Surabaya, “A Shopping City?”


Perayaan ulang tahun sering diidentikkan dengan pesta,kemeriahan dan kesenangan. Sering dijumpai pesta perayaan ulang tahun baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua diadakan dengan penuh kemeriahan. Hanya kadar kemeriahan dan pelaksanaannya berbeda-beda. Pesta ulang tahun anak-anak identik dengan kelucuan,keceriaan melalui tema warna-warni. Sementara bagi remaja apalagi ketika menginjak usia 17 tahun, kemeriahan dan kesenangan ini diwujudkan dengan sebuah pesta hura-hura bahkan tak jarang diadakan hingga semalam suntuk. Sebuah ekspresi kebebasan. Di sisi lain ketika memasuki masa-masa dewasa dan usia lanjut perayaannya banyak diwarnai kesan sederhana,banyak diisi perenungan kembali terhadap apa yang sudah dilakukan,dialamai dan dijalani. Tampaknya perjalanan waktu membuat orang untuk lebih arif dalam menyikapi bertambahnya usia. Pengalaman-pengalaman yang dihadapi setidaknya membuat orang untuk lebih dewasa dalam berfikir sehingga wujud kemeriahannya lebih sarat dengan makna positif dan tidak semata-mata menjadi bentuk hura-hura.

Ekspresi terhadap pertambahan usia tidak hanya dialami oleh manusia selaku makhluk hidup dan
dibekali dengan akal budi.Demikian halnya dengan perjalanan waktu sebuah kota. Kota seakan menjadi saksi bisu tingkah laku manusia di dalamnya. Manusia dengan berbagai permasalahannya. Namun dari permasalahan-permasalahan yang timbul lambat laun menjadikan kota terus berkembang. Perkembangan yang diharapkan tentunya adalah sebuah perkembangan positif dan sebuah kemajuan. Hal ini pula yang tampaknya dialami oleh Surabaya. Kota yang konon merupaan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Kota yang identik dengan sikap heroiknya.Yang paling melekat dalam ingatan bangsa Indonesia adalah pertempuran bersejarah 10 Nopember 1945 yang “melahirkan” tokoh heroik Bung Tomo. Begitu melekatnya sifat pemberani itu bahkan hingga kini sifat tersebut masih bertahan meskipun terkadang timbul kesan negatif di dalamnya. Kehadiran Bonek (suporter Persebaya), kesebelasan kebanggaan Arek-arek Suroboyo seakan melanggengkan semangat tersebut. Saat ini sikap pantang menyerah, berani (kemudian diidentikkan dengan sebutan Bonek) seakan sudah menjadi sebuah trade mark dan cap bagi orang-orang Surabaya.

Antri di Mango

Antri di Mango

Jika ditelusuri dari sejarah awal Surabaya sebenarnya sikap heroik ini bukanlah barang yang asing. Berdasarkan Surat Keputusan No. 64/WK/75 yang dikeluarkan Walikota Kepala Daerah Tingkat II yang saat itu dijabat oleh Soeparno ditetapkan bahwa tanggal 31 Mei 1293 merupakan titik awal berdirinya Surabaya dan selanjutnya tanggal 31 Mei ditetapkan sebagai hari jadi Surabaya. Tanggal 31 Mei 1293 ditetapkan sebagai titik awal keberadaan Surabaya berdasarkan kesepakatan sekelompok sejarawan yang dibentuk oleh permerintah kota bahwa nama Surabaya diambil dari kata “sura ing bhaya” yang berarti “keberanian menghadapi bahaya” yang diambil dari babak dikalahkannya tentara Mongol oleh pasukan pimpinan Raden Wijaya.

Tahun 2008 ini pemerintah kota melakukan sebuah terobosan “berani.” Mengapa terobosan ini disebut berani? Menyambut perayaan ulang tahun kota Surabaya yang tahun 2008 ini memasuki hari jadinya yang ke-715 pemerintah kota menyelenggarakan berbagai even kegiatan. Mulai dari skala kecil hingga yang “fenomenal.” Bisa dikatakan fenomenal karena acara yang diberi nama Surabaya Shopping Festival 2008. Sebuah even belanja besar (diklaim merupakan yang terbesar di Indonesia) karena melibatkan 14 pusat perbelanjaan atau mal besar di Surabaya dengan 5.385 teenant berpartisipasi di dalamnya. Acara ini berlangsung selama 1 bulan penuh dari tanggal 1-31 Mei 2008 dan memperoleh peliputan yang cukup luas karena didukung salah satu media berpengaruh, Jawa Pos. Acara tersebut dibuka sendiri oleh walikota Surabaya Bambang D.H.

Merunut pendapat Kotler bahwa setiap tempat atau lokasi mempunyai nilai market dan dapat dimarketkan (marketable) maka kegiatan Surabaya Shopping Festival (SSF) 2008 menjadi salah satu cara untuk me-marketkan Surabaya. Adanya acara ini ibarat mengkondisikan kota Surabaya untuk “berbelanja” dan menjadi kota belanja. Upaya tersebut merupakan salah satu usaha menjual (me-marketkan) dan menjadikan embrio bagi Surabaya sebagai “A Shopping City” menyerupai Singapura. Namun jika melihat kondisi saat ini tentulah kegiatan ini perlu untuk ditinjau kembali manfaatnya. Memang acara SSF 2008 yang menyediakan diskon di mal-mal penyelenggara bertujuan untuk meningkatkan daya beli masyarakat. Di sisi lain pelaksanaan SSF 2008 dalam 1 pekan mampu meningkatkan nilai pajak (dibandingkan periode yang sama tahun 2007) kurang lebih 20 % dari berbagai sektor mulai pajak hotel, pajak restoran dan pajak parkir. Belum lagi ditambah dari pajak pertambahan nilainya.

Masyarakat dengan blow up dari media,setiap hari berbondong-bondong menjadi “ratu dan raja mal” berkeliling untuk membelanjakan uangnya. Memang tidak ada larangan untuk mempergunakan uang yang dimiliki sesuai apa yang dimauinya. Tapi bagaimana pula nasib mayoritas masyarakat yang kebingungan mendapatkan minyak tanah? Dan untuk memperolehnyapun harus antri berjam-jam. Belum lagi dengan rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Bagaiamana dengan PKL yang setiap saat harus perang urat syaraf dengan trantib? Seberapa jauh gaung dan manfaat SSF 2008 ini bagi mayoritas masyarakat kecil dan pedagang di Pasar Turi, Pasar Keputran dan pasar-pasar tradisional lainnya?

Adanya program SSF 2008 memang mendongkrak daya beli masyarakat, namun hal yang perlu dicermati bahwa mereka yang berbelanja memang orang-orang yang memiliki kemampuan untuk membeli (the have) dan prosentasenya kecil jika dibandingkan seluruh populasi penduduk Surabaya .Apa yang terjadi ibarat fenomena gunung es, dimana yang bisa menikmati hanya minoritas saja sedangkan mayoritas masyarakat Surabaya lainnya masih harus memikirkan minyak tanah dan harga-harga kebutuhan pokok yang meningkat karena imbas rencana kenaikan BBM.

Mayoritas inipun harus rela menjadi penonton di “tanah air” nya sendiri. Tanah air yang dulu mereka perjuangkan dengan jiwa raga, tanah air yang seharusnya menghidupi mereka namun kini seakan menjadi begitu tidak bersahabat.Terus bagaimana dengan nasib para pedagang di pasar-pasar tradisional, apakah mereka juga harus menjadi “penonton” di rumah sendiri? Ataukah kedudukan mereka sudah dianggap “kutil” yang cukup mengganggu dan harus dibersihkan? Tidak adakah perhatian dari “pengayom” mereka seperti perhatian yang diberikan kepada mal-mal itu? Merencanakan Surabaya sebagai sebuah kota belanja memang memiliki tujuan baik namun perlu melibatkan semua komponen masyarakat Surabaya. Wisata belanja tidak mesti diartikan dengan berbelanja di mal, namun bisa pula diwujudkan pada pasar-pasar tradisional. Tentunya dengan menata kembali kondisi lingkungan pasar tradisional yang ada. Sebenarnya Surabaya mempunyai sebuah pasar yang cukup legendaris yaitu Pasar Turi, hal tersebut bisa dijadikan ikon dan potensi untuk dikembangkan. Semua sektor perdagangan di Surabaya harus dimaksimalkan potensinya andai ingin mewujudkan sebuah kota wisata belanja. Sehingga keuntungannya bisa dinikmati seluruh masyarakat Surabaya.

Hal lain yang perlu dicatat bahwa kota belanja ini tidak hanya menjadikan masyarakatnya menjadi konsumen namun harus mampu menumbuhkan nilai-nilai pemberdayaan. Pemberdayaan ini dapat dimulai dengan menggali potensi yang dimiliki Surabaya, misal sebagai daerah yang berdekatan dengan laut,potensi-potensi hasil olahan lautnya bisa digali kembali. Nantinya bisa dibentuk sentra-sentra penjualan hasil olahan laut terpadu begitu pula dengan bagian wilayah kota lainnya. Sehingga denyut perekonomian bisa dirasakan semua lapisan masyarakat.

pesta kembang api

pesta kembang api

Kalau saat pembukaan SSF 2008 walikota selaku pimpinan kota dengan gagah meresmikan pembukaannya tentu masyarakat Surabaya berharap dan bermimipi bahwa pemimpinnya mampu berdiri di atas semua golongan, sehingga bila terjadi penggusuran PKL maka walikota menjadi orang terdepan dalam memikirkan konsep penataan kembali PKL tersebut. Saat masyarakat mengalami kesulitan memperoleh kebutuhan pokok maka walikota berperan menjadi pihak pertama yang menggagas solusi pemecahan tingginya harga-harga kebutuhan pokok. Ketika masyarakat stren kali digusur, walikota bisa menjadi bapak yang bijak dalam membuat konsep untuk merelokasi mereka. Bertambahnya usia Surabaya yang tahun ini memasuki angka 715, bisa dianggap sebuah proses pendewasaan diri. Usia tersebut haruslah menjadikan Kota Surabaya menjadi kota yang lebih bersahabat dan manusiawi. Menjadikan pemimpin Surabaya sebagai pengayom masyarakat Surabaya. Bukankah pemimpin dipilih untuk mengayomi seluruh lapisan masyarakat? Bukan hanya menjadi pemimpin bagi segolongan kecil masyarakat.

Selamat Ulang Tahun Surabaya


kuhanya pemimpi kecil
yang berangan
tuk merubah nasibnya

(Sang Penghibur-Padi)

3 thoughts on “Surabaya, “A Shopping City?”

  1. aku sendiri bingung dengan arah kebijakan pemkot surabaya yang begitu…..
    ujung2nya pikiranku pasti tertumbuk pada : ah ini semua adalah itung2an politis antar pemerintah dengan investor…. (kita_aku_yang sekedar staf bisa apa?)

    perlu pemikiran dan penelusuran yang cukup lama dan dalam untuk menemukan akar permasalahan kebijakan yang “sok” ini….

    aku belum bisa ngomong apa2. aku tak belajar lebih komprehensif dulu untuk bisa mengimbangi rasa gregetan akan dampak yang ditimbulkan atas kebijakan yang pragmatis ini….

    fyuh…. kerja belum selesai, belum apa-apa
    betul kata chairil….

  2. hahaha…hayo…pendukungnya ya?!! kok sampai apal iklannya?

    surabaya is a big shopping city, how could be?
    waaah… critanya panjaaang dan lamaaa.
    kalo ditulis disini nanti bisa saingan dunk. mana yang komentator mana yang tuan rumah jadi gak jelas…hehehe

    kapan2 ae, kita bahas “sejarah” surabaya shopping city sembari nunggu aku dapat data yang valid. ini lagi ngumpulin.

    moso ngomong thok gak ono datane? isin rek!😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s