Jangan Remehkan Waktu Tidur


Oleh : Evy Rachmawati
Dimuat di Kompas, 13 Juni 2008

MALAM hari adalah saat bagi kita untuk merebahkan diri de atas ranjang hingga terlelap tidur. Tatkala tidur, hampir semua organ tubuh mengistirahatkan diri. Tak heran jika tubuh kita lebih bugar ketika bangun tidur pada pagi hari.

Tidur juga dapat membuang sel-sel rusak dan mengganti dengan yang baru dengan meregenerasi dan membentuk sel baru. “Tiap hari ada sel-sel mati, tapi dengan jumlah tertentu dan diregenerasi dengan sel-sel baru. Harus ada keseimbangan antara sel-sel mati dan sel-sel tumbuh. Kalau tak ada regenerasi, fungsi organ akan turun,” kata ahli THT Syahrial dari FKUI-RSCM.

Namun, tidak semua sel beristirahat saat tidur. Ada juga sel-sel yang tetap bekerja saat tidur, misalnya jantung dan paru-paru. Akan tetapi, saat tidur kapasitas organ kerja tersebut pada tingkat metabolisme sel terendah (jumlah minimal energi yang dipakai untuk kehidupan dasar), di antaranya denut jantung menurun.

Tidur selama 6-8 jam cukup mengistirahatkan semua sel. Menurut Syahrial, tidur berlangsung dalam empat fase, saat awal tidur dengan non-rapid eyes movement (non-REM) sampai memasuki REM dan akhirnya tidur nyenyak (dream sleep). Kalau fase tidur lelap cukup lama, istirahatnya cukup baik. Itu bisa dibedakan melalui analisis gelombang otak. “Kalau tidur terganggu, proses regenerasinya akan terganggu,” kata Syahrial.

Jika lama tidur minimal enam jam, waktu dream sleep akan terpenuhi. Sementara kalau tidur kurang dari enam jam, fase dream sleep berkurang sehingga leih sulit mencapai regenerasi semua sel. “Tubuh dita diciptakan sedemikian rupa sehingga siang hari beraktivitas dan malam hari beristirahat. Pada siang hari, dream sleep lebih susah dicapai karena pengaruh hormonal, suhu ruangan dan suara berisik,” ujarnya.

Ahli fisiologi FKUI-RSCM, dr Moehammad Djauhari, menjelaskan, saat tidur terjadi peningkatan produksi hormon pertumbuhan yang berguna untuk menyimpan dan memperbaiki struktur protein. Sintesis protein dibutuhkan saat penggantian jaringan. “Tubuh punya irama harian. Jadi, tidur siang tidak akan selelap tidur malam. Karena itu, sekresi hormon untuk mengganti protein lebih efektif jika tidur malam,” katanya.

Selain mengurangi simpanan lemak, hormon pertumbuhan juga berfungsi mempengaruhi metabolisme tubuh dan menyebabkan dikeluarkannya hormon lain seperti insulin-like growth factor (faktor pertumbuhan yang menyerupai insulin/IGF). IGF-1 berfungsi untuk pertumbuhan dan mempertahankan tulang, IGF-2 utnuk pertumbuhan dan mempertahankan tulang, IGF-2 untuk pertumbuhan organ tubuh bukan tulang.

Meningkatnya hormon pertumbuhan terjadi saat kita tidur maupun beraktivitas fisik. Berdasarkan irama harian, hormon pertumbuhan meningkat saat tidur lelap menjelang larut malam, sekitar jam 10-12 malam. Lewat tengah malam, produksi hormon itu menurun dan sedikit naik lagi pada pukul tiga dini hari. “Semua hormon itu ada irama hariannya, ada jam-jam tertentu produksi meningkat. Jadi, kita akan kehilangan masa puncak produksi hormon pertumbuhan kalau tidur terlalu malam,” kata Djauhari.

Seseorang juga lebih mudah mengantuk dan tidur lelap malam hari, terutama jika pencahayaannya gelap karena terjadi peningkatan hormon melatonin yang dibutuhkan untuk lelapnya tidur. “Belum ada bukti secara ilmiah apakah tidur siang juga memproduksi hormon pertumbuhan dalam jumlah sama dengan malam hari,” ujarnya.

Gangguan kesehatan
Daniel Kripke, co-director riset di Scripps Clinic Sleep, di La Jolla, California, kepada majalah Time baru-baru ini menyatakan, pada tahun 2002, ia membandingkan tingkat kematian pada lebih dari satu juta orang dewasa di Amerika, sebagai bagian dari studi pencegahan kanker, terkait rata-rata lama tidur mereka setiap malam. Studi serupa juga dilakukan di Eropa dan Asia Timur.

Studi memperlihatkan, seseorang yang tidur 6,6-7,5 jam setiap malam, hidup lebih panjang. Seseorang yang tidur delapan jam atau lebih maupun tidur kurang dari 6,5 jam per hari ternyata tidak hidup lebih panjang. Ada banyak resiko terkait dengan tidur terlalu banyak dan tidur terlalu pendek. Tidur selama 8,5 jam sedikit lebih buruk dibandingkan dengan tidur selama lima jam.

Tingkat kesakitan terkait dengan lama tidur sangat singkat dan sangat panjang diasosiasikan dengan banyak penyakit, diantaranya depresi, obesitas dan penyakit jantung. Akan tetapi, lama tidur dilihat dari standar kesehatan di tempat sama ternyata tidak jau berbeda. Yang terbanyak adalah 7-8 jam, tetapi ada beberapa orang tidur selama enam jam dan sembilan jam.

“Seseorang yang tidur 6,5-7,5 jam diperkirakan hidup lebih lama, tetapi alasan, penyebab dan efeknya belum diketahui. Jadi, belum dipahami apakah seseorang yang tidurnya singkat dapat hidup lebih lama dengan memperpanjang waktu tidur dan apakah seseorang yang tidur panjang dapat hidup lebih lama dengan memasang alarm jam agar bisa bangun lebih awal. Ini masih perlu tes lagi,” ujarnya.

“Kita bisa memcegah insomnia dan mengurangi stress hanya dengan memberi tahu seseorang bahwa tidur singkat bukan masalah,” kata Kripke. Selama ini kita dianjurkan tidur 8-9 jam sehingga kita sulit memulai tidur dan sering bangun sepanjang malam. Studi memperlihatkan, pada penderita insomnia, dengan tidak berbaring di atas tempat tidur jika tidak mengantuk dan mengatur waktu tidur akan membantu tidur lebih lama. Mereka jadi percaya diri dan tak khawatir sulit tidur jika berada di ranjang.

Tidur adalah kebutuhan

Sebelum Thomas Edison menemukan listrik pada tahun 1880, orang tidur rata-rata 10 jam per hari. Kini, menurut National Sleep Foundation, orang Amerika rata-rata tidur 6,9 jam setiap malam dan 7,5 jam semalam pada akhir pekan. Diperkirakan 40 juta orang Amerika berjuang mengatasi gangguan tidur per tahun.

“Kelompok yang tidur optimal makin sedikit. Seseorang yang tidur hanya enam jam atau kurang akan mengalami banyak masalah,” kata Dr Chris Drake, peneliti senior Henry Ford Hospital Sleep Disorders and Research Center di Detroit sebagaimana dikutip Health Day News.

Meski kalangan ahli merekomendasikan tidur 7-8 jam tiap malam, lama tidur yang diperlukan tiap individu bisa bervariasi. Namun, efek kurang tidur terhadap kenerja seseorang dapat segera terlihat. Jika Anda mengubah kebiasaan tidur, efeknya segera terlihat. Anda dapat membuat keputusan buruk dan kehilangan sesuatu,” ujarnya.

Dalam jangka panjang, gangguan tidur bisa menimbulkan masalah kesehatan di antaranya obesitas, hipertensi, masalah jantung dan depresi. “Hormon pemroses nafsu makan mulai terganggu yang ditandai berkurangnya jumlah leptin (hormon penekan nafsu makan) ketika seseorang tidur terlalu singkat. Pada saat sama, gherelin (hormon pendorong nafsu makan) meningkat jika kurang tidur,” kata Drake.

Kurang tidur juga mengganggu kemampuan tubuh untuk mengatur glukosa dan dapat menyebabkan peradangan yang bisa memicu masalah jantung dan meningkatkan tekanan darah. Stres juga dialami seseorang jika kehilangan waktu tidur.

Tipe seseorang yang kurang tidur juga dibagi dalam dua kelompok. Pertama, kelompok yang pergi tanpa cukup tidur sebagai bagian dari budaya. Seseorang bangga pada dirinya jika sedikit tidur. Anda akan mendengar seseorang dengan bangga mengatakan “saya hanya butuh enam jam untuk tidur setiap malam.” “Jadi, agar terkesan maskulin,” kata Direktur Sleep and Performance Research Center di Washington State University Dr Greg Balenky.

Pada kelompok lain, seseorang tidur dalam waktu pendek karena mengalami gangguan tidur di antaranya insomnia, henti napas saat tidur sehingga sering terbangun. Henti napas saat tidur paling banyak dijumpai pada kasus gangguan tidur dan akan berdampak serius jika tidak diobati. “Anda bangun karena henti napas saat tidur. Anda tidak dapat tidur dan bernapas saat bersamaan. Ini faktor risiko berkembangnya penyakit kardiovaskular,” ujar Drake.

Banyak orang yang mengalami gangguan tidur akan menggunakan obat-obatan sedatif. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyerukan kepada para produsen obat-obatan sedatif-hipnotik untuk memperjelas label peringatan mereka. Aksi ini sebagai tindak lanjut laporan bahaya reaksi alergi dan efek samping terhadap perilaku pasien seperti sering menelepon, mengonsumsi makanan atau berhubungan intim saat tidur.

Drake dan Balenky menyatakan, pil tidur bagus digunakan dalam jangka pendek atau hanya merupakan solusi sementara. Jika seseorang mengalami insomnia atau mencoba tidur pada waktu yang salah kerena telah bepergian melintasi wilayah dengan perbedaan waktu, penggunaan pil tidur bisa efektif. Akan tetapi, pil tidur ini tidak akan membantu masalah tidur yang kronis.

Departemen Kesehatan Amerika Serikat memberi sejumlah tip untuk mendapat waktu tidur sesuai jadwal, menghindari konsumsi kafein, nikotin dan alkohol sebelum tidur, menghindari konsumsi daging terlalu malam, bersantai sebelum tidur, membaca buku atau mendengar musik irama lembut. Jika masih terjaga setelah lebih dari 20 menit berbaring di ranjang, bangun dan kerjakan sesuatu yang membuat relaks hingga mengantuk.

Agar regenerasi sel-sel tubuh tercapai, gangguan tidur harus dicari penyebabnya. Jika tidak segera diatasi, masalah tidur itu akan menghambat regenerasi sel-sel sehingga menurunkan fungsi organ tubuh.

“Apabila seseorang berubah jam tidurnya dari malam hari jadi siang hari, ada yang bisa beradaptasi tapi banyak juga yang jadi lebih mudah sakit,” ujar Syahrial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s