Membaca Sebuah “Kata”


Aneh…mungkin ini yang ada di dalam pikiran dan benak pembaca, begitu membaca judul tulisan ini. Membaca Sebuah “Kata?” Sebenarnya apa maksud tulisan tersebut? Mengapa harus “Kata?” Sedikit untuk kilas balik, judul ini dipilih dipicu dari pesan singkat salah seorang teman yang masuk melalui handphone, menanggapi komentar saya di blognya. “Thx ya commentnya. Sip, tnpa kata dibingkai kutip! Hehehe. Semangat!” Begitulah isi pesan singkat dari teman tersebut. Dia menyampaikan keberatannya karena terkadang banyak sekali kata-kata yang saya tulis, baik di pesan singkat, email (surat elektronik) maupun tulisan-tulisan di blog yang “dibingkai” (dalam tanda kutip lagi…) dalam tanda kutip (anda bisa mengecek tulisan di blog ini dan dipersilakan menghitung berapa jumlah kata-kata yang dibingkai dalam tanda “kutip”). Tanpa bermaksud membela diri, barangkali perlu dijelaskan mengapa memakai kata-kata dalam tanda kutip, meskipun jika ditinjau secara aturan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) penggunaannya keliru.

Pertama, kata-kata dalam tanda “kutip” dicantumkan untuk memperhalus maknanya sehingga “mungkin” bisa mengurangi ketersinggungan pihak-pihak lain. Misalnya ketika akan mengatakan “Tindakan itu keliru besar.” Jika ditulis demikian, barangkali tidak semua orang bisa menerimanya. Sehingga redaksionalnya perlu sedikit diubah menjadi “Bagaimana seandainya…” barangkali hal ini lebih bisa diterima. Meskipun di era sekarang kecenderungan kita untuk to the point seakan menjadi sebuah keharusan. Perlu kiranya sedikit menengok ke belakang membuka lembaran sejarah sastra bangsa ini yang demikian agung. Bagaimana pendahulu-pendahulu kita mengungkapkan suatu hal demikian halus dan santun tanpa mengurangi isi dan makna yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut sedikit banyak bisa mengurangi timbulnya gesekan-gesekan atau kesalahpahaman. Meskipun tidak selamanya kita harus terjebak dengan sikap bertele-tele yang berbingkai kata-kata bermakna bias dan kias. Apalagi bagi masyarakat yang hidup dalam budaya dimana jika berbicara dan bertutur tanpa tedheng aling-aling (to the point) seperti masyarakat di daerah pesisir (dekat dengan laut), misal Surabaya yang terbiasa berbicara apa adanya (ceplas-ceplos). Penggunaan kata-kata bermakna bias dan kias menjadi sebuah hal yang menjengkelkan. Kedua, memberikan “penekanan” baik pada kata itu sendiri maupun maknanya. Maksud dari penekanan sendiri adalah bahwa kata-kata yang dibingkai dalam tanda petik bisa menjadi kunci dalam memahami apa yang tertulis atau yang ingin disampaikan.

Karena kekurangbijaksanaan dan ketidakmampuan dalam memahami orang lainlah yang menjadi pemicu timbulnya keberatan-keberatan tersebut. Harus diakui terkadang virus keakuan, egosentris, selfish, dimana memandang segala sesuatunya dengan ukuran diri pribadi banyak memeberi pengaruh . Kungkungan ini terkadang membuat diri ini berpikir sempit, ibarat melihat segala sesuatunya dengan kaca mata kuda. Teringat dengan nasehat dan wejangan bijaksana, bahwa seorang cendikiawan dan intelektual bukanlah mereka yang mampu berpikir dan berbicara dengan kata-kata yang terkesan “tinggi,” menggunakan demikian banyak istilah asing. Namun cendikiawan dan intelektual merupakan sesosok makhluk yang mampu memahami dan memberi kemanfaatan bagi orang lain. Bahwa ketika berbicarapun kita harus bisa melihat siapa audience (pendengarnya), saat menulispun hasilnya harus bisa dipahami dan dimengerti oleh pembacanya. Kita sering kali terbius dan terjebak ketika mendengar orang lain berbicara atau membaca karya seseorang yang banyak menggunakan kata-kata asing dan timbul pikiran pastilah orang tersebut cerdas dan mempunyai tingkat intelektual tinggi. Jika menyimak media baik cetak maupun elektronik hampir tiap hari kita disuguhi drama dan kabaret kata-kata asing. Orang-orang yang dianggap dan masuk dalam kategori cendikia dan intelektual ketika menyampaiakn pendapatnya baik melalui tulisan maupun berbicara di televisi begitu menggebu-gebu menggunakan istilah dan kata-kata ‘asing’. Mereka yang masuk kategori cendikiawan dan intelektual ini harusnya memberikan pencerahan dan membuat orang lain menjadi mengerti terhadap sebuah permasalahan yang dihadapi. Namun yang terjadi adalah bukannya memposisikan pihak lain agar makin mengerti tetapi justru sebaliknya, membuat pihak yang mendengar atau membacanya berada dalam posisi makin tidak mengerti. Semangat pencerdasan yang seharusnya menjadi landasan dasarnya dikaburkan dengan keinginan untuk diakui. Karena apa yang diungkapkannya tidak mudah untuk dipahami orang lain. Tulisan inipun belum tentu bisa dipahami semua pembacanya karena keterbatasan kemampuan yang dimiliki penulis. Namun kekurangmampuan ini tidak lantas membuat seseorang berhenti untuk menulis. Kuncinya adalah proses. Proses merupakan sebuah pembelajaran yang sangat berharga. Melalui proses ini ada sebuah harapan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Apa jadinya andai kita membaca tulisan berikut ini, “keberadaan” patung itu mampu memberi “ruh” dan seakan menjadi “jiwa” sehingga mampu memberikan “spirit” serta nilai-nilai positif bagi perkembangan seni dan budaya negeri ini. Esensi dasarnya adalah “memindahkan” atau “meminiaturkan” sebuah nilai dan tatanan……” Penulis sendiri belum tentu memahami apa yang ditulisnya, apa lagi mereka yang membacanya. Cape’ dee………..hhhhh…….

One thought on “Membaca Sebuah “Kata”

  1. yups… lagi-lagi rangkaian kata-kata yang menarik.
    ditilik dari sudut pandangnya, kupasan mengenai topik ini menjadi dapat lebih luas, meski awalnya cuma sekedar “kata” (baca : kata dalam tanda kutip).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s