Arsitektur Kota: Estetika Merangkul Ruang dan Waktu


oleh Aant S. Kawisar

BOCAH berumur lima tahun, dalam lomba lukis anak-anak dengan tema menggambar kota belum lama ini di Yogyakarta, menghadirkan pemandangan kota yang berbeda dari peserta lainnya. Di mana rata-rata peserta melukis kota dalam bentuk deretan gedung-gedung bertingkat, jalan raya yang membelah di tengah dengan jejeran tiang listrik, mobil, sepeda, becak, dan pejalan kaki. Sementara bocah berumur lima tahun itu, menyapu tiga perempat bidang kertas gambarnya dengan crayon hijau, dan di sudut kiri atas, ia goreskan sederetan kecil garis-garis vertikal menyerupai pagar, dan tiga buah layang-layang di atasnya dalam komposisi warna merah, ungu dan kuning. Ketika didesak oleh ibunya untuk diselesaikan, agak marah bocah tersebut berkata:

“Ini kan sudah…sudah selesai kok. Kan biar lapang tempat aku dan teman-teman bermain….”

Dalam ketercengangan, saya teringat almarhum pelukis Affandi. Di sekitar awal tahun 80-an, Affandi pernah melukis salah satu sudut kota Jakarta. Tepatnya di sekitar Hotel Indonesia. Dan yang menjadi aikon pemandangan di tempat itu, adalah bundaran air mancur dan patung selamat datang yang terletak di tengah-tengah muara simpang jalan. Oleh Affandi, bundaran air mancur itu, lengkap dengan patungnya ia pindahkan ke pojok kiri, ke luar dari jalan raya. Ketika ditanya, dengan entengnya ia menjawab: “Biar tidak macet….”

Dari dua peristiwa yang kelihatan amat sederhana tersebut, sebagai bentuk ekspresi, ia mengingatkan kepada kita bahwa wajah sebuah kota memang merupakan bagian dari ekspresi masyarakatnya. Bahkan oleh bocah berumur lima tahun sekalipun. Secara intuitif ia sesungguhnya merupakan penyikapan terhadap ruang. Dalam konteks ruang kota, pelukis Affandi dan bocah berumur lima tahun itu, setidaknya telah mengajarkan kepada kita salah satu bentuk dari penyikapan tersebut. Betapapun sederhananya.

Kita tahu, kota adalah tempat di mana impian dan harapan manusia menampakkan wujudnya yang paling nyata. Wujud tersebut bisa dilihat melalui penampilan dan wajah arsitektur kota. Dengan kata lain, penampilan dan wajah arsitektur kota bukanlah sekadar tatanan fisik yang bersifat tekhnis arsitektural semata, akan tetapi ia sekaligus merupakan pencerminan dari karakter sosio-budaya yang membentuknya. Mulai dari hal-hal yang paling praktis sampai kepada hal-hal bersifat substansial. Oleh karena itu pengertian civis atau city, istilah yang diberikan oleh masyarakat Romawi kuno untuk kota, mengandung pengertian “beradab”, yang dalam bentukan katanya menjadi civil dan civilized. Maka tidak heran apabila eksistensi sebuah kota selalu diukur dari tinggi-rendahnya tingkat peradaban yang membentuknya. Sebagaimana citra kekayaan peradaban Barat itu sendiri, yang secara historis terbentuk melalui dinamika kota atau polis di Athena, pada masa Yunani kuno. Kualitas spasial dan organisasi sosial umumnya hadir di ruang-ruang publik. Teater, stadium, kuil peribadatan sampai agora (pasar yang juga berfungsi sebagi forum publik) adalah tipologi-tipologi fungsi yang hadir untuk merespons pentingnya ruang publik. Pada titik ini, peran arsitektur di dalam membangun dan membentuk sebuah ruang peradaban, yang pada gilirannya merupakan citra dari peradaban itu sendiri, akan sangat menentukan.

Dalam bukunya, Wastu Citra, 1988, Y.B. Mangunwijaya di antaranya menulis: …Arsitektur yang berasal dari kata architectoon / ahli bangunan yang utama, lebih tepat disebut vasthu / wastu (norma, tolok ukur dari hidup susila, pegangan normatif semesta, konkretisasi dari Yang Mutlak ), lebih bersifat menyeluruh / komprehensif, meliputi tata bumi (dhara), tata gedung (harsya), tata lalu lintas (yana) dan hal-hal mendetail seperti perabot rumah, dll. Total-architecture tidak hanya mengutamakan aspek fisik saja, yang bersifat rasional, teknis, berupa informasi tetapi mengutamakan pula hal-hal yang bersifat transendens, transformasi, pengubahan radikal keadaan manusia. Oleh sebab itu citra merupakan bagian yang sangat penting dalam berarsitektur. Citra menunjuk pada sesuatu yang transendens, yang memberi makna. Arti, makna, kesejatian, citra mencakup estetika, kenalaran ekologis, karena mendambakan sesuatu yang laras, suatu kosmos yang teratur dan harmonis.

Secara garis besar sejarah perkembangan konsep arsitektur dunia memang hampir keseluruhannya meletakkan masalah penyikapan terhadap ruang sebagai pusat perhatian utama. Dan dalam perkembangannya saat ini, konsep ruang yang ditawarkan umumnya mengacu pada dinamika perubahan, baik secara ekologis, biologis, maupun kosmologis. Konsep simbiosis Kurokawa, pemikiran Green Architecture-nya Jencks dan Broadbent, dan Wastu Citra Mangunwijaya tersebut di atas, secara jelas dan komprehensif menyoroti masalah tersebut. Bersamaan dengan itu, pertimbangan untuk menyikapi latar belakang sosio-budaya, juga merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembentukan desain.

Filosofi simbiosis dalam arsitektur dijabarkan Kurokawa secara mendetail dalam bukunya Intercultural Architecture – The Philosophy of Symbiosis (1991). Arsitektur simbiosis sebagai analogi biologis dan ekologis memadukan beragam hal kontradiktif, atau keragaman lain, seperti bentuk plastis dengan geometris, alam dengan teknologi, masa lalu dengan masa depan, dll. Seperti dikatakan Jencks (pada pembuka tulisan), arsitektur simbiosis merupakan konsep both-and, mix and match dan bersifat inklusif. Kurokawa mengadaptasi sain kontemporer (the non-linear, fractal, dll.) pun mengambil hikmah dari pemikiran Claude Levi-Strauss berkait dengan pernyataan bahwa tiap tempat, wilayah, budaya punya autonomous value dan memiliki struktur masing-masing walau dengan ciri yang berbeda. Dengan demikian mengakomodasi keragaman adalah suatu keharusan. Perlu ada jalan untuk menjembatani perbedaan karakter wilayah, budaya dan lainnya. Simbiosis diupayakan untuk secara kreatif menjaga hubungan harmonis antar tiap perbedaan, merupakan intercultural, hybrid architecture.

Apabila kita cermati, terdapat persamaan cara pandang antara pemikiran arsitektur kontemporer tersebut dengan tradisi arsitektur yang hidup di tanah air kita. Di Padang misalnya, keberadaan rumah Gadang secara arsitektural adalah pengejawantahan dari falsafah “alam terkembang menjadi guru” yang di dalamnya mencakup pengertian dan kesadaran masyarakat setempat terhadap keselarasan dengan alam dan tatanan sosio-budaya serta keyakinan agama yang dianutnya. Begitu pun dengan konsep Hasta Kosala Kosali pada masyarakat Bali. Di Yogyakarta, faham serupa bahkan telah menjadi pijakan pertama sejak kota ini di bangun oleh Pangeran Mangkubumi atau kemudian bergelar Sri Sultan Hamengkubowo I. Sebagai arsitek yang merancang dan sekaligus mendirikan Keraton yang menjadi cikal-bakal kota Yogyakarta, kesadaran dan pemahaman akan keselarasan antara ekologi dan kosmologi merupakan bagian terpenting dari prinsip arsitekturnya. Dan masih banyak lagi contoh yang bisa kita kemukakan, yang menegaskan bahwa “citra” arsitektur yang dimaksudkan tersebut sesungguhnya merupakan wacana dialektis yang secara substansial sekaligus mencoba menawarkan bentuk keselarasan antara kekayaan tradisi di satu sisi, dan tuntutan perubahan zaman di sisi yang lain. Ini adalah sebuah bentuk kesadaran untuk meletakkan sekaligus menyikapi arsitektur sebagai pemkiran yang matang dalam pembentukan ruang sesuai konteks masyarakat yang hidup di dalamnya, dari waktu ke waktu, pada masing-masing wilayah.

Menurut pandangan Heidegger, citra yang terkandung dalam arsitektur meliputi, di antaranya, langgam, terdiri dari perbedaan pola dasar atau style yang menjadi pilihan; dan tradisi, yang merupakan penyesuaian yang bersifat lokal dari pola dasar.

Sementara dalam konsep The everyday yang amat populer belakangan ini, yang untuk pertama kalinya dilontarkan oleh filsuf Henri Lefebvre dari Perancis, menawarkan sebuah bentuk pemahaman menyangkut hubungan antara arsitektur dan urbanisme, kesadaran akan ruang dan kehidupan sosial di dalamnya.

Pendeknya, kota sebagai ruang publik, dalam pendekatan arsitektur memang bukanlah sekadar penerapan dari rumus-rumus geometri atau sejenisnya yang meletakkan sebuah bangunan sebatas konstruksi tekhnis dan formal semata. Akan tetapi, ia sekaligus merupakan bagian dari proses dialektika serta interaksi budaya yang berlangsung terus-menerus dalam dinamika perubahan dan perkembangan zaman. Arsitektur kota sebagai muara dari perkembangan arsitektur secara keseluruhan pada akhirnya merupakan wujud dari hasil penyikapan terhadap perubahan dan perkembangan tersebut. Karena itu, penampilan dan wajah arsitektur kota dapat dilihat sebagai artikulasi sekaligus cerminan dari tingkat kesadaran dan pemahaman masyarakatnya di dalam memaknai dinamika perubahan, baik secara sosio-budaya, sosio-ekonomi, maupun sosio-politik.

Dari sedikit uraian tersebut, lalu bagaimanakah wajah dan penampilan arstitektur kota di tanah air kita, terutama dengan kota-kota besarnya?

Seperti negara-negara berkembang lainnya, Indonesia memulai periode pembentukan arsitektur kotanya dengan mengambil mentah-mentah The International Style yang menjadi trend dunia pada waktu itu, yakni berupa bangunan tinggi. Dan bangunan tinggi pertama di Indonesia adalah ‘Hotel Indonesia’ di Jakarta (1959) karya arsitek Amerika Abel Sorensen dan Wendy Sorensen yang diresmikan pada tanggal 5 Agustus 1962, serta ‘Wisma Nusantara’, juga di Jakarta, karya arsitek Jepang dengan ketinggian 30 lantai dengan menerapkan teknologi tahan gempa. Kedua bangunan ini merupakan titik awal dari perkembangan arsitektur kota di Indonesia, dan sangat berbeda jauh dengan bangunan-bangunan bergaya kolonial yang ada sebelumnya, baik di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, dan sebagainya. Hingga puncak perkembangannya terjadi pada pertengahan era kekuasaan Suharto. Gedung-gedung tinggi tumbuh seperti jamur di musim hujan.

Tentang “The International Style” tersebut, ia adalah perwujudan dari aliran arsitektur Modern dengan ideologi “Form, Follow, Function”-nya. Trend arsitektur ini telah menjadi rezim arsitektur sampai awal tahun 1980-an, terutama di Amerika Serikat dan secara latah diikuti negara-negara berkembang lainnya. Gaya seperti ini tidak terlalu mendapat tempat di kota-kota Eropa yang umumnya adalah kota-kota tua yang memiliki sejarah yang panjang mengenai seni dan gaya dalam arsitektur, serta masyarakatnya sangat apresiatif dan memiliki pemahaman mengenai sejarah kotanya. Sehingga tidak mudah untuk menghancurkan sebuah bangunan dan diganti dengan bangunan baru yang lebih tinggi.

Dari kenyataan tersebut, bisa dikatakan bahwa bentuk arsitektur kota yang dijadikan model sekaligus kiblat pembangunan di Indonesia, sejak awal tampaknya bersandar sepenuhnya pada citra kota-kota besar Amerika, yang di dalamnya mengandung makna kemajuan. Kemajuan yang sepenuhnya bertumpu pada citra kemajuan ekonomi dan tekhnologi, yang secara artifisial ditandai dengan berdirinya gedung-gedung tinggi menjulang. Akibatnya, arus perkembangan arsitektur kota cenderung mengarah hanya pada satu muara, yakni membangun “pasar”, dan mengambil bentuknya yang paling nyata berupa menjamurnya arsitektur bergaya ruko, mall, dan sejenisnya, yang keseluruhannya tampil dalam bentuk dan rupa yang seragam, dari satu kota ke kota lainnya. Keseragaman yang dihasilkan dari kolaborasi antara kapitalisme dan birokrasi, yang menggantungkan perencanaan dan desain pada kekuasaan, teknologi, dan terutama pada kekuatan ekonomi dengan meningkatnya pasar yang tidak beraturan.

Sampai di sini, maka apa yang menjadi kerisauan seorang Mangunwija untuk membangun citra arsitektur secara kontekstual kiranya menemukan pangkal sebab-musababnya. Sebentuk kerisauan yang mencoba mengoreksi arah perkembangan arsitektur sebagai media untuk membangun citra “kemajuan” bangsa dalam prespektif budaya yang bersifat dialektis dan menyeluruh. Citra yang mencakup pilihan estetika, di mana arsitektur sebagai ungkapan bentuk memiliki persenyawaan dengan visualisasi, keindahan, ekspresi, dan makna. Dan bagi Indonesia yang kaya akan khasanah tradisi arsitekturnya, maka sesungguhnya ia sekaligus merupakan usaha dan ajakan untuk menyikapi ruang dengan pendekatan estetika yang merangkul masa lalu dan masa kini dalam dinamika perkembangan dan kemajuan zaman, dalam sebuah harmoni keberagaman.

Dan, memang, tidak gampang.***

(Artikel ini telah dimuat di Pararupa Art Journal, edisi 01 2008).

*) Penyair dan pemimpin redaksi Pararupa Art Journal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s