Menuju Surabaya yang Lebih Manusiawi


Tulisan ini adalah versi asli dari artikel berjudul “Menuju Surabaya Lebih Manusiawi” yang dimuat Koran Surya edisi Rabu, 27 Oktober 2010

Ubin pemandu di Jalan Rajawali

No part of the built-up environment should be designed in a manner that excludes certain groups of people on the basis of their ability an frailty.” Ketiadaan diskriminasi dan adanya rasa keadilan menjadi salah satu acuan yang dipersyaratkan Perserikatan Bangsa-Bangsa bagi berlangsungnya sebuah proses pembangunan. Pemerintah Indonesiapun tidak ketinggalan meratifikasi kesepakatan bersama tersebut melalui UU no 4 tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, yang secara tegas menyatakan “barang siapa yang tidak menyediakan aksesibilitas dan tidak memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama bagi difabel sebagai peserta didik pada satuan, jalur, jenis dan jenjang pendidikan dikenakan sanksi administrasi.” Ada sebuah jaminan dan kepastian perlindungan hak bagi mereka yang berkebutuhan khusus (difabel) untuk dapat menikmati laju pembangunan.

Bagaimana dengan Surabaya

Surabaya sebagai sebuah kota metropolis, tidak bisa begitu saja mengabaikan mereka yang berkebutuhan khusus (difabel). Keberadaan infrastuktur yang bisa dinikmati semua kalangan adalah mutlak dan menjadi salah satu tolok ukur untuk mengetahui apakah Surabaya sudah layak menjadi kota yang manusiawi. Pemerintah Kota Surabaya telah menyediakan beberapa fasilitas untuk membantu mereka yang berkebutuhan khusus agar bisa ikut menikmati hasil pembangun. Salah satunya dengan menyediakan ubin pemandu bagi mereka yang memiliki keterbatasan penglihatan (tunanetra). Namun apakah infrastruktur tersebut sudah maksimal dan tepat guna, adalah hal yang perlu dikaji ulang. Memang di beberapa lokasi pejalan kaki di Surabaya (misal Jalan Rajawali, Jl Raya Gubeng ) telah menyediakan jalur untuk mereka yang berkebutuhan khusus (difabel). Namun pemandu yang berupa ubin bergaris vertikal serta berwarna hitam itu terkesan dipasang “ala kadarnya” dan kurang memperhatikan tanda-tanda pendukung yang seharusnya ada.

Menuju Kota yang Lebih Manusiawi

Berbicara jalur pejalan kaki (pedestrian way) adalah membicarakan sebuah ruang . Ruang, sesuatu yang “umumnya” dipersepsikan secara visual. Mengapa dipersepsikan secara visual? Penelitian Setyo Adi Purwanto menyebutkan bahwa indera visual pada manusia “normal” berkontribusi menyampaikan 85 persen informasi. Namun bukan berarti mereka yang memiliki keterbatasan visual tidak berhak untuk menerima informasi. Sangat mungkin mereka yang memiliki keterbatasan visual justru mampu menerima informasi dengan memaksimalkan kemampuan non visualnya (penciuman, peraba dan perasa, pendengaran). Kuncinya adalah tersedianya informasi yang memadai, bisa dimengerti, diorganisasi dan diingat. Dalam hal ini media informasi yang informatif menjadi kuncinya.

Beberapa alternatif cara bisa dipergunakan untuk membantu mereka yang memiliki keterbatasan visual dalam menangkap informasi lingkungannya. Salah satunya dengan memaksimalkan sistem sentuhan yang dimiliki. Aristoteles mengkategorikan kemampuan menyentuh ini menjadi lima kelompok, tekanan (pressure), kehangatan (warmth), dingin (cold), sakit (pain) dan kinestasia (kinesthesis). Sementara Sven Hesselgren dalam The Language of Architecture membagi sistem sentuhan ini menjadi 3 kelompok yaitu:
1. Tactile surface sensation, kemampuan untuk merasakan dengan cara menyentuh (touch) menggunakan jari-jari tangan melalui medium (misal tongkat).
2. Haptic perception or form, kemampuan untuk merasakan dengan cara meraba menggunakan telapak tangan dan berguna untuk mengetahui bentuk (shape) dan ukuran sesuatu (measurement).
3. Kinesthetic, sebuah pengalaman akan pergerakan tubuh yang dipengaruhi oleh pergerakan otot. Hal ini berhubungan erat dengan ketajaman sudut atau kurva, kecepatan bergerak, perubahan arah gerak, kasar-halusnya tekstur lantai dan naik-turunnya level lantai.

Untuk memaksimalkan kemampuan sentuhan, diperlukan adanya media bantu. Media pertama adalah dengan merujuk pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum nomor 30/PRT/M/2006 tentang Pedoman Teknis Fasilitas dan Aksesibilitas Pada Bangunan Gedung dan Lingkungan. Permen tersebut menyebutkan bahwa media bantunya berupa pemanfaatan tekstur dari ubin pengarah dan ubin peringatan.

Ubin pengarah dan peringatan memiliki dua tekstur berbeda yaitu garis dan titik. Informasi mengenai arah dan jalur yang aman ditempuh disampaikan ubin pengarah melalui tekstur garisnya. Sedangkan tekstur titik-titik pada ubin peringatan akan memberi informasi tentang adanya perubahan situasi di sekitarnya, misal adanya belokan, simpang tiga maupun empat. Jalur pemandu (guiding blocks) dari ubin pengarah dan peringatan dapat dimanfaatkan pada beberapa fasilitas publik misal di depan jalur lalu lintas kendaraan, fasilitas persilangan dengan perbedaan ketinggian lantai (leveling), pintu keluar/masuk maupun area penumpang pada terminal transportasi umum, pedestrian yang menghubungkan jalan dan bangunan serta pemandu arah dari fasilitas umum ke stasiun transportasi umum terdekat. Untuk membedakannya bisa melalui warna, yaitu warna kuning atau jingga.

Media kedua berupa denah timbul, yang berfungsi untuk membantu proses menemukan jalan (wayfinding). Prinsip denah timbul sama dengan peta biasa yaitu menunjukkan keberadaan atau posisi. Informasi yang disampaikan berupa fitur timbul yang berisikan kata-kata dalam huruf braille,simbol serta keberadaan ubin pengarah-peringatan. Media ketiga adalah penanda timbul. Penanda ini dipasang pada fasilitas umum misalnya halte. Penanda timbul ini berisikan informasi nomor, tujuan dan jadual kedatangan bus. Penanda tersebut bisa juga dilengkapi dengan informasi suara (audio).

Keberadaan fasilitas publik dan ruang khalayak yang bisa dinikmati seluruh warga tanpa terkecuali akan membuat Surabaya menjadi kota yang lebih manusiawi dan beradab. Di sisi lain, adanya jalur pejalan kaki (pedestrian way) yang tidak diskriminatif, bisa dinikmati semua khalayak, aman dan nyaman, akan menggairahkan (kembali) aktifitas berjalan kaki. Sebuah aktifitas kecil yang dapat menjadikan manusia lebih peka dalam memahami lingkungan sekitarnya. Semoga…

Artikel dalam versi cetaknya bisa di klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s