Aku dan Mimpiku (Bagian 5)


Setelah hampir sepuluh menit asyik dengan lamunan dan angan-angan akhirnya bus yang ditunggupun tiba. Satu per satu calon penumpang masuk. Budaya antri yang sudah mendarah daging menjadikan aktifitas menunggu dan masuk ke dalam bus merupakan hal yang menyenangkan. Aku memperoleh tempat duduk di belakang bersebelahan dengan laki-laki seumuran yang rupanya berkantor di gedung yang sama denganku. Kamipun berbincang dengan akrab. Topik yang dibicarakan apalagi kalau bukan kemenangan Timnas Indonesia atas Jepang. Sesekali mataku menyapu pandang ke seluruh isi bus. Sampai akhirnya tak sadar tertumpu pada sesosok gadis rupawan bermata sipit. Sosok oriental nan eksotis yang duduk berseberangan denganku. Tampaknya dia begitu asyik dengan buku bacaan di tangannya hingga tak mempedulikan sekitar. KOndisi bus yang nyaman serta keteraturan lalu lintas menjadikan membaca menjadi salah satu kegiatan yang paling banyak dilakukan. Sosok berkulit putih bersih, berwajah tirus dengan rambut hitam yang dibiarkannya tergerai dibalut saputan cahaya pagi seakan menyihirku. Sebuah lukisan pagi dari Sang Maestro yang begitu indah. Sederhana…tapi begitu sederhanakah “keindahan Illahiah” itu dihadirkan untukku? Masih dalam ketermanguan tanpa kusadari dia berhenti sejenak dari konsentrasi pada buku di hadapannya. Dia mengangkat wajahnya dan sepasang mata indahnya memperhatikanku. Dua pasang mata beradu pandang…tak ada suara, tak ada kata. Hanya mata yang saling bicara. Satu menit tanpa aktifitas apapun hanya degup jantungku saja yang tidak karuan. Seutas senyum hadir sebagai perkenalan dari bibirnya yang mungil. Kubalas dengan senyumku yang hadir sebagai sebuah jawaban. Diakhiri sebuah anggukan kecil yang kubalas dengan anggukan kecil pula. Satu menit…sebuah momen luar biasa menyambut gairah baru di pagi itu.

Kualihkan pandanganku ke luar kaca jendela. Memperhatikan orang-orang berlalu lalang di areal pedestrian atau di Indonesia lebih dikenal dengan trotoir. Hampir di sepanjang areal pedestrian orang-orang begitu sibuk dengan dirinya sendiri. Ada yang berjalan begitu tergesa-gesa seakan-akan dunia ini mau runtuh. Tangan kiri memegang tas jinjing sementara di sisi lain tangan kanan sibuk dengan mobile phone nya. Begitu antusias dan bersemangatnya sampai tak mempedulikan keadaan sekitar. Barangkali pembicaraan tentang prospek bisnis beromzet besar. Bus melaju perlahan saat kulihat di seberang jalan orang-orang bergerombol di halte menunggu datangnya bus dari arah yang berlawanan. Sepasang anak manusia tampak asyik berbincang dengan intim memanfaatkan momen untuk berdua. Memang tak jarang waktu untuk menunggu bis datang dimanfaatkan untuk sekedar berbincang-bincang. Mulai perbincangan dengan topik-topik serius hingga sebuah perbincangan dan perkenalan singkat yang tak jarang berlanjut menjadi sebuah jalinan hati. Bermula dari sekedar teman yang setiap hari bertemu di halte hingga akhirnya saling mengenal dan memahami.

Menikmati La Rambla dengan dialog peradabannya

Menikmati La Rambla dengan dialog peradabannya

Begitu beragam keindahan terhampar pagi ini. Di ujung jalan, seniman-seniman jalan terlihat menikmati dan menghayati pertunjukkannya. Seakan-akan kota ini menjadi sebuah panggung besar pertunjukkan Broadway. Melihat apa yang terjadi anganku melayang membayangkan kota ini bagai La Rambla (La Ramblas) di boulevard Placa Catalunya (Plaza Catalonia) Barcelona, Spanyol. Eksotika sebuah kota yang bertepi di Laut Tengah. Seakan diriku terbuai menyusuri dan menikmati indahnya La Rambla. Sebuah jalan yang namanya berasal dari bahasa Arab “ramla.” Jalan sepanjang dua kilometer yang memiliki area pedestrian selebar dua puluh meter itu seakan dihadirkan untuk memanjakan para pejalan kaki.Pejalan kaki akan disuguhi sebuah “dialog peradaban” tentang perpaduan karya arsitektur Gothik dan modern. Hal ini seakan memberi bukti dan mementahkan anggapan bahwa peradaban dan hasil masa lalu tidak layak untuk bersanding dengan modernitas. Bahwa “masa lalu” itu tidak harus dihilangkan serta dilupakan begitu saja. Bukti sebuah perjalanan peradaban manusia.

Unforgettable memory-salah satu sudut La Rambla

Unforgettable memory-salah satu sudut La Rambla

Seakan sudah menjadi takdir pula bila La Rambla yang membentang dari Plaza Catalonia hingga Patung Columbus dan terbagi dalam lima seksi, Rambla Canaletes, Rambla del Estudis, Rambla Sant Josep, Rambla Caputxins serta Rambla Sant Monica menjadi surga pejalan kaki. Dari titik awal Plaza Catalonia pejalan kaki akan disuguhi pemandangan yang memanjakan mata, melihat bagaimana orang-orang asyik nongkrong,duduk-duduk atau sekedar memberi makan ribuan merpati. Taman-taman di sekitarnyapun memberikan nuansa lain dengan bunga-bunganya yang beraneka warna. Sebuah awalan yang membangkitkan selera dari plaza seluas lima puluh ribu meter persegi yang dibangun tahun 1927 oleh arsitek Francesc Nebot.

Banyak tempat menarik yang bisa dinikmati. Dari kejauhan air mancur Canaletes seakan begitu menggoda untuk didatangi. Air mancur ini merupakan tempat para suporter kesebelasan Barcelona merayakan kemenangan timnya. Konon barangsiapa meminum airnya akan selalu teringat dengan keindahan air mancur ini dan selalu ingin untuk mengunjunginya kembali.Saat berjalan ke arah laut pengunjung disuguhi “alur cerita indah” lain. Diawali dari sebuah pasar tradisional bernama Boqueria kemudian berlanjut dengan lukisan mural dari Joan Miro dan “memotret” kota ini melalui sejumlah museum. Mulai dari museum erotika yang berkesan “panas” hingga museum bahari yang berkonotasi “dingin”. Tidak hanya itu kehadiran sisa-sisa peradaban lampaupun dihadirkan melalui Katedral Barri dan gedung Opera Liceu. Sebuah gedung opera yang menyimpan kisah tragis. Gedung berasitektur neoklasik yang didirikan tahun 1848 namun dua kali harus terbakar ditahun 1861 dan 1994. Tahun 1893 gedung ini menyimpan kisah memilukan karena dibom oleh kelompok Santiago Salvador yang mengakibatkan 20 orang tewas. Di ujung jalan patung Columbus (Mirador de Colom), orang Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Benua Amerika menjulang tinggi seakan menyampaikan kata perpisahan. Menyusuri La Ramba seakan diajak membaca kembali catatan sejarah perjalanan panjang sebuah kota dan peradaban yang jejaknya masih bisa dinikmati hingga saat ini. Begitu eksotis dan menariknya koridor kota ini hingga Fariz RM salah satu musisi berbakat negeri ini mengapresiasinya dalam balutan nada indah, Barcelona.

Koridor La Rrambla karya arsitek Francesc Nebot dilihat dari ketinggian

Koridor La Rrambla karya arsitek Francesc Nebot dilihat dari ketinggian

Dalam konteks dan latar belakang berbeda pemerintah kota selaku perpanjangan tangan masyarakat berupaya menata ruang kotanya. Memang ada kendala pada perbedaan budaya antara Indonesia dan Spanyol. Namun hal tersebut bukan menjadi penghalang karena spirit dan keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat selaku “pemegang saham” mempunyai nilai yang sama. Keduanya menempatkan kepentingan warga kotanya pada level tertinggi. Hal ini terlihat dari bagaimana pejalan kaki sudah tidak lagi dianggap sebagai warga kelas dua yang hak-haknya bisa diabaikan begitu saja. Sebuah sisi manusiawi dari kota yang mulai tumbuh dan menata peradabannya kembali.

07.30
Bus yang kutumpangi berhenti sejenak karena lampu tanda penyeberangan menyala…

Mimpi bukan hanya sekedar mimpi
bunga tidur yang terkesan mati
mimpi adalah harapan
mimpi adalah angan-angan dan tujuan

“Selamat Pagi..!”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s