Surabaya, Silang Budaya


Surabaya-Silang Budaya

Di bagian tertentu Surabaya kini, kita masih bisa mendengar jantung kota Jawa tua ini berdetak: di pelabuhan Sungai Kalimas. Dari sini, seperti juga sejak 300 tahun yang lalu, kapal-kapal melayari Nusantara sampai ke pulau-pulau terpencil. Di tempat seperti ini, kata “tanah air” mendapatkan arti yang sesungguhnya, ketika elemen air dan tanah bersatu menjadi “tanah air” bagi penghuninya, yang bukan hanya orang Jawa, tetapi juga orang-orang dari belasan kelompok etnis lain (Chesneaux 1969).

SUNGAI Kalimas, di tempat inilah akhir abad 17 menjadi saksi perkembangan Kota Surabaya. Berawal dari perjanjian tanggal 11 November 1743 antara Gubernur Jenderal Belanda, van Imhoff dengan raja Paku Buwono dari Mataram, menyebabkan VOC memiliki kedaulatan penuh atas kota Surabaya. Kedaulatan inilah yang menjadi titik awal perkembangan kota bawah Surabaya (benedenstad).

Sungai Kalimas pulalah, saksi diberlakukannya undang-undang Wijkenstelsel (sistem surat jalan) tahun 1843, dimana kota bawah dibagi dalam wilayah permukiman berdasarkan etnisnya. Sisi Barat jembatan Merah (Kalimas) menjadi permukiman orang Eropa, sedangkan sisi timur diperuntukkan bagi masyarakat Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) yang terdiri dari permukiman masyarakat Tionghoa (Chineesche Kamp), Arab (Arabische Kamp) dan permukiman masyarakat Pribumi yang menyebar di sekitar hunian orang Tionghoa dan Arab.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Meskipun setelah tahun 1920-an, undang-undang Wijkenstelsel dihapuskan, namun kebijakan ini berdampak pada segregasi kawasan hunian bagi orang Eropa, Arab dan Tionghoa yang masih terlihat jelas hingga saat ini, terutama pada karakter bangunannya yang berbeda walaupun terkadang dapat dijumpai adanya percampuran langgam arsitektur pada beberapa bangunan. Toh pembagian ini juga memberi nilai positif yaitu keanekaragaman khas budaya di tiap-tiap wilayah huniannya. Sebuah khasanah yang sangat berharga untuk Surabaya, kota Silang Budaya…

…Semua itu adalah alur jejak sebuah kota pesisir Jawa yang tidak memiliki waktu pendirian yang jelas. Yang pasti hanyalah di lokasi yang sama pada zaman Majapahit di abad ke-14 terdapat sebuah pelabuhan besar bernama Ujung Galuh…(von Faber 1953)

717 tahun Surabaya…(31 Mei 2010)

Sumber :
Timoticin Kwanda, Potensi dan Masalah Kota Bawah
Nanang Purwono, Mana Soerabaia Koe
Jo Santoso, (Menyiasati) Kota tanpa Warga

*Ucapan terima kasih dan apresiasi untuk antusiasme warga masyarakat di sekitar Jl Rajawali (Heerenstaat) , Pengelola Klenteng Hok An Kiong di Jl Coklat (Tepekong) yang berkenan memandu, Penjaga Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria di Jl Kepanjen (Roomkatholikstraat) atas ijin untuk mendokumentasikan bangunannya, Bapak-Ibu di Jl Bibis yang berkenan berbagi cerita sejarah kediamannya.

*Foto-foto lain bisa klik di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s