RINDAM IV Diponegoro, Perubahan Morfologi Kota dan Arsitektur Transisi


Perumahan di Kompleks RINDAM IV Diponegoro

“In each period of transition, religion and social changes are behind the changes in architectural forms, as well as new inventions and the development of new techniques”(Sigfried Gideon).

PERALIHAN dari abad 19 ke abad 20 di Hindia Belanda dipenuhi oleh banyak perubahan dalam masyarakatnya. Modernisasi dengan penemuan baru dalam bidang teknologi, perubahan sosial akibat dari kebijakan politik pemerintah kolonial pada waktu itu juga mengakibatkan perubahan bentuk dan gaya dalam bidang arsitektur serta morfologi (bentuk dan struktur) kota-kota di dalamnya.

Berakhirnya “Perang Jawa” (Java Oorlog, 1825-1830) yang ebih dikenal dengan Perang Diponegoro, mengakibatkan kas negara pemerintah kolonial mengalami kebangkrutan. Pemerintah kolonial mengambil kebijakan baru (terutama dalam bidang ekonomi) untuk mengisi kekosongan kas negara. Kebijakan bidang ekonomi tersebut dikenal sebagai Cultuurstelsel (Sistem Tanam Paksa, 1830-1870). Demi mendukung kebijakan yang telah diputuskan serta memberikan jaminan keamanan lebih baik, maka diambil kebijakan untuk mengganti sistim perbentengan, yang terbukti kurang efektif dan justru menguras keuangan negara dengan sistim baru, yaitu mendirikan kota-kota “Garnizun” di pedalaman Pulau Jawa.


Handinoto mencatat bahwa sebelum Pulau Jawa dikuasai Inggris (1811-1816), tatanan militer sudah dibagi menjadi tiga daerah teritorial besar. Wilayah pertama meliputi Anyer hingga Cirebon, wilayah kedua meliputi Cirebon sampai Rembang dan wilayah ketiga melingkupi Rembang hingga Banyuwangi. Kedudukan komando militer dari masing-masing wilayah terletak di Batavia, Semarang dan Surabaya. Namun sesudah tahun 1880, ada pergeseran dalam strategi pertahanan di Jawa. Sistim pertahanan dibangun untuk mengantisipasi musuh di dalam negeri. Oleh karenanya, dipilih kota-kota garnizun di tiap-tiap propinsi, Malang untuk wilayah Jawa Timur, Magelang di wilayah Jawa Tengah serta Bandung dengan garnizun di Cimahi untuk Jawa Barat. Selain ketiga kota tersebut masih terdapat beberapa kota yang menjadi pusat militer, seperti Purworejo (Jawa Tengah) dan Ngawi (Jawa Timur). Namun dalam perkembangannya peran dari Purworejo dan Ngawi diperkecil meskipun tidak dihapuskan sama sekali.

Magelang, salah satu kota yang ditetapkan sebagai kota garnizun dalam perencanaan kompleks militernya ternyata memiliki keunikan tersendiri. Disertasi Ronald Gilbert Gill menyebutkan bahwa komplek garnizun yang dibangun di kota ini secara keseluruhan tidak mendominasi sebagai sebuah kota tersendiri atau bagian kota yang khusus. Hal ini disebabkan pada saat garnizun tersebut dibangun, pemerintah kota telah memutuskan akan melanjutkan pembangunan berdasarkan karakteristik morfologi asli dari bentuk dan struktur Kota Magelang, yaitu berdasarkan jalan kota yang sudah ada.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hal lain yang perlu dicatat bahwa pembangunan kompleks militer di kota-kota tersebut sekaligus menandai periode peralihan, era arsitektur transisi yang berlangsung antara tahun 1890-1915. Sebuah era peralihan dari arsitektur Indische Empire (abad 18 dan 19) menuju arsitektur kolonial modern (setelah 1915). Disertasi Dr. Charles Thomas Nix Bijdragen Tot Vormleer Van De Stedebouw In Het Bijzonder Voor Indonesia” (Sumbangan Tentang Pengetahuan Bentuk Dalam Perancangan Kota Terutama di Indonesia) bahkan menyebutkan bahwa gaya arsitektur transisi (1890-1915), itu sebagai jiplakan gaya arsitektur Romatiek di Eropa (Handinoto).

Fakta lain yang bisa ditelusuri, bahwa perubahan morfologi pada kota-kota di Jawa dari awal abad ke 19 sampai pertengahan abad ke 20, sama sekali tidak pernah melibatkan penduduk Pribumi setempat dalam pengambilan keputusannya. Jadi wajar jika setelah kemerdekaan banyak kota-kota di Jawa kehilangan jejak masa lampaunya.

*Foto-foto lain bisa klik di sini

One thought on “RINDAM IV Diponegoro, Perubahan Morfologi Kota dan Arsitektur Transisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s