The Power of Lebaran


Maaf Lahir Batin

MUDIK! Kata yang pertama kali terpikirkan begitu mendengar kata Lebaran. Untuk mempersiapkan tradisi mudik, tabungan dan simpanan yang dikumpulkan dalam rentang satu tahun rela dihabiskan. Hasil jerih payah tersebut biasanya dipergunakan untuk menyediakan pernak-pernik lebaran, mulai dari “menu wajib” baju baru hingga aneka makanan.

Rangkaian lain dari kegiatan mudik adalah silaturahmi, bertemu sanak saudara di kampung halaman. Ada sebuah upaya untuk menciptakan “ruang rindu”, ruang imajinasi untuk membangkitkan kenangan (memori). Hingga tak jarang sering dijumpai kegiatan penunjang silaturahmi misal arisan keluarga, reuni ataupun kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan pertemuan dan pembangkitan kenangan. Rentang waktu tertentu rupanya benar-benar meninggalkan hasrat untuk bertemu secara fisik. Selain tujuan utama lebaran untuk saling bermaafan, proses pertemuan secara fisikpun menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Jika merunut perkembangan peradaban yang makin maju (modern), acara mudik, sekedar saling silaturahmi fisik yang terkadang dalam prosesnya seringkali menimbulkan kemacetan luar biasa dan kejadian-kejadian lalu lintas bisa dilakukan dengan cara lain sehingga tidak menimbulkan efek negatif seperti macet dan kecelakaan lalu lintas. Kemajuan teknologi seperti telepon (termasuk handphone) yang sudah merambah pelosok bisa dimanfaatkan, baik melalui panggilan (menelepon), SMS, MMS dan fitur-fitur pendukung lain. Fenomena ini biasanya disikapi operator (penyedia layanan telepon) dengan mengobral berbagai kemudahan fasilitas dan tarif yang terkadang tidak masuk akal. Belum lagi pemanfaatan jaringan internet maupun pos. Toh fasilitas-fasilitas tersebut tetap tidak menggoyahkan tradisi mudik ini.

Menukil pendapat Edward Soja bahwa peradaban saat ini tengah mengalami pergeseran kerangka-dasar pemahaman diri, yakni dari hegemoni imajinasi historis ke imajinasi geografis. Imajinasi historis adalah upaya pemahaman terhadap dimensi waktu dengan cara menata pengalaman real (nyata) yang centang-perenang, ke dalam satuan angka, kategori dan periodisasi, kemudian merajutnya menjadi pola-pola kesinambungan logis dan metafisis. Proses ini akan mengubah peristiwa-peristiwa masa lalu menjadi rangkaian konsep dan sistem makna. Imajinasi geografis sendiri telah melahirkan berbagai konsep seperti “desa”, “kota”, “bangsa”, “negara”, “lokal”, “global”, “dunia pertama”, “dunia ketiga” dan seterusnya. Ada sebuah pemahaman atas dirinya dalam hubungannya dengan diri-diri lain, melahirkan gambaran tentang “pusat” dan “pinggiran”, memahami apa arti menjadi “manusia” yang be-rumah dan “tinggal” (dwell) secara spesifik di bumi ini.

Secara fisik, imajinasi geografis memang melahirkan konsep pembedaan dengan adanya hubungan antara satu bagian dengan bagian lain. Namun kenyataan sekarang, pendapat ini menjadi kabur. Kehadiran ruang maya yang memberi perasaan kuat bahwa manusia mampu mengontrol dunia yang makin kompleks, membuka medan kemungkinan imajinasi dan relasi nyaris tanpa batas serta dianggap sebagai perpanjangan pikiran bahkan pembebasan jiwa menghilangkan batas-batas imajinasi geografis. Kehadiran internet, telepon selular (dengan berbagai fasilitasnya) menjadi contoh.

Peradaban modern, jika mengacu pendapat Edward Soja, seharusnya lebih mengakomodasi imajinasi geografis dibanding imajinasi historis. Dalam kasus lebaran, kondisi menjadi terbalik. Orang lebih menghargai tradisi (mudik), sebagai sebuah imajinasi historis dan mengabaikan imajinasi geografis. Batasan-batasan kota-desa, seakan menjadi hilang. Orang rela menempuh ratusan kilometer hanya demi sebuah tradisi silaturahmi. Bahkan kehadiran ruang maya pun seakan menjadi tidak berarti. Inilah kekuatan sebuah kejadian bernama lebaran, seperti apa yang diungkapkan Bachelard bahwa ruang menjadi bermakna manakala melokasikan kenangan (inner space).

Jakarta, nyaris tak bernyawa
Bukan rahasia lagi, sebagai kota terbesar di Indonesia, Jakarta adalah medan magnet yang luar biasa. Ia mampu menyedot apapun. Kota yang tak pernah mati. Hidup 24 jam tanpa henti. Segala aktivitas ada di dalamnya. Mobilisasi manusia, barang, uang sudah menjadi nyawa bagi Jakarta. Beban yang ditanggungnya begitu berat. Andai bisa berteriak, Jakarta akan berteriak sekeras-kerasnya. Melepaskan semua beban di pundak, beban kemacetan, beban demonstrasi, beban polusi, dan beban-beban lainnya.

Lebaran, Jakarta nyaris tak bernyawa. Jakarta dilupakan mereka yang menggantungkan hidup padanya. Jakarta ditinggalkan oleh kemacetan, ditinggalkan demonstrasi, ditinggalkan polusi. Wajah Jakarta menjadi lain. Jika selama ini wajah itu selalu kusut, Lebaran membuat Jakarta tersenyum. Jakarta telanjang, Jakarta bagai bayi yang baru lahir. Polos tak berdosa. Jakarta hidup dalam kesendirian dan kesunyian.

Mereka yang selama ini bergantung dengan Jakarta rela untuk berdesak-desakan, menempuh jarak dan mengarungi waktu meninggalkan sang ibu kota. Wajah lelah berganti cerah begitu menginjakkan kaki di kampung halaman. Wajah kemacetan, ketergesa-gesaan berubah menjadi suasana tenang. Gemericik air, semilir angin, keramah-tamahan, nyanyian burung menjadi sajian lain.

Lebaran, selalu menyisakan ruang kenangan (inner space). Selamat menikmati derai tawa bahagia, tangis haru dan canda. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H, Minal Aidzin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan batin.

2 thoughts on “The Power of Lebaran

  1. Oiya saya blm ber-Minal Aidzin Wal Faidzin sama mas aji ya🙂 Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H mas… Mohon maaf lahir dan batin, kalau ada salah lewat tulisan atau comment yang saya tinggalkan🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s