Kembali Ke Titik Nol


Kembali ke titik nol

“CHANGE is the only evidence of life” (Evelyn Waugh). Perubahan adalah satu-satunya bukti kehidupan. Perubahan seakan mengiringi perjalanan hidup manusia. Jika kita menengok sejarah peradaban manusia maka perubahan selalu berjalan beriringan dengan sejarah itu sendiri. Ada kalanya perubahan itu memberikan dampak positif sehingga memberikan perbaikan dan kemajuan, namun tak jarang perubahan tersebut justru menimbulkan kerusakan dan pada akhirnya malah menyebabkan kesengsaraan. Kesengsaraan bagi manusia serta seluruh pendukung hidupnya dan terutama untuk kehidupan itu sendiri.

Membicarakan perubahan, sejarah, peradaban, tentu tidak akan lepas dari makhluk bernama manusia. Bisa dikatakan bahwa manusia menjadi aktor utama dari sebuah panggung teater bernama hidup. Bahwa manusia secara kodrati mendapatkan tanggung jawab sebagai khalifah atau pemegang amanat. Bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan akal budi yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lain. Bahwa manusia seakan-akan bisa menentukan kemana kehidupan tersebut diarahkan. Bahwa manusia dapat memberikan kebaikan bagi kehidupan sekitarnya. Bahwa manusiapun mampu memberikan kerusakan yang luar biasa bagi kehidupannya. Dan bahwa manusia ibarat sang penakluk ruang dan waktu.

Penaklukan waktu selalu bergandengan dengan penaklukan ruang. Hal ini menyebabkan dunia seakan menjadi tidak berjarak lagi karena telah dihilangkan oleh kawat, diciutkan oleh jaringan kereta api yang membelah-belah seluruh daratan dunia. Alfred Weber pernah menyebut bahwa menyebarnya pemakaian kuda sebagai hewan pacu dan penarik kereta adalah penyebab terjadinya die Achsenzeit (sumbu sejarah). Kurang lebih abad ke-5 SM, bermunculanlah para pemikir, filosof dan pembentuk agama-agama besar di dunia. Di daratan Tiongkok muncul Khong Hu Cu, Mao Tsu dan Lao Tse. Sidharta Gautama, Mahavira dan para pemikir Upanishad di anak benua, India. Para Nabi Yahudi datang menyeru di gerbang kota di Timur Tengah dan kelak melahirkan ajaran Kristen dan Islam. Ajaran Zarathustra yang disusun dalam kitab Avesta meluas di Persia. Di Yunani filsuf-filsuf seperti Socrates dan Plato menyebarkan buah pemikirannya.

Kuda tak cuma mengangkat tubuh namun juga pikiran dan imajinasi sekaligus memberi rasa percaya diri yang lebih besar dan perasaan tentang ruang dan waktu yang lebih dinamis. Pengarungan waktu itu tak jarang menimbulkan pemikiran-pemikiran yang “melebihi kodratnya” dan menimbulkan kontraversi. Sementara ruang untuk mengespresikan keberadaan (eksistensi)nya seakan menjadi demikian sempitnya.

Teori-teori kosmik yang muncul terakhir ini menuntut kecerdasan untuk menciptakan sendiri alam semesta, sebagai sarana uji kekuatan teori-teori tersebut. Bahkan tak jarang apa yang dikemukakan “bertentangan” dengan narasi besar penciptaan yang telah diwariskan agama-agama besar, khususnya agama samawi. Usulan nir-batas Hawking, model kosmos organik Lee Smolin atau kosmos fraktal Andrei Linde adalah koreksi serius atas teori Big Bang yang dulu dianggap menandaskan adanya Momen Penciptaan. Usulan Hawking yang mengemukakan sebuah model jagat raya dimana ruangnya tak bertepi, waktunya tak berawal dan tak berakhir serta Penciptanya tidak perlu berbuat sesuatu apapun lagi. Bahkan menurut Hawking dalam jagat raya seperti itu, tak dibutuhkan adanya Pencipta!Di sisi lain penuhanan terhadap teknologi dan perkembangannya sudah menjadi hal yang lazim. Padahal sebagaimana yang dikatakan Jean Baudrillard bahwa sebuah ciptaan (seperti komputer, cyberspace dan sebagainya) hanya bisa menguasai manusia bila ia mampu menemukan dan menciptakan manusia itu sendiri. Dengan kata lain selama sesuatu yang dijadikan Tuhan itu tidak mampu menguasai manusia sepenuhnya maka ia tidak akan pernah menjadi Tuhan bagi manusia. Terlepas bahwa apa yang dilakukan manusia adalah sebuah bahasa pencarian kebenaran, namun ia tidak akan bisa mengingkari kodratnya. Adanya mereka adalah karena sesuatu yang “Ada.”

Segala pemikiran, usaha pencarian kebenaran dan tindakan-tindakan manusia di muka bumi dalam mencapai tujuannya sudah semestinyalah untuk mencari keberadaan Sang Maha Benar. Mencari sebuah kebenaran kata hati. Ibarat sebuah perjalanan waktu, “jarum waktu” itu akan berputar (kembali) menuju titik asal kebenaran, “kembali ke rumah”, kembali ke titik nol.

Ranah Bangsa

Sebagai anak bangsa dan menjadi bagian kecil dari bangsa ini, barangkali tidak pernah memikirkan dan merenung terhadap karunia besar yang diberikan oleh sebuah tanah air bernama Indonesia. Sejak lahir, udara yang pertama kali dihirup adalah udara Indonesia. Tumbuhpun di Indonesia. Ketika makan, beras yang dimakanpun mayoritas berasal dari padi yang ditanam di Indonesia. Ketika bermunajat dan memanjatkan doapun di bumi Indonesia. Bahkan kelakpun jika menghabiskan masa tua, ingin mengakhirinya di bumi Indonesia. Sementara selama ini apa yang dilakukan tidak memberikan makna bagi Indonesia. Tahun ini Indonesia dikaruniai sebuah momentum yang luar biasa. Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional, 63 tahun usia republik ini dan Sumpah Pemuda 28 Oktober bisa dikatakan merupakan fase yang paling tepat untuk merenungkan kembali apa yang sudah diperbuat,pencapaian apa yang sudah didapat dan dampak apa yang sudah dihasilkan untuk tanah air ini. Momentum tersebut bisa menjadi titik balik (turning point) pencarian jati diri ke-Indonesiaan, membawa (kembali) ke rumah bernama Indonesia, membawa kembali ke titik nol menuju makna Indonesia yang sebenarnya.

Ranah Diri
Timothy Ferris, profesor astronomi Universitas California, Berkeley pernah menulis bahwa mungkin sekali impian akan Theory of Everything adalah sebentuk nostalgia kosmologis sementara ilmu-ilmu yang dikembangkan manusia adalah medium, yang dengannya alam semesta merenungkan masa silamnya. Yang pasti, pemahaman akan kesinambungan kosmos dan manusia akan memancarkan sebentuk rasa terpaut ke Semesta, sebentuk rasa takjub dan syukur. Sebentuk pemahaman, yang membawa kembali ke titik nol, pemahaman terhadap Yang Tak Terangkum Kata. Sebagaimana umat muslim memaknai Ramadhan yang diciptakan dengan penuh kesucian untuk mengajak manusia (kembali) ke fitrah kesuciannya. Pun demikian dengan umat nasrani terhadap pemaknaan natal sebagai sebuah “kelahiran”, sebuah titik untuk mengembalikan manusia pada titik nol (kesucian).

Setiap manusia memiliki cara tersendiri untuk memaknai (kembali) “titik nol” nya. Seperti juga ulat dalam memaknai metamorfosis hidupnya. Saat masih menjadi ulat, tak sedikit manusia yang dibuat jengkel olehnya. Mulai dari kebiasaannya untuk memakan daun hingga terkadang bulu-bulunya yang membikin gatal badan. Seiring bergulirnya waktu, tibalah fase dimana ulat berubah menjadi kepompong. Sebuah fase dimana ulat harus “kembali ke titik nol” kehidupannya, sebuah fase penyepian dan pendewasaan. Saat fase ini berakhir, selaput kepompong terbuka, ulat telah berubah menjadi kupu-kupu dengan sayap indahnya yang berwarna-warni. Jika sebelumnya manusia merasa jengkel atas kehadirannya, begitu berubah menjadi kupu-kupu bukan hanya manusia yang harus berterima kasih tetapi juga kehidupan. Kupu-kupulah salah satu penyebab hidup ini menjadi berwarna. Kupu-kupulah yang membantu bunga-bunga bermekaran. Kupu-kupulah sang pembawa perubahan.

Duduk terpekur, menikmati embun pagi, menanti datangnya sang fajar sembari merenungkan makna Lentera Jiwa dari Nugie.

Kubiarkan kumengikuti
suara dalam hati
yang s’lalu
membunyikan cintaKupercaya dan kuyakini
murninya nurani
menjadi penunjuk jalanku
lentera jiwaku

“Selamat Pagi…!”

2 thoughts on “Kembali Ke Titik Nol

  1. Ping-balik: Kembali Ke Titik Nol « tiar.dimensi-id.org

  2. Kembali ketitik nol”kesadaran mns yg pcy putaran ksemptan,apakah kn menuju nol yg sma?”

    Terima kasih telah berkunjung ke blog ini, dalam ukuran “kecil” semuanya akan menuju titik yang sama, kesadaran akan diri sendiri. Dalam lingkup yang besar (makrokosmos) pun akan menuju ke arah yang sama, Dia Yang Di Awal dan Dia Yang Di Akhir…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s