Taman yang Tak Lagi Nyaman


TANGGAPAN orang Indonesia terhadap taman sudah muncul sejak masa pra-Islam. Taman dianggap sebagai lambang kehidupan manusia yang lebih tinggi, tempat manusia, pencipta dan alam menyatu. Taman banyak muncul di hampir semua jenis sastra Jawa (dalam pewayangan kita mengenal nama Taman Sriwedari). Denys Lombard menyatakan bahwa taman di Jawa sebenarnya merupakan lambang dari dua unsur, bumi dan air. Dari dua hal inilah semua unsur pemikiran rancangan taman muncul (Taman : Surga di Bumi).

Berjalannya waktu dan pergeseran perilaku ternyata turut berpengaruh terhadap fungsi dan makna taman sebagai sebuah ruang publik. Taman (yang seharusnya) bisa menjadi tempat manusia untuk bertemu, berjalan-jalan, bercakap-cakap dan menyatu dengan alam sekitarnya mulai mengalami kemorosotan fungsi. Ruang dan budaya publik itu kini telah terkomersialisasi dalam ruang komersial/privat di balik bingkai sebuah mal perbelanjaan serta dunia tema tersimulasi. Ruang publik komersial itu telah membalikkan situasi antara “yang di luar” dan “yang di dalam”.

Taman-taman yang kini hadir dalam kemegahan fisiknya, justru ibarat “tempat sampah” yang berbahaya. Tak jarang menjadi lokasi prostitusi, tempat hidup mereka yang makin terpinggirkan, sebuah simbol ketidakmampuan kota dalam melindungi warganya.

Taman-taman itu kini tercerabut dari akarnya. Tak lagi menjadi tempat manusia, pencipta dan alam-nya untuk menyatu….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s