Membangun Kawasan Bersejarah yang Dinamis


Oleh : Punto Wijayanto
Peneliti di Center for Heritage Conservation, Jurusan Arsitektur dan Perancangan, Universitas Gadjah Mada (UGM), juga relawan untuk Green Mapper Jogja dan Klinik Urban
Dimuat di : Peta Hijau Jogja, Edisi 01 April 2006
“2002-2006, 4 Tahun Metani Jogja”

Menarik untuk mencermati gagasan tentang bagaiman menghidupkan citra Kota Yogyakarta dengan mempertahankan keotentikannya. Otentik di sini mengacu pada bentuk kawasan seperti waktu pembentukannya, ditandai dengan arsitektur, misalnya gaya Tiong Hoa di kampung Ketandan atau gaya Mataram di Kotagede (Kompas 13/03), sementara, kita tahu, kota itu dinamis dan terus mengalami perubahan menurut kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya.

Keindahan budaya Tiong Hoa

Keindahan budaya Tiong Hoa

Misalnya Ketandan, terletak di Kawasan Malioboro, dan dibatasi oleh jalan Ahmad Yani, jalan Suryatmajan, jalan Suryotomo dan jalan Lor Pasar. Ketandan mulai tumbuh sekitar akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 sebagai permukiman masyarakat Tiong Hoa. Masa itu, pemerintah Belanda sedang menerapkan aturan yang membatasi pergerakan (passenstelsel) serta membatasi wilayah tinggal mereka (wijkerstelsel), dan adalah Sultan Hamengkubuwono II yang memberikan ijin untuk menetap di tanah yang terletak di utara pasar Beringharjo dengan harapan aktivitas pasar terdorong oleh kegiatan perdagangan mereka.

Bagian rumah toko (ruko) sepanjang Jalan Ahmad Yani, yang menerus hingga jalan Malioboro dirancang sebagai kegiatan komersial, kondisinya kurang lebih sama hingga sekarang. Yang berhadapan langsung dengan pasar Beringharjo, jalan Lor Pasar, berkembang ramai menjadi deretan ruko kelontong, plastik, sementara yang tegak lurus ke utara, jalan Ketandan Kidul, penuh dengan ruko emas. Toko-toko tersebut dulu ada yang menjual tembakau dari Temanggung, dimana di bagian belakang terdapat ruangan tempat menjemur dan memproses tembakau yang seiring dengan menurunnya perdagangan tembakau, ruang terbuka belakang tidak dibutuhkan lagi dan di atasnya penduduk lantas membangun rumah. Muncullah permukiman tanpa perencanaan dengan jalan yang cenderung sempit, berbeda dengan ruko-ruko yang berderet rapi sepanjang jalan.

Perkembangan yang spontan tampak pula di Kantilrejo, terletak di belakang deretan ruko Malioboro dan jalan Suryatmajan, yang beberapa waktu lalu terjadi kebakaran. Konon, tanah yang sekarang di atasnya terbangun permukiman padat tersebut dulunya dimiliki seorang pedagang tembakau dari Temanggung. Ketika meninggal, tanah tersebut menjadi tidak bertuan dan pelan-pelan orang mulai membangun rumah di atas tersebut. Mereka orang yang bekerja di Malioboro ataupun menghasilkan apapun yang dijual di sana.

Pernak-pernik masyarakat tiong Hoa

Pernak-pernik masyarakat Tiong Hoa

Ketandan sekarang terdiri dari bagian-bagian yang berbeda-beda, dan ini merupakan gambaran bagaimana sebuah kampung mengalami transformasi. Ada ruko dengan gaya Tiong Hoa, ada yang menjadi daerah hunian, yang menjadi gudang, sarang burung walet atau sedang tidak digunakan seperti yang pernah dimanfaatkan untuk pameran pada Pekan budaya Tiong Hoa Yogyakarta lalu. Ada yang secara ekonomi berkembang dengan baik sekaligus menjadi identitas kawasan, ada pula yang menjadi kampung hunian padat, seperti Kantilrejo. Bobi Setiawan dari arsitektur UGM, dalam sebuah diskusi yang diadakan Yayasan Pondon Rakyat (YPR) berpendapat, “Kampung juga menjadi urat nadi dan jantung kota. Sebagian besar tenaga kerja dan kegiatan ekonomi kota didukung oleh kampung dan warganya” (Setiawan, 2006). Toko emas memiliki peran penting secara ekonomis, namun Kantilrejo pun memiliki peran sebagai daerah hunian untuk bekerja di kota, keduanya memiliki peran masing-masing untuk kawasan. Ketandan merupakan satu gambaran tentang kedinamisan kampung dan mungkin realita bentuk yang sekarang telah berbeda dengan bentuk saat otentiknya, bukan pada fisik saja, tapi terutama roh yang dipengaruhi cara hidup masyarakat yang tinggal. Mengembalikan keotentikan tanpa menanggapi cara hidup yang telah berbeda justru dapat membuat usaha pelestarian pusaka menjadi semacam teror bagi masyarakat.

Block plan kawasan bersejarah sekitar jalan Malioboro

Block plan kawasan bersejarah sekitar jalan Malioboro

Menghidupkan kawasan bersejarah dapat diawali dengan membuat panduan desain kawasan (Kompas, 20/03). Menjaga kelestarian pusaka kota semestinya sudah merupakan suatu pemikiran yang mendasar dalam membangun kota, meskipun perlu dicatat tidak semua kawasan bersejarah sebaiknya dipertahankan dengan ketat. Adalah alami bahwa dalam kehidupan kota, ada bagian yang baru, yang hilang dan akan dipertahankan sehingga yang penting perlu suatu strategi inovasi yang mengolah kenyataan tersebut untuk membuat tetap hidup dan dapat bermanfaat secara ekonomi pula. Pada kawasan tua lain di kota bersejarah dunia seperti Le Marais, Paris yang dijadikan kawasan museum (mirip Kawasan Jakarta Tua) dan Kawasan Gotik, Barcelona yang ditumbuhi ruang terbuka La Rambla, strateginya adalah menciptakan kegiatan baru yang berbeda dengan keotentikannya. Sebagai dampaknya, wisatawan datang menikmati kegiatan baru tersebut sekaligus mengapresiasi suasana kawasan. Pariwisata pun kemudian berkembang dan masyarakat menanggapinya dengan membuka usaha sehingga kawasan bersejarah tersebut kembali hidup.

Akhirnya, ‘membangun kawasan bersejarah yang dinamis’ berarti memanfaatkan potensi kedinamisan serta keunikan yang dapat menjadi pijakan perencanaan pengembangannya, serta dilengkapi dengan inovasi untuk membangun kawasan yang hidup. Dengan demikian, kita tidak lantas berisiko kehilangan relevansinya atas kota yang sedang berkembang, serta tidak kehilangan kemampuannya menjaga kenangan kota.

One thought on “Membangun Kawasan Bersejarah yang Dinamis

  1. Selamat siang!
    saya melihat peta blok plan kawasan malioboro, boleh gak kalo saya minta file peta blok plan kawasan bersejarahny tapi dalam bentuk size yang besar? dengan tujuan untuk pendidikan….
    mohon konfirmasinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s