Televisi+Euro 2008=Begadang


Memasuki bulan Juni mulai tanggal 7 sampai 30, hampir sebagian besar perhatian penduduk dunia tersita untuk sebuah event yang bernama Euro 2008 atau Piala Eropa 2008 yang berlangsung di Austria dan Swiss. Perhelatan empat tahunan, yang tahun ini memasuki edisi ke-13 nya meskipun berlangsung di Benua Biru, namun dampak yang ditimbulkannya cukup besar. Bisa dimaklumi karena negara-negara di belahan eropa memang piawai dalam hal “memasarkan” produknya. Jadi meskipun perhelatan ini seharusnya “hanya” event lokal namun pada akhirnya menjadi mendunia.

Bisa dikatakan bahwa edisi Euro 2008 ini sedikit banyak menjadi semacam “pemanasan” bagi kegiatan multievent yang lebih besar, olimpiade Beijing di China. Pengaruh besar kegiatan-kegiatan tersebut tidak terlepas dari peran media khususnya media elektronik yaitu televisi. Sepakbola yang diklaim sebagai olahraga terpopuler di “jagad” ini memang memberikan nilai jual tersendiri. Pun demikian yang terjadi di Indonesia. Negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa ini menjadikan sepakbola sebagai “tuntunan” sekaligus “tuntutan”. Dikatakan tuntunan karena sepakbola merupakan olahraga paling merakyat di negeri ini. Sehingga apa yang terjadi terhadap sepakbola tanah air menjadi pembicaraan dan disorot publik. Apa yang dilakukan insan yang terlibat di dalamnya terkadang menjadi acuan bagi masyarakat luas. Disebut tuntutan karena sebagai olahraga paling favorit tentu sudah menjadi kewajaran jika masyarakat menuntut prestasi nyata dari Timnas Indonesia. Meskipun sampai saat ini tuntutan tersebut masih sekedar tuntutan tanpa “jawaban” karena prestasi Timnas yang tidak kunjung membaik. Toh kondisi ini tidak menyurutkan dukungan masyarakat kepada PSSI sebagai wadah berkarya bagi insan-insan sepakbola Indonesia.

Demam Euro 2008 inipun melanda Indonesia. Gejala ini tidak lepas dari pengaruh televisi yang rutin menyiarkan secara langsung pertandingan-pertandingan yang berlangsung. Tahun ini hak siar dipegang oleh kelompok PT Media Nusantara Citra (MNC) yang membawahi tiga stasiun televisi nasional, RCTI, Global TV dan TPI. Jadilah pecinta bola di Indonesia seakan-akan “dikepung” oleh pertandingan-pertandingan sepakbola. Mengapa bisa terjadi “pengepungan”? Hal ini tidak terlepas dari kebijakan ketiga stasiun televisi nasional tersebut untuk menyiarkan pertandingan secara bersamaan karena berada di bawah satu manajemen. Menurut pihak PT MNC strategi keroyokan ini dilakukan untuk menaikkan rating ketiga stasiun televisi tersebut. Namun, kita yang berada di Indonesia harus bersyukur bahwa pertandingan-pertandingan di ajang Euro 2008 ini bisa dinikmati secara gratis mengingat negara-negara lain sudah menerapkan sistem pay per view. Dimana kita harus membayar jika ingin menikmati tontonan televisi yang diinginkan.

Seperti lazim terjadi di Indonesia, bahwa setiap event terutama olahraga akan memberikan dampak dan euforia dalam masyarakat yang masih saja setia menjadi “pengikut” atau follower. Pernak-pernik Euro seakan menjadi hal yang wajib. Belum lagi kegiatan taruhan (kalau tidak bisa dikatakan sebagai perjudian), terutama untuk menjagokan negara-negara yang secara tradisional kuat persepakbolaannya. Jerman, Italia, Perancis, Belanda, Spanyol menjadi tim yang paling dijagokan. Belum lagi ditambah para “spekulan” yang biasanya berani berspekulasi bertaruh untuk tim-tim kuda hitam. Portugal, Kroasia, Ceko menjadi tim terdepan yang siap mengancam hegemoni tim-tim besar yang ada. Seperti terjadi di perhelatan Euro 2004 yang memunculkan kesebelasan yang tidak diunggulkan, Yunani sebagai kampium.

Fenomena lain yang paling dahsyat adalah munculnya “komentator-komentator” dadakan dalam mengulas pertandingan. Mereka ini kadang bukan pemain atau mantan pemain namun analisa mereka mungkin terkesan “lebih ahli” dibandingkan para pelatih yang menangani tim-tim yang berlaga. Barangkali inilah gambaran bangsa Indonesia yang lebih suka “menilai dan menghakimi” dibandingkan “berbuat dan bertindak”.

Dampak terbesar yang dirasakan dengan adanya Euro ini adalah begadang! Istilah yang dipopulerkan oleh H Rhoma Irama bersama Soneta-nya. Di beberapa daerah begadang ini memiliki penyebutan berbeda-beda. Bagi masyarakat Surabaya, begadang ini lebih dikenal dengan sebutan “melekan”, sementara di Jogjakarta dan sekitarnya lebih mengenal begadang ini sebagai “lek-lekan”. Kedua istilah tersebut berasal dari akar kata yang sama yaitu “melek” atau terjaga. Begadang sendiri berarti “memaksa” mata sebagai indera penglihatan untuk selalu terjaga dalam kurun waktu tertentu. Aktivifitas ini biasanya tidak dilakukan “sendiri”, namun membutuhkan “teman seperjuangan” yaitu secangkir kopi panas dan camilan (biasanya kacang).

Begadang untuk menonton sepakbola sendiri memiliki konsekuensi, yaitu menyalakan televisi di waktu yang tidak semestinya. Jika mengacu pada himbauan pemerintah untuk melaksanakan penghematan energi, maka kegiatan ini menjadi sebuah hal yang kontraproduktif. Tetapi pemerintahpun tampaknya perlu berpikir bijaksana. Kebijakan-kebijakan mereka akhir-akhir ini dirasakan “memberatkan” kehidupan masyarakat. Maka dalam rangka menyambut Euro ini himbauan penghematan energi tersebut bisa dikesampingkan. Mengapa? Setidaknya perhelatan empat tahunan ini bisa memberikan hiburan bagi rakyat dan sedikit mengurangi beban penderitaan mereka untuk sementara waktu. Bukan itu saja, banyak efekpositif dari acara “begadang” ini. Setidaknya dengan terjaga di malam hari paling tidak tingkat kewaspadaan masyarakat sedikit meningkat sehingga bisa meminimalisir terjadinya tindak kriminal berupa pencurian. Belum lagi trend untuk mengadakan acara “nonton bareng”. Di tengah kondisi masyarakat yang mulai mencoba berpikiran modern dan individualis acara nonton bareng ini bisa menjadi sebuah terobosan untuk bersosialisasi dan bermasyarakat. Momen ini dapat dimanfaatkan untuk proses saling mengakrabkan diri. Acara ini bisa diadakan di lingkup yang kecil misalnya di area pemukiman. Paling tidak antar tetangga bisa terjalin keakraban dan meningkatkan saling pengertian satu dengan lainnya. Jadi aktivitas begadang menonton pertandingan sepakbola tidak hanya sekedar hura-hura belaka namun mampu memberikan dampak positif pada hubungani sosial antar masyarakat. Mengingat kondisi sosial kemasyarakatan yang saat ini perlahan-lahan mulai bergeser dari masyarakat yang “guyub” ke masyarakat yang “cuek”. Dari masyarakat sosial menjadi masyarakat individual.

Seperti apa yang terungkap dalam bait lagu H Rhoma Irama, “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya…”. Sambil begadang di depan televisi, menikmati tontonan gratis Euro 2008, ditemani secangkir kopi hangat dan kacang, menunggu detik-detik terjadinya….gooooolllllllll……!!!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s