut banyak berpadu dengan arsitektur vernacular Belanda maupun arsitektur lokal setempat . Dalam situasi perkembangan dunia arsitektur modern awal abad ke-20 inilah gedung Balai kota Surabaya dirancang.
Sebagai seorang arsitek berkebangsaan Belanda, G.C Citroen tidak melupakan akar arsitektur vernacular Belanda-nya. Pengaruh tersebut terasa ketika melewati area masuk, kita akan menemukan 2 buah tower (menara) kembar di sisi kiri dan kanan. Keberadaan 2 buah tower ini banyak ditemui pada desain arsitektur di Belanda pada masa itu. Sementara pengaruh arsitektur modern terlihat pada bagian façade-nya banyak mempergunakan ornament-ornament geometris sederhana dalam posisi vertikal, pemakaian ornament dalam posisi vertikal ini untuk memberi proporsi yang lebih seimbang pada bangunan, mengingat bentuk bangunan yang memanjang secara horizontal.

Interior lobby dengan detail pertemuan antara kolom dan balok yang benar-benar diperhatikanMemasuki bagian lobby, kita akan disuguhi sebuah rancangan yang benar-benar memperhatikan detail.  Pengaruh aliran Amsterdam School begitu terasa. Aliran ini melihat bahwa sebuah bangunan (karya arsitektur) sebagai Total Work of Art dimana desain interiorpun harus mendapat perhatian yang sama dengan eksterior dan menjadikannya sebagai gagasan dan rancangan arsitektur yang terpadu serta merupakan satu kesatuan utuh. Hasilnyapun sama sekali bukan merupakan hasil kerja atau produk mekanis.

Bangunan bersejarah bukan sekedar benda mati, diam dan hanya dibiarkan teronggok berdebu. Tak jarang mereka adalah saksi bisu perjalanan sejarah sebuah bangsa. Sebuah catatan yang harus dibuka, diurai untuk memberinya benang merah. Menjadikannya pelajaran untuk generasi berikut.

*Tulisan ini merupakan naskah asli dari tulisan berjudul “Balai Kota Surabaya – Staadhuis te Soerabaia” yang dimuat di Tabloid Hunianku edisi no 22

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s