BBM, Lembur dan Inefisiensi


Kamis, 22 Mei 2008 seakan menjadi hari yang begitu padat. Kebetulan handphone kebanjiran pesan singkat (sms). Suatu hal yang tidak lazim terjadi. Kamis itu, mulai jam 9 pagi sudah ada nada panggil dari rekan yang kebetulan meminta bantuan pembuatan advice planning untuk perencanaan pembangunan perumahan di sebuah kota. Sebuah pekerjaan yang cukup baru sehingga harus mencari referensi. Mulai meminta tolong dari rekan lain yang dipandang memiliki kemampuan dan kecakapan dalam mengerjakannya. Ternyata orang yang diharapkan tidak tahu tentang pengerjaan advice planning tersebut. Masih ada harapan, seorang rekan yang bekerja di pemerintahan dan kebetulan instansi tempatnya bekerja memang berurusan dengan bidang-bidang perencanaan pembangunan menjadi sasaran pencarian referensi. Sialnya, rekan inipun tidak tahu menahu, namun masih sempat memberikan masukan dengan mengirimkan file materi yang memiliki kaitan dengan pengerjaan advice planning. Setidaknya dapat memberi solusi dan gambaran. Tidak berhenti sampai di situ, siang harinya ada yang berniat meminjam nama perusahaan (bendera) dari rekan lain untuk pengerjaan proyek tata kota di daerah tempat asalnya. Kucoba menghubungkannya dengan rekan yang memang berkompeten dengan memberinya contact person orang yang dimaksud. Akhirnya satu persatu beban pekerjaan yang menumpuk sedikit demi sedikit mulai terurai dan terselesaikan.
22 Mei 2008 pukul 13.37, pesan dari rekan yang masuk ke handphone dan isinya cukup menggelitik. “Btw, bbm naik merubah pola hidupmu gak?ngrasani******* yuk,aq heran dia sneng bgt liat anak buahnya lembur, Pdhl inefisiensi kan?kinerja yg bagus gak berbanding lurus karo kualitas lmbur. Rencanaku, aq mngurangi lembur,masiyo sithik, ngurangi beban listrik,paling2 dirasani thok, pduli amat..”Jam 13.49, pesan lanjutannya “Sori, malah tak curhati, aq lagi bete dg pola hdp yang dipenjara pkerjaan hny krn pnya atasan galak. Jane garapanku wis mari jam 4, hny gr2 atasanku menekan anak buahnya agr trlihat “kerja” di mata *******,kita semua dipaksa lembur. What a silly thougt.”

Bahasa khas pesan singkat (sms). Padat, singkat (kalau tidak bisa dikatakan disingkat) untuk menghemat karakter dan pulsa. Pesan di atas jika diterjemahkan dalam bahasa yang lebih baku isinya kurang lebih sebagai berikut:”By the way, BBM naik merubah pola hidupmu tidak? Membicarakan ******* yuk, aku heran dia seneng banget melihat anak buahnya lembur. Padahal inefisiensi kan? Kinerja yang bagus tidak berbanding lurus terhadap kualitas lembur. Rencanaku, aku mengurangi lembur, meskipun sedikit, mengurangi beban listrik, paling-paling hanya jadi bahan pembicaraan saja, peduli amat…”

“Maaf, malah jadi tempat curhat (curahan hati), aku sedang bosan dengan pola hidup yang dipenjara pekerjaan hanya kerena mempunyai atasan galak. Sebenarnya pekerjaanku sudah selesai jam 4, hanya gara-gara atasanku menekan anak buahnya agar terlihat “bekerja” di mata *******, kita semua dipaksa lembur. What a silly thougt.”

Sebuah pesan singkat (namun sebenarnya tidak singkat) yang mempunyai beberapa pertanyaan dan pernyataan yang menarik sekaligus ambigu. Ada kesan kebosanan menghadapi rutinitas kerja namun di sisi lain ada usaha untuk memikirkan hal-hal yang lebih besar (seperti penghematan energi). Karena dipikir menarik dan bisa dijadikan bahan diskusi, maka perlu kiranya diterjemahkan lebih mendalam.
1. BBM (Bahan Bakar Minyak)
Setelah berhari-hari masyarakat dihantui pemberitaan tentang rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM, akhirnya Jum’at 23 Mei 2008, Menteri Keuangan Sri Mulyani menjawab rumor dan kegundahan di masyaraakat itu. Bersama beberapa menteri terkait, Menteri Keuangan selaku wakil pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM. Rata-rata sebesar 28,7 %, kenaikan ini dibarengi dengan peluncuran program BLT (Bantuan Langsung Tunai) bagi warga miskin. Alasan kenaikan BBM ini menurut pemerintah seperti yang beberapa kali Wakil Presiden katakan bahwa selama ini BBM bersubsidi paling banyak justru dinikmati oleh mereka yang “berpunya” atau kaya. Meskipun jika dicermati efek terbesar justru dialami oleh masyarakat banyak karena harga-harga kebutuhan pokok menjadi naik. Terkait apakah kenaikan BBM ini merubah pola hidup? Saya katakan ya dan tidak! Jum’at malam sebelum, pada saat dan setelah pengumuman kenaikan BBM, mata ini tidak lepas dari benda bernama televisi. Menit demi menit menjadi begitu mendebarkan. Jika biasanya menonton televisi sekedar mencari hiburan namun saat menjelang pengumuman, berita dan wacana kenaikan BBM menjadi hal yang paling ditunggu. Mulai kepanikan antre BBM hingga dialog dengan berbagai macam pakar dengan beraneka ragam latar belakang ilmu seakan menjadi bumbu penyedap. Perubahan lain yaitu saat membaca surat kabar pagi, halaman pertama yang umumnya berisi headline dan hot issue menjadi makin terfokus. Biasanya halaman ini hanya dibaca sambil lalu saja.

Jadi perubahan perilaku pertama adalah terus memperbarui berita-berita yang ada baik melalui media cetak maupun elektronik. Apalagi pasca pengumuman kenaikan masih marak terjadinya demonstrasi mahasiswa, pembagian BLT dan efek domino dari kebijakan tersebut. Kenaikan BBM ini tentunya berakibar naiknya kebutuhan pokok dan tarif transportasi massal. Naiknya kebutuhan pokok berimbas pada kenaikan harga makanan. Makanan merupakan kebutuhan pokok dan mendasar pada manusia sementara kenyataan di lapangan harga makanan ikut-ikutan naik. Di sisi lain pendapatan, sementara ini belum mengalami peningkatan untuk menyesuakan dengan kenaikan berbagai macam kebutuhan. Hal ini menyebabkan perlunya usaha memutar otak untuk mengkonversi keadaan ini . Bisa dikatakan bahwa terjadi perubahan dalam hal penyusunan komposisi menu dan pengeluaran untuk makanan.

Perubahan kedua adalah menjadi lebih “irit” dalam membeli makanan, meskipun tidak mengurangi pola 4 sehat 5 sempurna seperti yang diajarkan sejak masa Taman Kanak-kanak. Tetapi dengan kondisi seperti ini dogma 4 sehat 5 sempurna perlu mengalami penyesuaian menjadi “4 sehat 5 sempurna, 6 harga terjangkau”.

Perubahan ketiga adalah menjadi lebih selektif jika akan bepergian. Sektor transportasi massal menjadi salah satu sektor yang paling terpengaruh dengan kenaikan BBM. Satu-satunya jalan keluar adalah dengan menaikan tarif. Kenaikan ini berdampak pada prioritas untuk menempuh perjalanan. Jika memang tujuan perjalanan tidak terlalu penting maka menjadi hal tidak perlu dilakukan. Mengacu pendapat konsultan keuangan Safir Senduk, kenaikan BBM dan semua kebutuhan ini perlu disikapi dengan membuat skala prioritas pada kebutuhan. Yaitu prioritas wajib, butuh dan ingin.

Namun tidak semua perilaku dan pola hidup menjadi berubah. Ada hal-hal yang tidak berubah. Pertama, bahwa dalam satu hari masih tetap mandi dua kali. Bahkan jika kondisi panas dan gerah bisa sampai tiga kali. Dalam hal makanpun tidak berubah. Dalam satu hari tetap makan sebanyak tiga kali meskipun harus mengurangi dan sedikit menahan diri terhadap menu yang diangggap “berlebih” karena menyebabkan pembengkakan pengeluaran.

Hal kedua yang tidak berubah adalah dalam satu hari tetap makan sebanyak tiga kali. Ketidakberubahan ketiga yaitu bahwa dalam satu hari minimal tidur selama empat sampai lima jam. Hal ini untuk menjaga kondisi badan agar cukup istirahat. Meskipun seringkali harus lembur hingga larut untuk menyelesaiakan pekerjaan. Keempat, dalam urusan “mengolah ragapun” tidak mengalami perubahan pola. Masih tetap bermain bulutangkis 2 kali dalam 1 minggu, jogging tiap sabtu atau minggu. Belum lagi ditambah olahraga ringan tiap pagi. Bagian kelima dari pola hidup yang tidak mengalami perubahan adalah tetap mengkonsumsi teh hitam tawar yang konon “katanya” bisa menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh. Memang kenaikan harga BBM banyak merubah pola hidup namun tidak semuanya menjadi berubah. Setidaknya ada sisi positif yang bisa dipetik dibalik kesulitan ini, sikap penghematan dan semakin tahan menghadapi kesulitan. Seperti apa yang dikatakan presiden bahwa masyarakat harus lebih sabar. Meskipun sejak dulu masyarakat bangsa ini sudah sedemikian sabar menghadapi kesulitan karena hampir sepanjang waktu memang terus mengalami kesulitan hidup dan jarang menerima kemudahan hidup di negeri ini.

2. Lembur
Bagi pekerja, lembur bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi lembur seakan memaksa orang untuk terus bekerja, namun di sisi lain terkadang lembur mendatangkan tambahan finansial yang cukup menggiurkan. Ada seorang rekan yang dengan bangga bercerita bahwa gaji yang diterimanya mencapai 3 juta rupiah per bulan. Jika bulan itu banyak pekerjaan extra yang memaksanya untuk lembur, pendapatan yang diterimanya tidak kurang dari 5 juta dalam 1 bulannya. Karena demikian menggiurkannya finansial yang didapat maka tak jarang, rekan ini malah berusaha “mencari” pekerjaan agar bisa dikategorikan lembur sehingga mendapat tambahan pemasukan. Sementara rekan lain meskipun memperoleh uang lembur yang menjanjikan tapi tidak memaksa untuk “mencari” pekerjaan agar dihitung lembur. Dia lebih memanfaatkan waktu senggang di luar lembur untuk sekedar berkeliling toko buku atau menonton film di theater. Alasan yang dikemukakannya bahwa waktu tidak harus dihabiskan untuk bekerja. Ragapun mempunyai hak untuk bersenang-senang dan menikmati hidup. Di lain pihak ada rekan yang tidak mau “dipaksa” lembur oleh atasannya, alasan penolakannya karena lembur tersebut hanya agar kinerja di instansinya terlihat baik. Sementara “beban” pekerjaannya sebenarnya sudah terselesaikan. Ada berbagai alasan orang untuk menerima maupun menolak tambahan waktu untuk bekerja (lembur).

Secara mudah, lembur dapat diartikan waktu yang dipergunakan untuk mengerjakan suatu pekerjaan di luar batas jam kerja. Yang perlu digarisbawahi adalah adanya beban pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu “normal” bekerja, sehingga membutuhkan waktu tambahan (extra time). Ada kalanya lembur memang menjadi penting dan menjadi suatu keharusan. Terutama ntuk hal-hal yang menyangkut kepentingan yang lebih besar (baca: orang banyak) dan pekerjaan tersebut tidak dapat diselesaikan dalam waktu “normal.” Sementara kepentingan dan tujuan di dalamnya bersinggungan dengan hajat hidup orang banyak. Contohnya penyusunan data bagi program BLT yang memang mendesak, maka lembur ini menjadi hal yang positif. Hal ini terutama bagi rekan-rekan yang berkecimpung dalam dunia pemerintahan dan banyak berhubungan dengan kebijakan publik. Urusan lembur yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat menjadi sesuatu yang tidak perlu dijadikan beban. Toh anda juga mendapat gaji dari hasil uang rakyat? Berkaitan dengan urusan lembur yang dimaksudkan hanya untuk menyenangkan atasan agar terlihat bekerja keras, hal ini perlu ditinjau dan dikaji ulang. Karena dampak yang ditimbulkan bukan sebuah efisiensi kerja, namun sebuah ketidakefisienan.

3. Inefisiensi
Berkaitan dengan kerja lembur yang hanya untuk “menyenangkan” atasan justru menimbulkan ketidaknyaman suasan kerja serta ketidakefisienan dalam bekerja. Efisien sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun W.J.S. Poerwadarminta memiliki arti cermat, tidak membuang-buang energi dan waktu, paling sesuai dan tepat untuk suatu tujuan. Penekanannya ada pada tidak membuang-buang energi dan waktu serta tepat tujuan. Sementara inefisiensi sendiri memiliki arti sebaliknya. Aktifitas yang terjadi justru hal-hal yang berkonotasi pemborosan dan tidak tepat sasaran. Bisa dibayangkan seandainya lembur yang dilakukan hanya sekedar untuk menyenangkan atasan berapa besar pemborosan energi yang dilakukan.

Misal dalam satu ruangan ada 3 buah komputer yang masing-masing membutuhkan daya 200 Watt dan pada saat lembur ketiganya menyala bersamaan. Coba hitung berapa daya yang dibutuhkan? Ini masih dalam satu ruangan dan instansi. Seandainya itu terjadi dalam satu gedung yang terdiri dari beberapa instansi, berapa daya listrik yang dikategorikan pemborosan? Sementara negara ini sedang dalam kondisi “merah” atau krisis energi. Belum lagi pengkondisi udara atau AC. Jika kira-kira 1 buah AC membutuhkan daya 500 W, sementara dalam 1 ruangan membutuhkan paling tidak 2 buah AC, berapa daya yang masuk kategori “boros”? Belum lagi pemborosan dalam hal sistem pencahayaan atau lampu.

Seringkali dalam penataan ruang kita mengabaikan penataan sistem pencahayaan dan penerangan yang benar. Yang sering terjadi adalah sekedar memasang lampu untuk penerangan. Padahal dalam kemasan produk lampu tercantum tentang berapa daya lampu tersebut, tingkat persebaran cahaya, ketinggiannya dari lantai agar penyinarannya maksimal dan informasi-informasi penting lainnya. Celakanya, informasi yang disediakan produsen lampu seringkali diabaikan begitu saja. Sehingga yang terjadi adalah inefisiensi energi. Melihat kondisi negeri ini sedang mengalami krisis energi terutama untuk pasokan listrik maka kebiasaan-kebiasaan tersebut makin memperparah keadaan. Alih-alih yang terjadi pihak yang berwenang terhadap pengadaan listrik, menerapkan kebijakan pemadaman bergilir. Jika tidak dimulai efisiensi dari hal-hal kecil di sekitar kita maka yang terjadi bukan hanya byar…pet…seperti sekarang. Tetapi lebih parah lagi, tidak lagi byar…pet..tapi menjadi pet…negeri ini akan menjadi “gelap gulita.” Tidak ada siaran televisi, tidak ada siaran radio, tidak ada lampu yang menyala, tidak ada komputer yang menyala, tidak ada lembur, tidak ada…tidak ada…Terus?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s