Jejak Purba di Sangiran


Oleh : Harry Widianto
Ahli Arkeologi/Paleoantropologi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Dimuat di harian Kompas, 13 Juni 2008

Situs Sangiran

Situs Sangiran

KISAH panjang mengenai evolusi manusia di dunia tampaknya tidak dapat dilepaskan sama sekali dari sebuah bentangan lahan perbukitan tandus yang terletak di tengah perbatasan Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa tengah. Lahan seluas 8 x 7 kilometer persegi, yang saat ini dikenal dengan nama Situs Sangiran itu telah mencuatkan kisah yang menggema lantang ke seluruh dunia. Terutama sejak ditemukan oleh GHR von Koenigswald melalui temuan alat-alat serpih pada tahun 1934.

Di sini telah muncul salah satu pusat evolusi manusia di dunia, yang sanggup menorehan cerita panjang tentang kemanusiaan sejak 1,5 juta tahun lalu. Itu sebabnya, Sangiran dimasukkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 1996.

Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang tererosi bagian puncaknya sehingga menghasilkan cekungan besar di pusat kubah. Akibatnya, lapisan-lapisan tanah berumur tua tersingkap secara alamiah, menampakkan lapisan-lapisan berfosil, baik fosil manusia purba maupun binatang.

Okupasi manusia purba dari tokson Homo erectus secara intens telah meninggalkan jejak-jejaknya, seperti artefak batu ataupun lingkungan faunanya, dalam lingkungan purba yang terbentuk selama 2 juta tahun terakhir tanpa terputus. Inilah napas dan arti mendalam dari Situs Sangiran sebagai salah satu situs akbar dalama kajian evolusi manusia di dunia.

Lingkungan laut dan rawa
Lempung biru yang membentuk apa yang disebut kalangan arkeolog sebagai Formasi Kalibeng di bagian paling bawah adalah endapan paling tua. Endapan itu tercipta sejak 2,4 juta tahun lalu ketika daerah ini masih merupakan lingkungan laut dalam.

Pada awal Kala Plestosen Bawah, sekitar 1,8 juta tahun lalu, terjadi letusan gunung api yang hebat. Mungkin berasal dari Gunung Lawu purba sehingga diendapkan lahar vulkanik yag mengisi laguna Sangiran. Letusan gunung api ini telah mengubah bentang alam menjadi laut dangkal, menandai dimulainya perubahan lingkungan laut ke lingkungan darat, sekaligus awal dari mundurnya laut dari Sangiran. Rawa dan hutan bakau mendominasi lanskap Sangiran hingga sekitar 0,9 juta tahun yang lalu, dicirikan oleh endapan lempung hitam yang diistilah sebagai Formasi Pucangan.

Manusia purba paling tua hidup di pinggir-pinggir sungai, yang menembus rawa dan hutan bakau saat itu, berdampingan dengan binatang vertebrata yagn msikin spesiesnya. Di antaranya Hexaprotodon simplex (sejenis kuda air), Tetralophodon bumiajuensis (sejenis gajah) dan akhir-akhir ini ditemukan pula Crocodillus sp (sejenis buaya). Sejak 1 juta tahun lalu, Hexaprotodon simplex kandas dan digantikan oleh Hexaprotodon sivalensis. Fauna pendatang baru, pada bagian atas Formasi Pucangan, adalah Panthera trinilensis (macan) dan Axis lyndekkeri (rusa).

Manusia pada tingkatan ini menunjukkan fisik yang luar biasa kekar dan kuat sehingga dalam tingkatan evolusi fisiknya dimasukkan sebagai Homo erectus kekar. Mereka telah menciptakan alat-alat dari batuan kalsedon yang berupa serpih, berukuran sangat kecil dengan diameter 2-4 sentimeter.

Saat ini peralatan mereka telah ditemukan di Desa Dayu, dari sebuah endapan sungai purba yang mengalir di antara bentangan rawa pada 1,2 juta tahun yang lalu. Alat-alat batu dari Formasi Pucangan di Desa Dayu ini maerupakan budaya Homo erectus arkaik dari Kala Plestosen Bawah, sekaligus merupakan budaya paling tua di Indonesia.

Menjadi daratan
Pada sekitar 0,9 tahun lalu, terjadi erosi pecahan gamping pisoid dari Pegunungan Selatan yang terletak di selatan Sangiran dan kerikil-kerikal vulkanik dari Pegunungan Kendeng di utaranya. Material erosi tersebut menyatu di Sangiran sehingga membentuk suatu lapisan keras setebal 1-4 meter, yang disebut grenzbank alias lapisan pembatas. Pengendapan grenzbank menandai perubahan lingkungan rawa menjadi lingkungan darat secara permanen di Sangiran.

Sekitar 0,8 juta tahun lalu, tidak lagi dijumpai rawa di Sangiran. Juga tak lagi terdapat daerah peralihan antara laut dan darat. Manusia kekar Meganthropus paleojavanicus masih hidup dan berdampingan hidpunya dengan Homo erectus yang lebih ramping. Kemampuan membuat alat serpih tetap dilanjutkan.

Pada periode berikutnya terjadi letusan gunung yang hebat di sekitar Sangiran, berasal dari Gunung Lawu, Merapi dan Merbabu purba. Letusan hebat telah memuntahkan jutaan kubik endapan pasir vulkanik, kemudian diendapkan oleh aliran sungai yang ada di sekitarnya saat itu.

Aktivitas vulkanik tersebut tidak hanya terjadi dalam waktu yang singkat, tetapi susul-menyusul dalam periode lebih dari 500.000 tahun. Aktivitas alam ni meninggalkan endapan pasir fluvio-volkanik setebal tidak kurang dari 4o meter, dikenal sebagai Formasi Kabuh. Lapisan ini mengindikasikan daerah Sangiran sebagai lingkungan sungai yang luas saat itu: ada sungai utama dan ada pula cabang-cabangnya dalam suatu lingkungan vegetasi terbuka. Salah satu sungai purba yang masih bertahan adalah Kali Cemoro.

Berbagai manusia purba yang hidup di daerah Sangiran mulai 700.000 hingga 300.000 tahun kemudian terpintal oleh aliran pasir ini. “Mereka” diendapkan pada sejumlah tempat di Sangiran. Badak, antilop dan rusa yang ada di grenzbank masih tetap ada pada Formasi Kabuh. Stegodon sp ditemani jenis lain, Elephas hysudrindicus dan Epileptobos groeneveldtii (banteng). Lapisan ini merupakan lapisan yang paling banyak menghasilkan fosil manusia dan binatang.

Saat itu mereka masih meneruskan tradisi pembuatan alat serpih bilah. Pada Kala Plestosen Tengah inilah Sangiran menunjukkan lingkungan yang paling indah: hutan terbuka dengan berbagai sungai yang mengalir, puncak dari kehidupan Homo erectus beserta lingkungan fauna dan budayanya.

Letusan terus berlangsung
Pada sekitar 250.000 tahun yang lalu, lahar vulkanik diendapkan kembali di daerah Sangiran, yang juga mengangkut material batuan andesit berukuran kerikil hingga bongkah. Pengendapan lahar ini tampaknya berlangsung cukup singkat, sekitar 70.000 tahun.

Di atasnya kemudian diendapkan lapisan pasir vulkanik, yang saat ini menjadi bagian dari apa yang disebut Formasi Notopuro. Manusia purba saat itu telah memanfaatkan batu-batu andesit sebagai bahan pembuatan alat-alat masif, seperti kapak penetak, kapak perimbas, kapak genggam, bola-bola batu dan kapak pembelah. Setelah pembentukan Formasi Notopuro, terjadilah pelipatan morfologi secara umum di Sangiran, yang mengakibatkan pengangkatan Sangiran ke dalam bentuk kubah raksasa. Erosi berlangsung terus-menerus di puncak kubah sehingga menhasilkan cekungan besar yang saat ini menjadi ciri khas dari morfologi situs Sangiran.

Di sinilah lokasi laboratorium alam terbesar di dunia setelah endapan-endapan purba di Afrika dan di sini pula pusat evolusi manusia itu terjadi. Sangiran dan seluruh kandungannya merupakan aset sangat berharga bagi pemahaman kehidupan manusia selama Kala Plestosen di dunia.

13 thoughts on “Jejak Purba di Sangiran

  1. kira-kira gimana caranya ya biar ketika ditemukan 500.000 tahun lagi aku masih ayu dan ber-rambut??
    hehehe…serius amat bang!!!

  2. Hmm…saat ini sangiran dalam tahap pembangunan mas, pemerintah mengucuri dana sekitar 20 milyar untuk situs ini🙂 semoga pembangunan ini menjadi efek yang baik untuk melestarikan asset kita ya mas…
    kapan-kapan kalau ke solo kesana mas…
    udah pernah belum sich? hihihi..kalau belum kita kesana barang, soalnya Yaya juga belum huhuuhuhu…
    jadi pingi kesana neh…
    salam hangat untuk mas Aji,
    lama saya gak main kesini🙂

  3. oalah mas..mas dl sekolah dpt materi sejarah, skrg dpt lg di blog ini. dah update ya isinya……

    sejarah boooossssaaaan……………

  4. assalam…

    “penelitian tentang Sangiran yang akan saya buat
    “Implementasi Tanah Sangiran Sebagai Bahan Pembuat Campuran Pupuk Organik dan Kerajinan “CBSR”..

    mOHON KERJASAMA dari pihak pengelola.

    Mahasiswa Bio UGM.
    aLAMAT Rumah : Tegalombo Kalijambe Sragen

  5. Asslkm….salam knl
    mo joint blh ya mas…
    saya lagi bljr ttng geologi kuarter ni…mo tny sdkit ttg sangiran
    Mengapa formasi dijawa tengah khususnya formasi sangiran diusulkan diganti menjadi formasi ucangan, formasi kabuh, dan formasi notopuro? tlg infonya ya mas, mkash infonya.

    Wa’alaikum salam Mbak Ika, terima kasih atas kunjungannya. Sedikit berbagai informasi yang saya tahu Formasi Notopuro, Kabuh dan Pucangan merupakan masuk dalam Plestosen dan merupakan Kelompok Kendeng, karena mayoritas berada di sekitar jalur Pegunungan Kendeng.
    1. Formasi Pucangan (kala plestosen bawah), formasi ini dapat dibedakan menjadi 2 fasies yaitu fasies lempung laut dan fesies tufaan sampai pasiran. Fasies vulkanik banyak terdapat di bagian barat Pegunungan Kendeng, makin ke timur lebih banyak selaan endapan laut, sehingga di sekitar Surabaya formasi ini seluruhnya terdiri atas lempung dan tufa vulkanik yang mengandung moluska laut.
    2. Formasi Kabuh (kala plestosen tengah), terdapat di sepanjang Pegunungan Kendeng, terutama tersingkap di Trinil dan Sangiran. Wilayah tipe formasi ini terdapat di Desa Kabuh sebelah utara Jombang, Kali Samberringin, 3.5 km sebelah timur Kabuh.
    3. Formasi Notopuro (kala plestosen tengah akhir dan kala plestosen atas awal), terdapat di sepanjang Pegunungan Kendeng terutama di Ungaran, serta antara Ngawi dan Jombang.Di sisi timur Pegunungan Kendeng formasi ini terdapat di Desa Ngebung.

    Sumber: Sejarah Nasional Indonesia, Jaman Prasejarah di Indonesia, oleh Oleh Marwati Djoened Poesponegoro,Nugroho Notosusanto.

    Barangkali hanya itu yang bisa saya sampaikan, mohon maaf atas keterbatasan informasinya.

  6. Ping-balik: Jejak Purba di Sangiran (via rasanrasan) « Jessitaputridhiary's Blog

  7. it is an awesome javanese ancient site,pal!!!!
    seminggu lagi aku berencana berkunjung ke sangiran,sragen.
    tp blom teu jalan nya niech,,,,,,,,
    btw, ,koleksi foto yg di display di website sangiran, kayaknya kurang buanyak dech,,,kok cuma 3 lembar aja yng muncul…????? (error kali yew,,,)

    Terima kasih atas kunjungannya di blog ini

  8. mencari formasi kabuh, malah nemu disini .. surprised! makasih dik aji ..🙂

    terima kasih telah mampir di blog rasanrasan, semoga bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s