Mengurai Carut Marut Kemacetan


Kemacetan

LEWIS Mumford (1963) menyebutkan bahwa karakter pola hidup manusia adalah campuran antara pola hidup tumbuhan yang selalu menetap dan pola hidup binatang yang selalu bergerak. Kesamaan kepentingan untuk bisa diam dan bergerak itulah yang menjadi salah satu alasan terbentuknya sebuah kota. Kota pada dasarnya adalah hasil keputusan strategis manusia untuk mengakhiri cara hidup mengembara dan menetap pada satu lokasi terpilih. Seiring berjalannya waktu, kota seperti menjadi sebuah mesin industri, terus berputar tanpa henti. Kota menjadi sebuah tempat mobilisasi yang masif, semuanya (harus) serba cepat. Sayangnya mobilitas tinggi tersebut tidak didukung infrastruktur maupun sistem transportasi massal yang baik hingga timbul permasalahan kemacetan yang kompleks.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dalam kurun waktu 10 tahun (1999-2008) angka pertambahan jalan rata-rata 2,3% per tahun. Sementara laju pertumbuhan kendaraan (semua jenis) selama 10 tahun (1999-2008), rata-rata mencapai 25,8% per tahunnya. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut dan tidak dipikirkan secara matang, yang terjadi adalah problem kemacetan akut dimana-mana, bukan hanya di kota metropolis seperti Jakarta saja.

Sistem Transportasi Massal

Merencanakan sebuah sistem transportasi massal ibarat menyusun potongan-potongan gambar terpisah yang berdiri sendiri agar menjadi gambar utuh dan saling berkaitan. Semua aspek harus diletakkan dalam sebuah sistem yang terintegrasi, saling terkait, komprehensif serta memiliki pentahapan tertentu. Sistem transportasi massal yang andal mampu meningkatkan interaksi dan mendukung kota tersebut sebagai ruang bertemunya antar manusia. Pembuatan cetak biru rencana transportasi jangka panjang tidak boleh lepas dari prinsip 3C, continuing (berkelanjutan), comprehensive (merangkum berbagai aspek) dan coordinated (terkoordinasi).

Mengurai Carut Marut Kemacetan (Surya edisi Rabu, 24 Nopember 2010)

Mengurai Carut Marut Kemacetan (Surya edisi Rabu, 24 Nopember 2010)

Kenyataannya, saat ini masyarakat cenderung memilih memakai kendaraan pribadi. Faktor keamanan, kenyamanan, keterjangkauan serta biaya sosial dan ekonomi yang terkesan tinggi menjadi penyebab mereka enggan memakai sarana transportasi massal. Padahal pemakaian kendaraan pribadi justru menceraiberaikan bagian-bagian kota serta mengasingkan individu dalam ruang kaku dan menghambat interaksi sosial. Tak terkendalinya pertambahan kendaraan pribadi berimbas pada makin meluasnya area kemacetan.

Di sisi lain, pelaju (commuter) pun ikut memperberat beban kemacetan. Pelaju adalah orang yang melakukan perjalanan ulang alik untuk kepentingan bekerja. Mereka umumnya berasal dari daerah penyangga (di Jakarta umumnya berasal dari wilayah Bodetabek, Surabaya sebagian besar berasal dari Sidoarjo, Gresik dan Mojokerto). Mereka bekerja di kota yang secara ekonomis lebih menjanjikan (seperti Jakarta dan Surabaya), namun memilih tetap tinggal di daerah asalnya. Arus ulang-alik inilah yang ikut menyumbangkan kemacetan.

Bus Rapid Transit

Salah satu sarana transportasi massal yang bisa dijadikan solusi adalah Bus Rapid Transit (BRT). BRT adalah sebuah sistem transportasi massa dengan menggunakan fasilitas bus sebagai alat pengangkutnya (di Jakarta lebih dikenal dengan Trans Jakarta). Bogota (Kolombia), salah satu kota yang menerapkan BRT, hanya menyediakan Trans Millenio (sebutan BRT di Bogota) sebanyak 20% dan sisanya adalah transportasi konvensional. Namun 40% dari pengguna BRT ini adalah pemilik kendaraan pribadi. Jalur BRT sepanjang 60 km mampu mengangkut 1 juta orang perhari. Sebuah angka yang cukup signifikan untuk mengurangi kemacetan di jalan.

Untuk menentukan koridor BRT perlu dilakukan beberapa kajian antara lain, demand angkutan umum, kondisi jalan di sepanjang koridor serta kondisi eksisting dan rencana pengembangan tata ruang. Keberadaan angkutan kota (angkot) bisa dimanfaatkan sebagai moda transportasi pendukung yang melayani wilayah pinggiran (sub urban) dan tidak terlayani BRT. Angkot yang memiliki jalur berhimpitan dengan koridor BRT difungsikan sebagai feeder dari koridor tersebut. Penataan kembali rute angkot yang ada (rerouting) mutlak dilakukan agar sinkron dan saling menunjang.

Mass Rapid Transit

Mass Rapid Transit (MRT) menjadi solusi lain mengurangi beban kemacetan, terutama yang disebabkan oleh penglaju, sekaligus menjadi penghubung kota penyangga (buffer zone) dengan kota tujuan utamanya. MRT memanfaatkan sarana kereta sebagai alat pengangkutnya. Jakarta dan Surabaya sebenarnya sudah memiliki embrio MRT yaitu KRL (Jakarta) dan Komuter (Surabaya).

Permasalahannya adalah jalur yang ada masih tumpang tindih dengan kereta api regular. Hal ini akan mengurangi tingkat kecepatan dan ketepatannya. Banyaknya jalur yang bersimpangan dengan jalan arteripun akan menimbulkan permasalahan kemacetan baru. Pembuatan jalur ganda (double track) menjadi alternatif solusi mengatasi masalah kecepatan dan ketepatan. Untuk jangka panjang, monorail adalah jalan keluarnya. Singapura, salah satu negara yang menerapkan MRT telah menikmati hasilnya, 63% perjalanan di Singapura dilakukan dengan transportasi massal, dimana 20%-nya menggunakan MRT (Lim, 2004).

Berkurangnya beban kemacetan ternyata juga memberi keuntungan lain. Penelitian terhadap tingkat kemacetan di Jakarta menyebutkan bahwa rata-rata, 40% dari waktu perjalanan seorang pelaju hanya dihabiskan untuk berhenti karena macet. Hal ini berakibat pada timbulnya rasa frustasi dan perasaan tertekan. Dengan meminimalkan waktu berhenti karena macet ternyata berdampak pada peningkatan produktivitas kerja.

Usaha mengintegrasikan moda transportasi memang bukan satu-satunya cara untuk mengurai carut marut kemacetan. Perlu kebijakan dan aturan pendukung lainnya, namun kemauan kuat pemangku kekuasaan (pemerintah), konsistensi dan tetap bertahan terhadap apa yang sudah direncanakan menjadi faktor paling menentukan. Semoga kesadaran itu masih ada.

Tulisan ini merupakan naskah lengkap dari tulisan yang dimuat dengan judul yang sama di Harian Surya, edisi Rabu, 24 Nopember 2010. Versi cetaknya bisa klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s