Pasarku (Kini)…


Pasar terapung di Banjarmasin

ORANG  berlalu lalang, suara saling bersahutan, becek di sana sini pada musim hujan, kumuh, tak jarang menjadi salah satu area hitam karena seringnya terjadi tindak kriminalitas. Barangkali itulah sedikit banyak gambaran umum pasar tradisional di Indonesia, terutama pasar-pasar tradisional yang ada di daratan. Karena gambaran pasar tradisional ini seketika berubah saat kita mengamati pasar tradisional di daerah yang di kelilingi perairan terutama wilayah di luar Jawa. Kondisi dan citra pasar yang demikian buruk tak jarang menimbulkan dilema, bagai buah simalakama bagi pemerintah daerah setempat. Disatu sisi merupakan sentra perekonomian rakyat tapi di sisi lain ibarat kuman penyakit yang harus dibasmi karena memberikan citra negatif wajah kota. Di tengah gencarnya penetrasi pemodal besar (kapital) dan demi keuntungan sesaat maka tak jarang pemerintah daerah mengambil jalan pintas dengan mengijinkan mereka (peretail besar) untuk menanamkan modal di wilayahnya dengan mendirikan pasar-pasar modern (mal, supermarket, hypermarket dan sebutan-sebutan sejenis lainnya).

Kondisi fisik dan lingkungan pasar yang dianggap sudah tidak sejalan dengan perkembangan jaman dijadikan alasan utama untuk “menyingkirkan” keberadaan pasar tradisional. Tanpa pernah mencoba mencari solusi pemecahan maksimal, tiba-tiba langsung saja nasib pasar tradisional harus ditentukan oleh buldozer dan alat perusak berat lainnya. Tak jarang area yang dahulu sebuah pasar tradisional berubah wajah menjadi pusat perbelanjaan modern. Namun tidak berarti pendirian pusat perbelanjaan modern tersebut tidak menimbulkan masalah. Masalah amdal dan simpul kemacetan baru merupakan hal yang sering terjadi.

Rencana revitalisasi Pasar Johar di Semarang beberapa tahun yang lalu merupakan salah satu contoh. Pemerintah Kota Semarang menilai bahwa kondisi pasar tersebut sudah tidak layak. Penilaian ini didasarkan pada fakta adanya rob atau genangan serta tidak layaknya kondisi fisik bangunan. Meskipun hasil penilaiannya masih memerlukan kajian lebih lanjut.Permasalahan mengenai adanya rob atau genangan, tidak bisa mutlak dijadikan alasan utama. Masalah rob justru bersumber dari faktor eksternal terutama karena adanya pasang air laut, dan masalah genangan ini juga menimpa bagian kota lain. Bahwa kondisi tersebut mengurangi kenyamanan penggunan pasar, memang benar. Namun dalih ini tidak bisa dijadikan pembenaran pembongkaran bangunan yang sudah dilindungi. Mengingat sejarah Pasar Johar, sebagai salah satu karya Thomas Karsten dan menjadi bagian dari perkembangan sejarah arsitektur di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan adalah “Kenapa tidak mencari solusi untuk mengatasi robnya?”

Penilaian mengenai ketidaklayakan kondisi fisik bangunan setidaknya mengacu pada 3 faktor diantaranya pertama, teknikal. Faktor ini berhubungan dengan bagaimana bangunan dapat memberi naungan dan berkonsep sebagai sebuah lingkungan yang berkelanjutan. Kedua adalah fungsional, menyelidiki bagaimana bangunan mendukung kelangsungan dan kelancaran kegiatan penggunanya. Ketiga, perilaku yaitu berkaitan dengan interaksi antara bangunan dan penggunanya. Namun faktor perilaku ini memerlukan pengamatan yang lebih cermat karena menyangkut hal-hal yang tidak kentara (terlihat) atau non fisik. Karena faktor perilaku merupakan faktor non fisik maka faktor teknikal dan fungsional memiliki peran yang lebih penting dalam penilaian layak atau tidaknya kondisi fisik sebuah bangunan.

Satu hal yang sangat penting setelah diadakannya penilaian tentang kelayakan fisik bangunan adalah adanya publikasi terhadap hasil penilaian. Publikasi menjadi faktor penting karena menyangkut kepentingan publik, yaitu masyarakat sebagai salah satu stakeholder pasar . Masyarakatpun berhak untuk mengetahui hasil kajiannya. Adanya komunikasi dua arah ini dimaksudkan untuk menghilangkan kecurigaan antara kedua belah pihak, masyarakat dan pemerintah daerah.

Pasar Rejowinangun Magelang pasca kebakaran (courtesy of Liputan6.com)

Nasib beberapa pasar tradisional lain bahkan lebih tragis, terbakar! 26 Juli 2007, Pasar Turi salah satu pasar tradisional terbesar dan memiliki sejarah panjang, terbakar. 5.017 pedagang di terkena imbas dari kejadian ini. Lebih dari 1 tahun pasca kebakaran tersebut, nasib lebih dari 5 ribu pedagangnya juga masih belum jelas. Sampai saat ini revitalisasi TPS (Tempat Penampungan Sementara) belum selesai. Masih terjadi tarik ulur antara pemerintah kota dan kontraktor pelaksana dalam hal pembangunan TPS. Sementara di sisi lain, tarik ulur inipun terjadi antara pemerintah kota dan pedagang tentang konsep penataannya. Padahal kebakaran yang terjadi bukanlah pertama kali. Tercatat setidaknya tiga kali Pasar Turi mengalami kebakaran. Tahun 1967, 1978 dan Juli 2007 lalu. Kejadian terbakarnya pasar tahun 1978 ditindaklanjuti pemerintah dengan langsung membuatkan tempat relokasi di sekitar Pasar Turi. Pengalaman ini setidaknya bisa menjadi pelajaran bahwa pemerintah kota pada saat itu cepat mengambil tindakan untuk sesegera mungkin membuatkan TPS bagi pedagang. Tindakan ini setidaknya menyelamatkan nasib pedagang yang dalam kejadian ini menjadi korban yang paling penderita untuk segera bangkit dari keterpurukan. Di sisi lain roda perekonomianpun tidak terganggu. Kejadian serupa juga dialami beberapa pasar tradisional di daerah lain seperti Pasar Rejowinangun di Magelang, pasar tradisional di Bondowoso dan Purwokerto.

4 thoughts on “Pasarku (Kini)…

  1. Iya neh, di solo keberadaan pasar tradisional jg mulai terdesak dgn pasar2 modern. Malahan akhir2 ini pasar2 tradisional di sulap menyerupai pasar modern.

Komentar ditutup.