Gedung Bundar, Jejak Arsitektur Art Deco di Kota Magelang


Gedung Bundar di Jl Sriwijaya Magelang

Magelang, kota kecil di sisi selatan Jawa Tengah, ternyata menyimpan kekayaan bangunan bersejarah. Jejak itu dapat terlihat hingga kini pada beberapa bangunan peninggalan, mulai dari perkantoran, peribadatan, pendidikan, kesehatan, rumah tinggal, kompleks militer, jaringan jalan dan transportasi serta saluran air (drainage).

Berada pada 7° Lintang Selatan, 110° Bujur Timur serta ketinggian ± 375 m di atas permukaan laut, secara geografis posisi Kota Magelang menjadi strategis karena terletak di tengah pulau Jawa sehingga lokasinya mudah dijangkau. Kestrategisan tersebut bisa dilihat pada posisinya yang berada di persimpangan poros utama: Yogyakarta – Semarang, Yogyakarta – Wonosobo, Semarang – Kebumen – Cilacap, hanya berjarak 76 km dari Semarang dan 42 km dari Yogyakarta. Kota Magelang juga dikelilingi gunung-gunung dan bukit-bukit seperti, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Perahu. Gunung Telomoyo, Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Andong, Perbukitan Menoreh serta “Bukit Tidar” yang terletak di jantung kota.

Kondisi ini menyebabkan Kota Magelang berhawa sejuk sehingga di masa lalu menjadi salah satu kota tujuan tempat tinggal bagi orang-orang Belanda. Tak mengherankan jika banyak bangunan peninggalan masa kolonial. Salah satunya adalah Gedung Bundar, sebuah bangunan berlanggam Art Deco di Jl. Sriwijaya. Tidak terlalu sulit untuk mencari gedung bundar ini. Bentuknya yang bundar terlihat berbeda dibandingkan bangunan-bangunan di sekitarnya dan menjadikan bangunan ini mudah dikenali. Letaknya yang berada di tepi jalan, hanya berjarak 500 meter di sisi timur Jl Pemuda (pusat Kota Magelang, masyarakat menyebut kawasan ini Pecinan) memudahkan siapa saja yang akan mengunjunginya.


Sejarah Art Deco

Art Deco, salah satu langgam dalam dunia seni (termasuk arsitektur) yang penerapannya sangat luas. Kita bisa melihat hasilnya mulai dari pakaian, poster hingga peralatan rumah tangga. Namun, tahukah anda bagaimana langgam ini berkembang? Art Deco tumbuh di tengah berlangsungnya revolusi industri. Sebuah perubahan yang ditandai dengan penemuan-penemuan baru serta pesatnya perkembangan teknologi. Perkembangan kecepatan teknologi tersebut diwujudkan dalam bentukan desain berupa garis-garis lengkung maupun zig-zag.

Seni Art Deco adalah sebuah seni terapan. Dalam dunia arsitektur langgam ini tidak memberikan sebuah solusi desain baru. Langgam arsitektur art deco hanya memberikan sentuhan baru pada permukaan (kulit luar) bangunan saja, melalui ornamen, bentukan geometris, tekstur serta permainan cahaya.

Perancis, salah satu negara penggalang pembaruan di bidang arsitektur dan seni-lah yang menjadi cikal bakal munculnya istilah Art Deco. Gerakan pencarian langgam baru yang melanda berbagai negara di Eropa, dihimpun dalam sebuah pameran berskala internasional di Paris. Pagelaran yang diberi nama Exposition Internationale des Arts Decoratifs Industriels et Modernes atau International Exhibition of Industrial and Modern Decorative Arts berlangsung selama 6 bulan. Pameran dengan peserta negara-negara Eropa ini menampilkan karya seni dan arsitektur modern yang mencerminkan kemajuan industri pada masa itu.

Ternyata penyelenggaraan pameran ini berpengaruh pada perkembangan dunia seni dan arsitektur. Bukan hanya di Eropa saja namun telah merambah pula ke belahan dunia lain, seperti Amerika, Australia, New Zealand, dan Asia termasuk Indonesia. Di latar belakangi pameran di Paris tahun 1925 itulah, pada tahun 1966, sebuah katalog terbitan Musée des Arts Decoratifs di Paris yang saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema “Les Années 25” memunculkan istilah Art Deco. Hal ini semakin dipertegas dengan dipublikasikannya buku “Art Deco” karangan Bevis Hillier di Amerika tahun 1969.

Perkembangan Art Deco di Indonesia

Pengaruh gerakan Art Deco juga mewarnai Indonesia. Arsitek-arsitek Belanda-lah yang membawanya. Beberapa nama tercatat memberikan kontribusi berkembangnya langgam arsitektur ini di bumi pertiwi. Nama-nama tersebut di antaranya Prof. Ir. Charles Proper Wolff Schoemaker (C.P. Wolff Schoemaker) dan Albert Frederik Aalbers (A.F. Aalbers). Namun perkembangan langgam arsitektur art deco di Indonesia memiliki keunikan tersendiri. Tampilan arsitektur art deco di Indonesia cenderung lebih sederhana, ditandai dengan garis-garis lengkung dan bentuk silinder. Contohnya bisa dilihat pada desain Villa Isola karya Schoemaker (sekarang bernama gedung Bumi Siliwangi dan difungsikan sebagai gedung rektorat IKIP/Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung) serta Hotel Savoy Homann Bandung karya dari A.F. Aalbers. Bentuk sederhana dari Arsitektur Art Deco di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh aliran De Stijl dari Belanda yang pada masa itu cukup mendominasi perkembangan arsitektur di sana.

Sejarah Gedung Bundar dan Pengaruh Villa Isola

Menyusuri Jl Sriwijaya ibarat menyusuri jejak masa lalu. Di kanan kiri jalan beberapa bangunan berarsitektur Indis siap menyambut. Rata-rata dalam kondisi cukup terawat. Untuk menemukan gedung bundar tidak terlalu sulit. Bentuk bundar yang berbeda dengan bangunan di sekitar serta posisinya yang agak menjulang menjadikannya mudah dikenali. Memasuki komplek gedung bundar suguhan bangunan berlanggam art deco dan halaman yang cukup luas nan asri sudah menanti. Bangunan dengan luas 350 m2 dan berdiri di atas tanas seluas 1705 m2 ini memang ibarat miniatur Villa Isola. Hal ini bisa dipahami mengingat sang pemilik, Tan Gwat Ling sering bepergian ke luar kota. Sebagai agen barang konsumsi (teh, kopi, gula, tembakau dll) yang cukup besar di Magelang pada masa itu mengharuskan Tan Gwat Ling sering berkeliling untuk memperoleh barang-barang konsumsi yang dibutuhkan dan menjualnya kembali. Salah satu kota tujuannya adalah Bandung.
Rupanya Kota Bandung memberi pengalaman visual dan memori tersendiri. Ketertarikannya pada desain Villa Isola menyebabkan Tan Gwat Ling berkeinginan membangun rumah miliknya dengan mengadopsi karya Schoemaker itu. Tahun 1934 dimulailah proses pembangunan rumah yang dikemudian hari lebih dikenal dengan sebutan “Gedung Bundar”. Keunikan gedung bundar adalah tampang (fasade) bangunan yang terdiri dari 3 buah massa bangunan berbentuk bundar (silinder) serta ornamen dan kaca yang didesain mengikuti bentukan plastis tersebut. Bentuk plastis dan cenderung lentur, merupakan gambaran kemoderenan teknologi arsitektur. Lengkungan yang terjadi merupakan sebuah ekspresi gerak, rasa optimisme dan penerapan teknologi moderen (pada masa itu). Bentuk silinder, tampilan sederhana dan ditandai dengan ornamen lengkung adalah tipe langgam arsitektur art deco yang banyak berkembang di Indonesia.

Membayangkan kondisi gedung bundar di masa awal berdirinya tentu menjadi hal menyenangkan. Posisi bangunan yang agak lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitar ditunjang topografi tanah yang landai (menurun) di sisi timur tentu memberikan pemandangan yang eksotis. Sayang, gambaran tersebut susah didapatkan di masa sekarang. Pertumbuhan bangunan di lingkungan sekitar membuat eksotika pemandangan itu hilang.

Di sisi lain, masa revolusi perjuangan ternyata meninggalkan potongan cerita pada gedung bundar ini. Saat balatentara Jepang berkuasa, gedung bundar sempat dirampas dan sang pemilik, Tan Gwat Ling, dijebloskan ke penjara. Namun ketika Jepang meninggalkan Magelang dan digantikan Belanda tidak serta merta mengembalikan kepemilikan gedung ini, meskipun Tan Gwat Ling dibebaskan dari penjara. Gedung ini justru beralih penguasaan kepada pihak Belanda. Barulah di tahun 1951, pemerintah RI mengembalikan gedung bundar kepada Tan Gwat Ling.

Tan Gwat Ling sendiri meninggal tahun 1969, setahun kemudian sang istri menyusul. Dikarenakan kedua orang anaknya, Yongki Hartanto dan Lily Swanto tinggal di Jakarta, maka pengelolaan gedung bundar ini diserahkan kepada adik Tan Gwat Ling. Sekitar tahun 1970-an, gedung ini sempat beralih fungsi menjadi tempat kos. Namun saat ini fungsinya telah dikembalikan lagi menjadi rumah tinggal dan tempat peristirahatan keluarga. Kondisi fisik gedung bundar sendiri masih sama dengan pada saat awal dibangun dan nyaris tidak ada perubahan. Komitmen keluarga besar Tan Gwat Ling untuk tetap merawat dan melestarikannya menjadi modal utama bagi terjaganya salah satu bangunan cagar budaya di Kota Magelang ini. Di saat banyak bangunan bersejarah yang dihancurkan dan beralih fungsi, komitmen untuk mempertahankan gedung bundar ini ibarat air yang menyejukkan. Bagaimanapun juga bangunan bersejarah yang terawat akan memberi harapan bagi masa depan konservasi arsitektur dan citra kota itu sendiri.

* Tulisan ini merupakan naskah asli dari tulisan dengan judul sama yang dimuat di Tabloid Hunianku. Tulisan edisi cetaknya bisa klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s