CCCL-Surabaya, “Sejarah Arsitektur yang Gelap”


CCCL

CENTRE Culturel et de Cooperation Linguistique, Surabaya atau lebih dikenal dengan CCCL Surabaya. Bangunan yang terletak di Jl. Darmo Kali 10, ternyata menyimpan latar belakang sejarah arsitektur yang gelap, kabur dan bisu. Bermula dari sebuah rumah tinggal namun kemudian dihuni dan dikelola oleh Pemerintah Prancis dan difungsikan sebagai Pusat Kebudayaan Prancis sekaligus sebagai kantor Konsulat Jenderal Prancis perwakilan Surabaya sejak tahun 1967.

Gelap, kabur dan bisu. Mengapa? Ada beberapa literatur, yang menyikapi secara berbeda dalam melihat sejarah dan latar belakang bangunan ini. Timoticin Kwanda dalam “Inventarisasi Bangunan Kuno di Surabaya” (1991) menyebutkan bahwa arsitek dari gedung yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1920 adalah C. Citroen (salah satu arsitek penting dalam perkembangan Kota Surabaya saat itu). Dikisahkan bahwa penghuni pertama kali adalah keluarga keturunan Tionghoa dan lantas berganti dengan keluarga Belanda. Disebutkan bahwa pemilik terakhir, sebelum dikelola oleh pemerintah Prancis adalah Trimaryono, S.H dan Ir. Pranowo.

Dalam literatur tersebut disebutkan bahwa C. Citroen merancang karyanya bertolak dari langgam De Stijl. Perkembangan arsitektur Belanda awal abad 20, banyak diwarnai oleh gerakan arsitektur modern yang diwakili dua aliran sebagai arus utama. Aliran romantik dari Amsterdam dan kemudian memicu berkembangnya Amsterdam School tahun 1912, dengan suatu model bentuk yang ambisius dan dekoratif. Umumnya menggunakan bahan alami. Pendekatan rasional dari Rotterdam, pada tahun 1917 berkembang menjadi De Stijl. Nama yang berasal dari majalah De Stijl yang di-editor-i oleh seorang pelukis, desainer dan penulis Belanda, Theo van Doesburg. Karakter arsitektur ini adalah asimetri, adanya elemen geometri yang sederhana, penggunaan atap datar dan pemakaian garis-garis horizontal dan vertikal yang dicat dengan warna netral seperti putih dan abu-abu muda.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dari uraian di atas dan berdasarkan fakta yang ada, nampaknya pemasangan label bahwa langgam arsitektur CCCL Surabaya yang bergaya De Stijl menjadi terpatahkan. Alih-alih terdapat eksplorasi garis-garis vertikal dan horisontal, yang ada justru kekayaan ornamen, seperti yang terlihat pada akhiran kolom dan pertemuan dinding dan langit-langit. Pahatan simbol bunga teratai, secara konsisten dipakai sebagai elemen kunci di tiap detail bangunan ini. Belakangan sebagai penghormatan, pihak CCCL menjadikannya sebagai brand.

Sementara Handinoto dalam “Perkembangan Kota dan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1870-1940)” (1996) menyebutkan bahwa Fritz Joseph Pinedo (yang dibantu oleh J.J van Dongen) sebagai arsitek bangunan yang awalnya dimiliki oleh keluarga Tan Hie Sioe ini. Tahun pembangunannya sendiri dipatok tahun 1913 (hal ini cukup masuk akal jika melihat tulisan di bagian depan bangunan “ANNO 1914”). Fritz Joseph Pinedo, arsitek keturunan Portugis-Brasil adalah arsitek generasi pertama dari Belanda yang datang ke Surabaya, bersama dengan Marius J. Hulswit, Westmaes dan Herman Smeets. Selain mendesain gedung CCCL, Fritz juga membuat Nuts Spaarbank yang sekarang menjadi gedung BII di pojokan Jl. Veteran dan Jl Cendrawasih. Arsitek Kolonial generasi pertama di Surabaya ini kebanyakan menerapkan gaya bangunan arsitektur Belanda pada waktu itu dan sedikit mencoba beradaptasi dengan iklim Surabaya. Ciri-ciri yang bisa dilihat adalah penggunaan banyak gevel pada tampak depannya (seperti gaya arsitektur vernakular Belanda yang terdapat di tepi sungai), penggunaan “tower” pada pintu masuk atau tempat strategis lainnya (diilhami dari menara-menara gereja Cavinist di Belanda), serta detail elemen arsitektur yang diambil dari Belanda.

Sumber lain (Jessup, Helen, 1988 “Netherlands Achitecture in Indonesia 1900-1942”) menyebutkan bahwa bangunan ini memiliki percampuran style (langgam), “…and nostalgic mixture of style”. Percampuran antara pengaruh gaya arsitektur Belanda dengan Neoklasik.

Toh, perbedaan persepsi tidak akan mengurangi apresiasi terhadap karya yang ada. Bukankah arsitektur memang (seharusnya) demikian? Sebuah embrio yang hidup dan multitafsir, membuat sesuatunya menjadi bergerak dan terus bergerak, hidup dan terus hidup dalam mencari jati dirinya.

Foto diambil tanggal 6 Maret 2010.

Foto-foto lain bisa klik di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s