Mengisi Lubang di “Hati” (Sebuah Catatan Kecil Untuk “Relativitas-Arsitek di Ruang Angan dan Kenyataan”)


Relativitas-Arsitek di ruang angan dan kenyataan

Relativitas-Arsitek di ruang angan dan kenyataan

At the time when I thought life was most important,
it was painful for me to live

On the day when I found there was
something more important than life,
it became joyful for me to life

Life-Columbine (1986)

Tomihiro Hoshino

Syair tersebut merupakan bagian penutup sekaligus menjadi salah satu pengantar bagi Adi Purnomo saat mengikuti Sayembara Internasional Museum Tomihiro Hoshino di Azuma,Jepang.

Adi Purnomo (biasa disapa Mamo), praktisi arsitek yang lahir di Yogyakarta, menyelesaikan pendidikan formalnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan memperkaya khazanah ber-arsitekturnya di beberapa biro konsultan ini pernah mendapatkan penghargaan utama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk serial ‘rumah urban’ kategori rumah tinggal pada tahun 2002. Pada tahun yang sama juga memperoleh penghargaan arsitek muda dari Ikatan Arsitek Indonesia serta terpilih menjadi tokoh arsitek tahun 2001 oleh majalah Tempo.
“Relativitas” (seperti yang diutarakan penulisnya sendiri dalam Pengantar) merupakan catatan pribadi, suatu kumpulan acak pemikiran dan karya hasil pergelutan dalam praktek arsitek yang telah, sedang dan ingin dijalaninya. Catatan yang memaparkan keinginan sebuah praktek arsitek untuk bergerak di atas cara pandangnya, dalam berbagai skala proyek dan berusaha tetap menjadi bagian dari kenyataan-kenyataan yang sedang bergulir. Mulai dari hal yang kasat mata (terlihat) seperti relatifnya massa bangunan hingga hal yang tidak kasat mata (tak terlihat) seperti cara pandang merancang.

Relativitas? Kata ini dipilih untuk memperlihatkan spektrum yang bisa dilakukan oleh sebuah praktek arsitek. Seringkali arsitek dihadapkan pada sebuah pekerjaan rumah tinggal pada kisaran nilai 100 juta rupiah, namun di tempat lain, nilai tersebut hanya berarti untuk sebuah kitchen set. Kutub-kutub berseberangan ini bisa saja muncul dalam dunia yang sama. Kebenaran ber-arsitektur mendadak menjadi begitu relatif, sebanyak kemungkinan yang bisa ditawarkan. Kenyataan seperti ini menjadikan profesi arsitek bisa menjadi begitu relatif. Arsitek berdiri di atas cara pandangnya masing-masing, hingga pada akhirnya mendapati dirinya pada posisi yang berbeda-beda (dalam menangkap dan memaknai arsitektur itu sendiri).

Akan timbul banyak pertanyaan di dalam pergulatan pemikiran ber-arsitek(tur). Apakah profesi arsitek ini hanya mampu bertahan dan berkembang pada pelayanan lapis atau golongan tertentu saja? Apakah bangunan umum dan besar (saja) yang mempu berbicara dalam hal meng-kota? Tidakkah rumah tinggal dalam jumlah massa yang besar akan cukup signifikan menjadi permasalahan kota?

Sebuah Catatan-Dalam Perspektif Adi Purnomo
1. Arsitek
Benarkah (profesi) arsitek hanya untuk (melayani) lapis atau golongan tertentu? Tidakkah (seharusnya) arsitek mampu bermain di semua kelas (strata)? Haruskah profesi ini menjadi sebuah pengabdian yang makin jauh dari masyarakat? Mendudukannya pada sebuah menara gading dan makin tak terjamah (untouchable)? Pertanyaan-pertanyaan mendasar yang (coba) dijawab Adi Purnomo dengan melihatnya dari perspektif dan sudut bahwa arsitek menjadi bagian dari suatu struktur besar. Namun tidak mampu bersinggungan dan mengenali banyak bagian lain. Ada sebuah keterbatasan dalam menanggapi hal-hal yang aktual. Keadaan ini tidak terjadi begitu saja, kehidupan modern nan hedonis semakin mengkotak-kotakan dan menjelmakan manusia dalam berbagai hal yang isolatif dalam sekat profesi, status, pengakuan dan atribut-atribut lain. Sebuah praktek yang dilakukan arsitek (seharusnya) berpegang pada beberapa hal seperti cara bersikap adil, mampu menerapkan etik, serta menguasai pengetahuan rancang bangun dan hal-hal teknis. Ada pelajaran tentang rasa keadilan, kesejawatan, etik dan sikap profesional.

2. Pemukiman Urban
Permasalahan bermukim di wilayah urban (Jakarta) mengerucut pada sedikit pilihan. Pilihan pertama adalah “menyingkir ke wilayah pinggiran”, dan memberi keuntungan memperoleh lahan yang lebih luas. Namun ada konsekuensi pada ketidakefisienan waktu tempuh ke pusat kota, mengingat infrastruktur transportasi umum (di Jakarta) yang tidak memadai. Pilihan kedua bagi mereka yang menghindari ketidakefisienan adalah mencoba mendekatkan rumahnya ke tempat kerja dan kegiatan sehari-hari. Pilihan jatuh pada lahan di area kampung yang masih dekat dengan pusat kegiatan. Dalam kasus ini faktor yang menjadi pertimbangan utama adalah orientasi terhadap kepemilikan lahan, dimana membeli tanah bersertifikat dianggap lebih bernilai investasi dibandingkan memiliki sebuah tempat tinggal di hunian berlantai banyak. Pilihan ketiga adalah bagaimana menekan biaya bangunan. Biasanya dana sudah terlebih dahulu tersedot untuk kebutuhan pembelian lahan, sehingga biaya bangunan ditekan sangat rendah agar masih bisa memenuhi ruang. Permasalahan-permasalahan tersebut ditemui serta coba dipahami dan dipecahkan Adi Purnomo dalam serial Rumah Urban (memperoleh penghargaan utama IAI 2002-kategori rumah urban), Cutting Wall (1997), Kampung Dalam Kampung (2000) dan Tomang 5M (2001), meskipun dengan memberi catatan bahwa ketiga rumah tersebut hanya berbicara mengenai strategi void untuk cahaya dan udara. Belum ada upaya lebih jauh dari itu, karena berisiko terhadap kenaikan biaya tak terduga dan pengerjaan tidak maksimal.

3.Material, Ruang, Tempat dan Kenangan
Membicarakan arsitektur berarti memahami bahasa material (material), ruang (space), tempat (place) dan kenangan (memory). Ada ruang dan tempat yang dirancang dan ditata sedemikian rupa dengan material hingga detail pencahayaan namun terasa hampa dan “kosong.” Di sisi lain bagaimana suatu ruang terbentuk dari kualitas cahaya dan material yang melekat padanya, hadir secara menakjubkan. Semua hal terasa terletak pada tempatnya, tidak dibuat-buat, tidak ada energi yang meluap-luap untuk mengatakan bahwa “aku”, ruang ini ada. Semua mengalir wajar dan menjadikan penikmat sebagai bagian dari tempatnya. Ada “diam” yang terasa dan menyampaikan rahasia-rahasia yang lebih baik tidak terungkap, untuk tetap tersimpan di dalamnya.

Adi Purnomo menangkap fenomena ini dengan melihat bahwa segala sesuatu yang terbentuk di dunia ini adalah tumpukan energi yang terlekat ke dalam suatu benda, baik disengaja maupun tidak. Ada semacam energi yang melekat pada sebuah benda, ada kecintaan yang mendalam saat membuatnya dan kemudian terpancar kembali darinya. Hal ini cukup menjelaskan mengapa ciptaan manusia tidak akan pernah bisa melampaui keindahan alam.

Proses merancang dan menuangkan gagasan selalu berujung pada wujud yang kemudian berkaitan dengan penggunaan material. Ada hubungan timbal balik antara arsitek dan material. Bahwa ketika arsitek sadar akan kehendak sendiri maka kesadaran akan kehendak material juga muncul. Di sini muncul sebuah pertanyaan apakah arsitek bisa membuat ‘klaim’ atas karya rancangannya sebagai ‘miliknya’? Arsitek hanya penggubah yang mencoba memahami suatu material untuk kemudian menyusunnya kembali serta menambahkan arti di dalamnya (dalam hal ini arsitek hanya meniupkan “ruh” pada sebuah susunan material).

Jika memang benar bahwa sebuah rancangan sepenuhnya bisa diserahkan kembali pada material untuk membentuk suatu ruang dan tempat, maka kondisi ini setara dengan meninggalkan segala hasrat dan kelekatan terhadap apa yang diciptakan. Intensitas “keakuan” tidak menguasai lagi dan meleburkan arsitek dalam obyek itu sendiri.

Sebuah pertanyaan dan tantangan muncul, apakah seorang arsitek sanggup membuat suatu karya tanpa harus dikenal? Membiarkan dirinya menghilang dan meleburkan sekaligus meniadakan kelekatan dengan karyanya-menghantarkannya kembali pada rahasia-rahasia kesejatian material, ruang, tempat dan kenangan. Pertanyaan terhadap pencarian kesejatian diri seorang arsitek.

Sebuah Penutup
Arsitektur adalah sebuah perjalanan pencarian. Dimana segala bentuk pengalaman dan pengetahuan, semua perjalanan ke berbagai tempat dan mengalami arsitektur itu sendiri (experiencing architecture) pada hakikatnya adalah upaya pemahaman dan perjalanan kembali ke dalam sendiri. Memahami satuan terkecil dalam diri menjadi hal terpenting dan lebih sukar dilalui. Mengenali diri berkaitan dengan pengenalan perasaan, merasakan kembali apa yang ada di setiap denyut nadi dan setiap jengkal diri. Ada sebuah nilai kejujuran yang dipertaruhkan terhadap proses berpikir dan pemahaman-pemahaman masalah. Pengalaman (yang mungkin) hanya bisa dialami ketika arsitek mampu menyinkronkan angan (ide, gagasan) dan kenyataan (kondisi riil di lapangan). Sebuah perjalanan untuk memahami partikel kecil bernama arsitektur.


Kuteruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan,
dan kuyakin “kau” tak ingin aku berhenti


(Lubang di Hati-Letto)

“Selamat Pagi…!”

(Terima kasih untuk sahabatku yang berkenan meminjamkan buku “Relativitas-Arsitek di Ruang Angan dan Kenyataan”)

6 thoughts on “Mengisi Lubang di “Hati” (Sebuah Catatan Kecil Untuk “Relativitas-Arsitek di Ruang Angan dan Kenyataan”)

  1. lho, jadi arsitek itu melelahkan ya pak?
    tak kira nggak…
    brarti jadi apapun ternyata melelahkan ya???
    Kau dengan “K” besar memang gak pingin makhlukNYA berhenti.
    halah..opo iki? kok malah ngelantur…. hehehe

    Sengaja memang ditulis “kau” dengan huruf k kecil karena untuk menunjuk pada arsitektur itu sendiri. Terima kasih atas komennya….

  2. saya jadi pengen baca bukunya pak adi purnomo…dimana saya bs dapet pinjeman???brhubung di TB gak ada kan…

  3. HALOO.. kalau boleh tau.. studio mamo ini ada di mana ya?? mau liat langsung hasil karyanya mas mamo..
    makasih ya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s