Sudahkah Surabaya Jadi Kota Sehat?


Oleh: Djoko Santoso
Ahli Ginjal-Hipertensi, member of American College of Physicians
Dimuat di Jawa Pos, 3 Juni 2008

Pada 31 Mei lalu, Surabaya merayakan hari jadinya yang ke-715. Kota ini telah tumbuh begitu cepat dan pesat. Sudahkah Surabaya menjadi kota yang sehat? Kota yang sehat adalah kota yang senantiasa mampu menciptakan dan memperbaiki lingkungan fisik dan sosialnya. sebagai contoh. Kota Canberrra, Australia. Kota tersebut berpenduduk 308.659 jiwa dengan luas area 2.400 kilometer persegi. Canberra tergolong sangat sehat.

Ada beberapa pertimbangan. Pertama, lebih dari 53 persen area seluruhnya terdiri atas taman alamiah. Kedua, antara fasilitas umum, area hunian dan perdagangan -industri, ditata secara baik dan seimbang. Untuk warga dengan taraf sosial-ekonomi rendah, rumah mereka diintegrasikan de daerah khusus suburban dengan komposisi 79 persen rumah bentuk detached. Kemudian 12 persen rumah semi detached. Sisanya berupa apartemen atau flat. Dari demensi ekonomi, Canberra hanya mempunyai angka pengangguran 6,6 persen dengan pendapatan setiap minggu USD 100, lebih tinggi daripada pendapatan rata-rata nasionalnya.

Ketiga, kualitas udara (NO2, CO, Ozone) dan air dimonitor secara reguler, termsuk air minum yang sangat berkualitas. Keempat, Canberra juga memberlakukan undang-undang bebas rokok sehingga bisa menurunkan efek bahaya rokok. Untuk prostitusi, meski dilegalkan, areanya benar-benar dilokalisasi.

Kelima, terkait dengan kebijakan obat, Canberra sangat meminimalkan bahayanya dengan cara menyediakan ruang suntik dalam kendali supervisor. Angka kematian bayi disana sangat rendah (3,8 per 1000 kelahiran hidup). Angka kematian 5,4 per seribu penduduk. Data-data kesehatan lain, 73 persen warganya aktif berolahraga dan 89 persen anak-anak di sana sudah terimunisasi lengkap.

Bagaimana halnya dengan Kota Surabaya? Pada kenyataannya, kota ini punya banyak problem. Setidaknya ada beberapa problem besar. Pertama, di bidang pembangunan. Gencarnya pembangunan (sayang terkesan hanya pembangunan ruko dan mal-mal) yang dilakukan dalam skala tertentu dapat menimbulkan terjadinya perubahan ekosistem yang drastis. Sehingga pada tahap selanjutnya, hal itu bisa berdampak negatif terhadap kesehtan. Suatu penelitian melaporkan bahwa terdapat hubungan antara derajat urbanisasi dan GDP (gross domestic product) per kapita, CO2 emission per kapita, konsumsi energi per kapita dan angka migrasi.

Kedua, bidang kependudukan. Dari tahun ke tahun, jumlah penduduk Surabaya terus bertambah. Penyebab utamanya dalah ketidakmampuan dalam mengontrol arus warga pendatang (urbanisasi). Meningkatnya arus urbanisasi sangat mudah dikaitkan dengan munculnya penyakit baru. Itu bisa terjadi karena perluasan urbanisasi menyebabkan banyak bermunculan sarang vektor (binatang pembawa penyakit). Akibatnya, terciptalah habitat ekologi baru untuk binatang pembawa penyakit.

Sebagai contoh di India. Daerah peri-urban negara itu memungkinkan vektor pembawa penyakit beradaptasi sebagai habitat ekologi baru. Akibatnya, nyamuk sebagai pembawa vektor dari filariasis (infeksi oleh cacing filaria yang berdiam di dalam saluran kelenjar getah bening), meningkat dengan cepat hingga insiden penyakit tersebut meningkat pesat. Bahkan, menjadi daerah endemis.

Adapun Surabaya menjadi tempat endemis penyakit demam berdarah. Dari data yang ada, penyakit yang disebabkan virus dengue ini banyak dijumpai di daerah peri-urban. Itu berarti, nyamuk aedes aegypti (pembawa virus demam berdarah) sangat mudah menyesuaikan dengan lingkungan tersebut. Selain itu, kota dengan tingkat konsentrasi tinggi seperti Surabaya mudah sekali menjadi media penyebaran penyakit. Padatnya tingkat hunian (jumlah orang/meter luas tempat tinggal, yang mestinya nilai standar=9 meter persegi tiap satu orang) sangat mudah dikaitkan dngan tingginya kejadian infeksi, seperti infeksi saluran napas, TBC dan kolera.

Ketiga, bidang transportasi. Kemacetan lalu lintas menjadi pemandangan sehari-hari di kota ini. Lalu lintas yang semakin padat menyebabkan meningkatnya kadar polusi udara. Polusi udara, selain disumbang dari asap knalpot kendaraan bermotor, juga dari asap industri.

Melihat problem-problem tersebut, sudah layakkah Surabaya disebut kota yang sehat? Menurut WHO ada 11 prinsip tentang kota yang sehat. Pertama, memperhatikan kebutuhan dasar. Itu meliputi bahan makanan, air, perumahan, pendapatan, lapanan kerja dan keamanan setiap warga kota. Kedua, lingkungan fisik yag berkualitas. Artinya, lingkungan yang bersih, aman secara fisik, serta udara dan airnya tidak terpolusi.

Ketiga, ekosistem yang stabil dan terkontrol, termasuk memperhatikan penghijauan kota. Keempat, ekonomi yang seimbang, termasuk memperhatikan kelompok cacat. Kelima, komunitas yang kuat dan saling mutualisme. Keenam, partisipasi warga kota. Ketujuh, akses yang luas terhadap pelayanan umum, termasuk fasilitas olahraga, tempat rekreasi, pedestrian, gedung sekolah dan pusat kesehatan masyarakat. Kedelapan, layanan publik yang optimal. Kesembilan, kompatibel dengan karakter setempat. Kesepuluh, status kesehatan warga. Dan kesebelas, sesuai dengan budaya setempat.

Bila hal tersebut dijabarkan lebih jauh ada beberapa indikator yang perlu diperhatikan Pemkot Surabaya agar kota ini menjadi kota yang sehat. Pertama, indikator sehat. Itu bisa dilihat dari angka kematian, berat badan lahir bayi dan penyebab kematian. Kedua, indikator layanan kesehatan. Itu bisa dilihat dari program pendidikan kesehatan, angka kesehatan, angka imunisasi, serta perbandingan dokter dengan jumlah populasi.

Ketiga, indikator lingkungan. Yang harus dipantau adalah polusi udara (target: kadar SO2=3 mkg/m3; NO2=12 mkg/m3; CO= 0,5 mkg/m3), kualitas air oengolahan limbah (limbah chemis = 80 mg/l), area hijau, fasilitas olahraga, rekreasi dan pedestrian. Keempat, indikator sosio-ekonomi. Yang perlu diperhatikan adalah jumlah penduduk yang rumahnya tidak layak, penggangguran, angka kemiskinan, rawat balita dan angkatan kerja dari kelompok cacat.

Sejauh ini, Pemkot Surabaya sudah berupaya menciptakan lingkungan fisik yang lebih baik. Misalnya, pembangunan trotoar sebagai tempat pejalan kaki, area umum yang lengkap dengan tamannya, pepohonan di tepi jalan, relokasi pedagang kaki lima, serta drainase di tepi jalan. Semua ini bisa menambah keindahan kota. Selanjutnya, Surabaya diharapkan mempu meningkatkan interaksi sesama warga kota, menurunkan tingkat stres warga, meningkatkan lapangan kerja dan dapat menjadi tempat wisata kota. Dirgahayu Kota Surabaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s