Meledak!


Selamat Tahun Baru 2009TAHUN 2008 segera menuju penghujungnya. Tahun 2009 menanti di depan mata. Tahun baru biasanya ditandai dengan harapan, keinginan, rencana dan resolusi baru. Semua serba baru dan tentu saja dengan semangat dan spirit baru. Namun tidakkah kita sadar bahwa sebuah ancaman (baru) menghantui di tahun 2009 dan tahun-tahun mendatang?

Sebuah ancaman sekaligus tantangan bagi manusia untuk mencapai sebuah taraf hidup baru. Kondisi yang mengharuskan manusia (terutama rakyat Indonesia) untuk merencanakan sebuah masa depan yang baik bagi generasi penerusnya. Ancaman tersebut bersumber dari teori Robert Malthus ( 1798 ) yang menyatakan bahwa peningkatan produksi pangan yang bergerak mengikuti deret hitung sedangkan pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur. Khusus untuk Indonesia, ancaman ledakan penduduk menjadi hal yang sangat serius untuk dicarikan jalan keluar. Program Keluarga Berencana sebagai pengendali kelahiran yang dulu begitu kuat gaungnya, kini terabaikan seiring dengan adanya otonomi daerah. Imbas diabaikannya program Keluarga Berencana tersebut adalah ancaman ledakan penduduk atau baby booming yang dialami Indonesia. Jumlah penduduk tahun ini, diestimasi mencapai 220 juta diperkirakan menjadi 247,5 juta jiwa pada tahun 2015 dan 273 juta jiwa pada tahun 2025.

Dampak Baby Booming
Tidak terkendalinya pertumbuhan penduduk memberi beberapa konsekuensi yang harus ditanggung diantaranya penyediaan anggaran dan fasilitas kesehatan, pendidikan serta ketersediaan pangan. Dampak lain adalah pemenuhan gizi bayi serta meningkatnya angka pengangguran. Dari aspek kesehatan, akan terjadi pembengkakan biaya imunisasi dari 791,6 milyar rupiah di tahun 2008 menjadi 1,4 triliun rupiah pada tahun 2015. Begitu pula untuk pemenuhan kebutuhan pangan. Jika menghitung rata-rata konsumsi beras per kapita setiap tahunnya mencapai 139,15 kilogram, maka di tahun 2025 dimana penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 273 juta jiwa, proyeksi kebutuhan beras diperkirakan mencapai 38,85 juta ton. Dengan kata lain Indonesia memerlukan tambahan produksi beras sekitar 5 juta ton atau naik 15 persen dari total produksi beras sekarang yang mencapai 33 juta ton.

Segi pendidikan pun akan mengalami permasalahan yang sama. Anggaran operasional pendidikan dasar diperkirakan akan melonjak dari 100,3 triliun rupiah pada tahun 2008, menjadi 187,4 triliun rupiah pada tahun 2015. Kepala Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Suahazil Nazara mengingatkan bahwa ledakan jumlah penduduk akan berdampak terhadap meningkatnya jumlah pengangguran apabila tidak disertai dengan pembukaan lapangan pekerjaan. Saat ini sudah ada sekitar 10 juta orang menganggur, sedangkan pertumbuhan ekonomi justru terjadi pada sektor-sektor yang tidak menyerap tenaga kerja.

Sementara Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Ascobat Gani mengingatkan bahwa selain persoalan baby booming di tahun 2025, ancaman kemiskinan dan gizi buruk, Indonesia akan mengalami persoalan penuaan (aging). Akan ada sekitar 20 juta orangtua yang membutuhkan layanan canggih dan mahal yang berbasis rumah sakit dan tidak mungkin ditangani puskesmas. Mereka memerlukan dokter spesialis karena mengalami penyakit degeneratif. Hal ini akan cukup menyedot anggaran, sementara di waktu yang sama kita menghadapi permasalahan baby booming.

Bagaimana Keluar dari Permasalahan

Muhadjir Darwin, Guru Besar Fisipol UGM, mengatakan bahwa kehendak untuk mengatasi ancaman Teori Malthus telah melahirkan gerakan kependudukan dunia di tahun 1968. Namun gerakan ini tidak direspon secara bersamaan oleh negara-negara di dunia. Indonesia adalah salah satu negara berkembang berpenduduk banyak yang merespon gerakan ini.

Di masa pra kemerdekaan dan awal kemerdekaan, Indonesia belum mengalami adanya ledakan penduduk. Penduduk Indonesia baru berjumlah 69,2 juta pada tahun 1940. Sehingga menjadi sebuah kewajaran jika Soekarno bersikap pronatalis. Pertambahan penduduk yang cepat, bisa dipergunakan sebagai kekuatan revolusi. Keinginan tersebut menjadi kenyataan karena di tahun 1950-1970 terjadi apa yang disebut sebagai ledakan bayi (baby boom). Jumlah penduduk Indonesia naik 53 persen, dari 77,2 juta di tahun 1950 menjadi 118,2 juta pada tahun 1970. Pada saat itulah ancaman terhadap ledakan penduduk mulai disadari.

Jika fertilitas tinggi (Total Fertility Rate/TFR 5,6 pada 1970) dibiarkan, Widjojo Nitisastro memperkirakan penduduk Indonesia akan bertambah menjadi 350 juta pada tahun 2000. Namun dengan kemajuan teknologi dan pelaksanaan Keluarga Berencana (KB), angka fertilitas total (TFR) berhasil diturunkan menjadi 2,4 dan penduduk Indonesia hanya bertambah menjadi 206 juta jiwa di tahun 2000.

Namun ancaman baby booming tahap kedua akan dihadapi Indonesia (kembali) seandainya tidak segera mengendalikan pertumbuhan penduduknya. Upaya pengendalian itu memerlukan langkah-langkah strategis. Beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan diantaranya:
1.Revitalisasi program Keluarga Berencana sebagai salah satu jalan keluar menghadapi masalah ledakan penduduk.
2.Dari segi ketahanan pangan tidak ada pilihan lain selain melakukan diversifikasi pangan. Pengertian diversifikasi di sini bukan hanya mengalihkan sumber pangan “superior” seperti beras ke sumber pangan “inferior” seperti ubi-ubian. Namun lebih dari itu, yaitu bagaimana mengkonsep diversifikasi dengan melakukan peningkatan kualitas pangan. Misal, dengan lebih banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung protein, seperti daging, telur dan ikan.
3.Pemanfaatan teknologi dengan melipatgandakan produksi pangan dan kebutuhan manusia lainnya. Selain itu dari segi demografi, kemajuan teknologi kontrasepsi modern dapat mengendalikan kehamilan dan pertumbuhan penduduk dapat ditekan.

Efek Pengendalian Kelahiran
Seandainya pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan dan dijaga, Muhadjir Darwin mengatakan bahwa Indonesia akan berada pada kondisi demografis ideal, sebuah jendela kesempatan (window of opportunity). Hal ini ditandai dengan menurunnya angka pertumbuhan penduduk usia muda (0-14 tahun) dan proporsi penduduk usia manula (65 tahun ke atas), belum cukup tinggi. Dampaknya adalah proporsi penduduk usia produktif menjadi dua kali lebih banyak dari penduduk usia tergantung (kombinasi penduduk usia muda dan manula).

Kondisi ideal demografis ini diperkirakan akan dapat dinikmati sekitar tahun 2020-2030. Namun setelah itu pertumbuhan penduduk akan merangkak naik, bukan karena angka fertilitas yang meningkat namun karena terus naiknya proporsi penduduk usia manula. Berbeda dengan tingginya angka fertilitas yang dapat dijawab dengan program KB. Pertambahan jumlah penduduk manula dari sisi kemanusiaan tidak mungkin dicegah.

Toh bukan berarti kondisi ideal tersebut tanpa kendala terutama jika dikaitkan dengan sentimen agama dan suku yang menguat akhir-akhir dan dilampiaskan dengan berlomba untuk memperbanyak keturunan, norma keluarga besar yang dibangkitkan kembali, adanya anjuran untuk menyegerakan pernikahan, pernikahan di bawah umur yang ditoleransi serta partisipasi perempuan dalam dunia kerja yang dibatasi, maka kekhawatiran akan terjadinya kenaikan fertilitas menjadi sebuah kenyataan. Andai hal ini terjadi maka bonus demografi hanya akan berhenti sebagai mimpi. Angan-angan untuk mendapatkan SDM Indonesia berkualitas pun hanya sekedar menjadi impian. Selamat Tahun Baru 2009…

“Selamat Pagi…!”

Referensi:
– Darwin, Muhadjir, Mengatasi Ancaman Malthus, Kompas Edisi 25 Agustus 2008
– Artikel, Ledakan Jumlah Penduduk Mencemaskan, Kompas Edisi 25 Agustus 2008

5 thoughts on “Meledak!

  1. wwooowww!! jadi serem nech tahun 2009.. semoga saja baik2 dan tak ada sesuatu pun yang menghalang (mo kemanaa??!!) hehee…🙂

    jangan sungkan maen ke blog yachh.. walaupun ga’ da hidangan… seperti nasi goreng sisa kucing (lho?!) top bgd…😉

  2. mas aji ternyata juga males update!!! hayo!!! ga boleh maless!!!
    he he he…ganti marahin..
    taon 2009 ini aku pasrah aja, lha mo gimana lagi….huix..

  3. Selamat tahun baru 2009 mas Aji…
    Uhmm..yah setiap tahun selalu ada suka dan dukanya. Seperti kata mas Aji, mari kita lanjutkan perjalanan kita yang melelahkan tapi penuh warna dan keindahan dalam setiap yang terjadi😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s