Efek Mozart


Oleh : Dhani
Tulisan ini ditampilkan dalam blog pribadinya “Bianglala” 9 Desember 2007

Bersantai di akhir pekan, ditemani satu seri Piano Concerto dari Mozart (koleksi lama yang masih saja asyik untuk didengar), sebuah pertanyaan “iseng” terlintas di benak: Apa benar komposisi mozart memiliki pengaruh terhadap kecerdasan pendengarnya – yang sering diistilahkan sebagai Efek Mozart itu?

Heboh soal efek Mozart ini pertama kali dipicu oleh sebuah penelitian yang dimuat di jurnah ilmiah bergengsi, Nature (vol 365 tahun 1993) dengan judul “Musical and Spatial Task Performance”. Paper ini memuat riset eksperimen dari Franches Rauscher dkk, ahli neurosains dari Universitas Wisconsin di Oshkosh, AS.

Rauscher melakukan serangkaian test kemampuan analitis spasial kepada sejumlah anak. Sebelum tes dimulai, peneliti terlebih dahulu memberi waktu 10 menit untuk jeda penenangan diri dan melakukan pembagian 3 kelompok, masing-masing adalah kelompok yang berdiam diri hening tanpa alunan musik, kelompok yang mendengarkan musik jenis relaksasi instrumental genre new-age dan sekelompok yang mendengarkan komposisi klasik gubahan Mozart “Sonata for Two Pianos in D Major”. Hasilnya, kelompok kanak-kanak yang diperdengarkan musik Mozart menunjukkan pencapaian nilai yang cukup mencolok dibanding nilai kelompok lainnya, yakni dalam satuan 8 – 9 IQ spatial points.

Mungkin ini adalah paper biasa yang memuat hasil penelitian yang masih preliminary. Penelitian lain yang lebih baru malahan menunjukkan bahwa peningkatan kecerdasan spasial pada subjek yang mendengarkan Mozart hanya bertahan sekitar 10-12 menit. Artinya efek tersebut bersifat temporal (sementara) saja. Tapi, tahukah anda, begitu berita ini sampai ke tangan wartawan yang kemudian mempublikasikannya ke media populer, maka ceritanya bisa menjadi lain. Apalagi ketika cerita ini akhirnya sampai ke telinga para pebisnis yang oportunis.

Buku “Mozart Effect” karangan Ian Campbell misalnya (sudah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Gramedia), penuh dengan contoh-contoh kasus dimana komposisi Mozart dianggap sukses mendongkrak IQ, “menyembuhkan” berbagai kelainan mental pada anak, dan sebagainya. Tapi, dengan kacamata ilmiah, buku ini harusnya dibaca secara lebih skeptis.

Bicara dari sisi seorang peminat sains (walaupun bukan saintis), saya kok merasa kurang yakin dengan validitas efek Mozart ini. Tidak ada korelasi yang jelas antara musik Mozart dengan peningkatan kecerdasan. Misalkan kita beranggapan bahwa frekuensi suara yang dihasilkan instrumen yang memainkan Mozart, entah bagaimana berpengaruh terhadap aktifitas otak pendengarnya. Pertanyaannya, kenapa harus Mozart, bukannya Bach atau Beethoven misalnya?

Lantas seandainya kita katakan bahwa kuncinya ada pada melodi dari komposisi Mozart. Pertanyaannya sekarang, karena sebuah komposisi bisa dimainkan dengan bermacam-macam interpretasi, lantas interpretasi yang manakah yang paling “paten” dalam mendongkrak IQ?

Misalnya kalau kepada anak kita, kita perdengarkan komposisi Mozart “Variations on Ah! Vous dirais-Je Maman” (K.265) yang dibawakan oleh orkestra lengkap, apakah efeknya akan sama dengan mendengarkan “Twinkle-Twinkle Little Stars” dari kaset lagu anak-anak, atau bahkan lagu anak-anak Jerman “Alle Vöglein Sind Schon Da!” – yang melodinya mirip dengan komposisi Mozart tersebut?

Hasil sebuah eksperimen sains harusnya dapat direproduksi dalam eksperimen lain dengan keluaran yang konsisiten. Berikutnya, eksperimen itu harus dapat menunjukkan kaitan yang jelas antara aksi (perlakuan) yang dikenakan terhadap subjek percobaan dengan reaksinya. Dengan memperdengarkan Mozart kepada seorang, atau sekelompok anak (subjek percobaan) dan lantas kita menemukan sang subjek memiliki IQ tinggi, bukan berarti eksperimen itu bisa diulangi pada sembarang subjek dengan hasil yang sama. Dan sampai sekarang, masih belum ada fakta sains yang bisa menguatkan kaitan antara musik Mozart dan tingkat kecerdasan seseorang.

Saya sendiri beranggapan bahwa apa yang disebut-sebut seabagai efek Mozart itu hanyalah semacam efek plasebo. Mungkin banyak anak-anak yang terbiasa mendengarkan Mozart, dan kemudian menunjukkan tingkat kecerdasan yang tinggi. Tapi bisa jadi, tanpa Mozart sekalipun si anak sebenarnya sudah cerdas.

Banyak variabel yang juga turut berperan dalam pertumbuhan intelegensia seseorang. Kita bisa saja mengambil asumsi, misalnya karena orangtua yang memperdengarkan Mozart kepada anaknya kebanyakan dari keluarga berada atau golongan berpendidikan, maka si anak mungkin sebenarnya tumbuh cerdas bukan karena Mozart, melainkan karena asupan gizi yang baik, atau rangsangan intelektual dari lingkungan sekitarnya. Dari segi ini, persoalannya jadi mirip paradoks ayam dan telur.

Lantas, berbicara dari sisi seorang penggemar musik klasik, saya tidak menganggap Kaset/CD Mozart Effect yang dijual di toko kaset itu sebagai musik klasik yang sesungguhnya. Komposisi-komposisi didalamnya dimainkan dengan keyboard, dan bukannya orkestra lengkap sebagaimana lazimnya musik klasik yang serius. Komposisi itu juga sudah terlalu disederhanakan sehingga tidak terlampau mirip dengan aslinya. Saya tidak yakin, seandainya Mozart masih hidup, dia akan suka mendengarkan karya-karyanya dimainkan dengan cara seperti itu.

Sebagai catatan akhir, Austria, negeri mungil berpenduduk 7 juta jiwa di Eropa barat, tempat Mozart pernah berkarya juga terkenal dengan budaya sainsnya. Sejauh ini, sudah 18 hadiah Nobel yang tercatat atas nama warganya (bandingkan dengan Indonesia dengan 220 juta lebih penduduk yang tidak pernah menghasilkan satupun Nobel). Tapi semua sepakat, tidak ada korelasi antara budaya seni musik di Austria dengan Nobel. Di sisi lain, Profesor Ahmad Zewail – peraih Nobel Kimia yang biografinya pernah saya ulas beberapa waktu lalu – juga dikenal sebagai fans berat Ummi Kulthum, penyanyi legendaris Mesir. Toh orang-orang Mesir yang mengidolakan Zewail tidak perlu memaksa anak-anak mereka mendengarkan Ummi Kulthum supaya bisa sepintar Zewail.

Moral of the story: musik mungkin bisa memberikan “mood” yang cocok bagi seseorang, entah dalam belajar ataupun berkarya. Tapi pengaruhnya akan sangat berbeda di tiap orang. Begitu pula pilihan musik yang didengarkan, itu juga sangat individual. Klaim yang menyatakan jenis musik tertentu dari komposer tertentu bisa memiliki khasiat tertentu, seharusnya juga ditambahi dengan embel-embel “bagi orang-orang tertentu” pula.

3 thoughts on “Efek Mozart

  1. say juga meragukan efek mozart, mungkin kurang ilmu kali ya? efek mozart itu sama misteriusnya dengan efek sugesti (hipnotis).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s