Aku dan Mimpiku (Bagian 7)


Menara air tua peninggalan Belanda itu kini seakan menjadi saksi bisu kisah perjalanan sejarah kota ini. Dahulu pemerintah kolonial Belanda membangun menara air tersebut dengan tujuan sebagai penampung air kemudian di distribusikan untuk kepentingan kantor-kantor pemerintahan,barak-barak prajurit serta tempat tinggal para pejabat kolonial. Kini dengan bergesernya waktu, dimana pemerintah Belanda sudah tidak menguasai negara ini keberadaan menara itu masih memberikan manfaat besar. Pemerintah kota masih mempertahankannya untuk menampung air yang berasal dari sumber air bersih di sekitar kota. Hanya saja saat ini distribusinya diperuntukkan bagi kepentingan seluruh warga kota.

Pagi itu meskipun matahari mulai beranjak meninggi namun tampak beberapa orang masih memanfaatkan keberadaan tanah lapang di pusat kota ini. Tampak komunitas lanjut usia akrab berbincang satu dengan lainnya. Komunitas ini tiap pagi memang memanfaatkan alun-alun untuk bersama-sama melakukan senam jantung sehat. Kebijakan pemerintah kota dalam mengurangi tingkat polusi udara banyak memberikan dampak positif bagi kegiatan warganya. Mereka menjadi tidak segan lagi untuk melakukan aktifitas di luar ruangan. Bahkan pada hari minggu dan libur tempat ini seakan menjadi arena besardan terbuka untuk umum. Hampir sebagian besar warga kota berkumpul di sini. Ada yang memanfaatkannya untuk berolah raga,sekedar menikmati makanan dari penjual makanan yang memang disediakan dan ditata oleh pihak pemerintah di sekeliling alun-alun. Bahkan tak jarang muda-mudi memanfaatkannya untuk sekedar bertemu atau melihat-lihat sekeliling. Di jaman yang serba digital dan cepat ini toh keberadaan alun-alun sebagai sebuah ruang publik kota tidak kehilangan fungsi dan perannya.

Pemerintah kota memang berhasil meredifinisikan fungsi sebuah alun-alun. Jika kita menarik benang merah waktu ke belakang melihat ke masa lampau bahwa alun-alun pada masa lalu memang telah mempunyai peran baik dalam segi sosial maupun politik. Di masa kerajaan Majapahit dan Mataram tak jarang alun-alun dipergunakan para kawula (masyarakat) untuk melakukan aktivitas politik sekedar menyuarakan aspirasinya melalui “laku pepe” atau berjemur. Hal ini dilakukan sebagai bentuk sebuah unjuk rasa atas ketidakpuasan terhadap kebijakan kerajaan. Namun tak jarang para kawulapun melaksanakan aktivitas yang memiliki nilai sosial seperti yang dilakukan kawula Majapahit saat mendoakan kesembuhan pemimpin (raja) ketika sang raja Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya) gering atau sakit (seperti apa yang dicatat oleh Pancaksara atau Prapanca dalam Negarakertagama).

Berjalannya waktu ternyata tidak mengurangi fungsi dan peran ruang publik ini,hanya memang terjadi pergeseran pada aktivitas di dalamnya. Saskia Sassen,seorang pakar ekonomi global memberikan gambaran tentang bagaimana Tokyo sebagai salah satu diantara tiga pusat kekuatan ekonomi dunia selain London dan New York dengan image kota supermodern dan perkembangan teknologinya (electronic space dan telecommuting) yang demikian canggih ternyata tetap tidak mampu menghapus keterikatan warganya terhadap komunitas jagad nyatanya. Hingga tak mengherankan jika di kota ini ruang publik luarnya tidak pernah sepi dari kehadiran manusia. Kondisi yang sama juga banyak ditemui di kota-kota metropolitan lainnya. Upaya pengambil kebijakan dalam menciptakan ruang luar kota rupanya cukup berhasil. Pendekatan pedestrianisasi untuk memberi citra tempat (genius loci) dan menghasilkan kesan nostalgia ternyata mampu memancing warga untuk lebih memanfaatkan ruang luarnya. Suasana keramaian yang dipadu dengan skala dan proporsi selaras antara lebar jalan dan tinggi bangunan menjadi salah satu kunci jawabannya.

Sebagai makhluk sosial dalam kenyataannya manusia tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari ruang publiknya. Jan Gehl dalam bukunya Life Between Buildings (1996) mengkategorikan aktivitas di ruang publik menjadi tiga kategori. Kategori pertama adalah aktivitas sehari-hari yang terpaksa dilakukan karena tidak ada pilihan lain, misalnya pergi ke tempat kerja, belanja atau menunggu bus. Kategori kedua adalah aktivitas yang menawarkan pilihan-pilihan bila kondisi ruang luar mendukung. Contohnya berjalan-jalan atau minum kopi di cafe terbuka. Sedangkan yang ketiga adalah aktivitas sosial atau aktivitas yang bergantung pada keberadaan orang lain di ruang publik seperti berjumpa dengan teman, mengobrol santai, nongkrong atau sekedar cuci mata melihat orang yang berlalu lalang. Kategori ketiga ini terjadi sebagai resultan aktivitas kategori pertama dan kedua, namun dengan catatan bila didukung dengan kualitas lingkungan yang baik.

Teori Gehl ini menyiratkan sebuah pendapat bahwa ketika kualitas ruang publik buruk, maka aktivitas yang muncul hanyalah keterpaksaan. Sebaliknya ketika ruang publik hadir dengan kualitas yang makin baik maka akan mendorong seseorang untuk menghabiskan waktu lebih lama bahkan tidak menutup kemungkinan menciptakan suasana yang menawarkan keberagaman pilihan aktivitas sosial. Toh dalam kenyataannya untuk menciptakan ruang publik memang tidak mudah. Terkadang para perancang kota sudah mendesain ruang publik dengan memperhatikan dimensi sosialnya tetapi ternyata banyak ruang publik yang gagal memainkan perannya sebagai sebuah pusat kegiatan publik. Tak jarang ruang publik yang tidak direncanakan justru mampu menjadi magnet kegiatan publik.

Hal penting yang berhasil diaplikasikan kota ini dalam menciptakan ruang publiknya adalah dengan mengacu pada pendapat Stephen Carr (1992) dimana agar berhasil menarik kerumunan orang sebuah ruang publik harus “mudah terbaca”. “Keterbacaan” sebuah ruang publik ini bersifat sangat personal dan berkaitan langsung dengan perilaku pengguna (masyarakatnya). Justru pada bagian inilah yang paling susah karena perilaku manusia membentuk sebuah pola “situasional” dalam arti sangat bergantung pada konteks dan latar belakangnya baik fisik, sosial, kultural maupun persepsional. Padahal jika membicarakan sebuah konteks dan latar belakang dari masyarakat urban yang terbaca adalah sebuah perubahan yang terkadang sangat radikal.

“Keterbacaan” ini dapat ditangkap, secara sosial kultural warga kota ini memang masih memegang dan menempatkan nilai-nilai budaya pada posisi yang tinggi. Di sisi lain modernisasipun tidak bisa diabaikan . Hal ini “dibaca” dan diejawantahkan dalam sebuah konsep dasar perencanaan dan perancangan ruang luar kota hingga memunculkan sebuah icon untuk menjadikan kota ini sebagai sebuah “heritage walk”. Kemodernan memang tidak bisa dihindarkan namun bukan berarti harus meninggalkan jejak-jejak sejarah perjalanan sebuah kota. Pembangunan yang dilakukan tidak serta merta menggusur “warisan-warisan” sejarah dan budaya. Keduanya dapat disandingkan dan menjadikannya sebagai sebuah “icon kota”.

Bus perlahan melewati alun-alun, sebuah ruang publik yang memang benar-benar menjadi “milik” publik. Perjalananku mulai memasuki koridor jalan menuju gedung tempatku bekerja. Tiba-tiba penglihatanku tertarik memperhatikan dua orang yang berjalan bergandengan dengan membawa tongkat menyusuri area pedestrian. Saat kuamati dengan seksama ternyata mereka adalah orang-orang yang mempunyai “keterbatasan visual”. Namun itu tidak membatasi mereka untuk “menikmati” apa yang ada di kotanya. Komunitas seperti inipun mempunyai hak yang sama dengan warga kota lainnya. Dengan memperlakukan sebagaimana mestinya justru akan membuat mereka merasa dihargai dan bukan menjadikannya sebagai sebuah komunitas yang harus dimarjinalkan atau dipinggirkan. Pada dasarnya manusia dilahirkan “sama” dan memiliki hak yang sama dalam menjalankan dan menikmati hidup. Dalam kehidupan nyata pemenuhan hak-hak tersebut menyebabkan setiap orang tanpa terkecuali membutuhkan informasi dari dan tentang lingkungannya untuk melakukan aktivitasnya dengan baik.

Passini (1994) mengartikan informasi ini sebagai sebuah informasi lingkungan penting,meliputi komponen diskriptif,lokasional dan waktu yang memungkinkan orang menyelesaikan tugas pencarian jalan. Namun informasi lingkungan ini akan bermanfaat jika ia bisa dimengerti, diorganisasi dan diingat. Untuk mencapai hal tersebut, media informasi menjadi alat yang sangat penting. Tetapi ada yang perlu ditekankan bahwa media informasi tersebut harusbenar-benat tidak mendiskriminasi atau mengesampingkan kaum difabel (memiliki kemampuan berbeda). Dari sekian macam ke-tuna-an (ketidaklengkapan inderawi), tunanetra merupakan kelompok yang tidak mengandalkan indra visual sebagai alat pengumpul informasi. Padahal menurut Setyo Adi Purwanto (Setiawan,2002) indera visual pada manusia “normal” berkontribusi menyampaikan 85 persen informasi.

Passini menunjukkan bahwa seseorang berada pada koridor yang ditentukan karena dia menemukan tujuannya (informasi sensorik) dan mengetahui tujuannya pada koridor itu (informasi memori). Pada mereka yang memiliki keterbatasan visual dua proses yang dilakukan adalah dengan mengganti informasi visual dengan non visual serta mengorganisasikannya secara teratur. Pemerintah kota mengaplikasikannya melalui tiga media penyampai informasi pasif bagi mereka yang memiliki keterbatasan visual. Konsep ini telah diterapkan di beberap kota seperti di jalur pedestrian Jalan Mangkubumi-Malioboro Jogjakarta, Pasar Gedhe Solo dan Masjid Istiqlal Jakarta. Ketiga media informasi pasif ini menempatkan sensitivitas indera peraba sebagai dasar pembuatannya.

Media pertama adalah keberadaan ubin pemandu-peringatan, yang memiliki dua tekstur yaitu garis dan titik. Informasi mengenai arah dan jalur yanga aman ditempuh akan disampaikan oleh ubin pengarah. Sementara ubin peringatan memberi peringatan seperti keberadaan fasilitas lain yang dapat diakses, misal telepon umum, lampu penyeberangan dan lift. Tanda-tanda tersebut dapat “dibaca” melalui perbedaan ketinggian serta titik-titik yang menunjukkan akhir jalan atau persimpangan.

Media kedua yaitu adanya denah timbul. Denah ini dalam skala urban dan kota bisa memfasilitasi pemahaman spasial dan membantu dalam proses menemukan jalan (wayfinding) dengan baik. Pada prinsipnya denah timbul ini sama dengan peta yang menunjukkan “posisi”. Elemen yang membedakan antara denah timbul dan peta biasa adalah kelengkapan informasi dan fitur yang dapat diraba. Informasi standar dalam bentuk fitur timbul berisikan kata-kata dalam huruf braille,simbol serta informasi tentang keberadaan ubin pengarah-peringatan pada lingkungan binaan.

Media ketiga yang tersedia dalam skala terkecil adalah penanda timbul. Penanda ini dipasang pada fasilitas umum misalnya halte. Penanda ini bisa berisikan informasi nomor, tujuan dan jadual kedatangan bus. Penanda tersebut dapat dipasang pada fasilitas umum strategis lainnya yang tujuannya mempermudah mereka yang difabel (memiliki kemampuan berbeda) untuk mengaksesnya. Penanda-penanda ini bisa juga disertai dengan informasi audio atau suara.Sebuah kebijakan yang sederhana tetapi memberikan kemanfaatan kepada seluruh warga untuk menikmati lingkungan binaannya tanpa adanya diskriminasi.

Karena terlalu asyik dengan lamunan dan pikiranku hingga tanpa sadar bus yang telah sampai di halte dekat tempatku bekerja. Untung salah satu penumpang di sebelah memberitahuku. Kaget, akupun turun dan berjalan menuju kantor. Namun kekagetan ini masih berlanjut saat kudengar suara lembut menyapaku.”Selamat pagi…” Begitu kulihat ternyata “gadis oriental” yang kutemui di dalam bus tadi. Sedikit berbasa-basi dan memperkenalkan nama kamipun berbincang layaknya teman yang sudah lama saling mengenal,sampai kuketahui kalau ternyata dia bekerja di gedung yang sama hanya kami berbeda lantai. Dia bekerja di lantai tiga sedangkan kantorku berada di lantai lima. Menaiki lift yang sama dan berbincang dengan akrab membuat perjalanan singkat ini menjadi sesuatu yang menyenangkan, hingga tanpa sadar penunjuk lantai di lift menunjukkan angka tiga. Kamipun berpisah. Aku masih harus melanjutkan naik ke lantai lima. Tak memerlukan waktu lama lift yang kutumpangi tiba di lantai lima. Begitu keluar dari lift dan memasuki kantor kulihat rekan-rekanku sedang asyik berbincang tentang keberhasilan Timnas Indonesia mengatasi kesebelasan Jepang.

Hari ini benar-benar memberikan sebuah pengalaman baru dengan peristiwa yang kutemui selama perjalanan. Waktupun tak terasa berlalu, diriku benar-benar tenggelam dalam rutinitas pekerjaan. Hingga waktu menunjukkan jam 5 sore, saatnya untuk berkemas dan kembali ke rumah. Aku pulang ke rumah dengan menaiki bus dari arah yang berkebalikan dengan saatku berangkat tadi pagi.

17.45
Aku sudah memasuki rumah dan kembali melakukan rutinitas dan ritual-ritual di rumah. Mandi untuk sekedar membersihkan diri, makan malam dan melihat acara televisi sekedar mengisi waktu dan menunggu saat-saat dimana mata berat dan tidak bisa diajak kompromi. Tanpa sadar diriku tertidur di sofa ditemani televisi yang masih menyala dan lupa kumatikan. Tiba-tiba…duaa…rrr…! Aku kaget dan terbangun sementara hujan di luar demikian lebatnya sesekali ditimpali suara halilintar. Kulihat jam di dinding…

05.00
Dalam hati aku bertanya-tanya “kenapa demikian cepatnya waktu berlalu”. Aku merasa baru saja merebahkan diri tetapi tiba-tiba harus terbangun karena suara halilintar. Dan ketika kuamati jam di dinding, memang benar-benar menunjukkan tanda waktu pukul lima. Kulihat keadaan di luar untuk lebih memastikan dan menjawab keragu-raguanku.Rupanya memang sudah pagi. Aku bergegas bangun dan menyalakan televisi untuk mengetahui berita terbaru. Namun betapa terkejutnya diriku saat menyaksikan berita-berita yang tersaji…Hampir semuanya berisi hal-hal yang memprihatinkan, bencana banjir dimana-mana, tanah longsor, pembalakan kayu, korupsi, petani yang menjerit karena gagal panel, kerusuhan antar suporter sepakbola dan berita-berita “seram” lainnya. Bingung bercampur kaget aku melangkah ke depan untuk mengambil surat kabar pagi,ternyata sudah dilempar sang loper dan tergeletak di teras rumah. Keterkejutanku masih berlanjut…saat kubuka, berita surat kabar pagi itu tak jauh berbeda dengan apa yang kulihat di televisi. Kucari halaman surat kabar yang memberitakan keadaan kotaku. Penggusuran…kriminalitas…demonstrasi…antri minyak tanah. Bingung…kududukkan diriku di sofa, “kenapa semuanya berubah hanya dalam semalam?” Kutenangkan diriku sejenak ,mencoba berpikir tentang apa yang baru saja kualami. Sementara hujan di luar sedikit mereda. Sampai akhirnya akupun tersadar… “jadi apa yang kualami tadi…?” Dengan pikiran masih belum “sembuh” dari keterkejutan dan kebingungannya samar-samar dari radio yang rupanya belum kumatikan semalaman,sayup kudengar…

kucoba kembangkan sayap patahku
tuk terbang tinggi lagi di angkasa
melayang melukis langit
merangkai awan-awan mendung

The past is our heritage
The present, our responsibility
The future, our challenge

(David de Sola Pool)

“Selamat Pagi…!”

One thought on “Aku dan Mimpiku (Bagian 7)

  1. tanpa mimpi dan semangat di pagi hari, the future is not our challenge.

    jadi, bermimpi indahlah… setiap malam hingga suntikan keindahannya menyergap semangat kita di pagi hari.

    penyuka novel triloginya andrea hirata ?

    kata Arai : bermimpilah, Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu….

    paling tidak, aku, kamu, dia, mereka punya mimpi untuk kotaku, kotamu, kota kita….. meski cuma sekelumit.

    selamat sore, aku pulang sulu. setelah berusaha menerjemahkan “totalitas” di hari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s