Aku dan Mimpiku (Bagian 4)


Berpakaian rapi, melihat jadual dan rencana kerja hari ini seperti sudah menjadi rutinitas. Begitu selesai melihat agenda kegiatan segera kulangkahkan kaki menuju halte yang tidak terlalu jauh dari rumah.Ketersediaan sarana transportasi umum yang memadai membuatku lebih memilih memanfaatkannya. Sejak beberapa tahun terakhir pemerintah kota memang menfokuskan untuk memperbaiki pelayanan dan ketersediaan fasilitas umum. Mass transportation atau transportasi massa menjadi salah satunya. Upaya sistematis coba dilakukan untuk mengurangi tingkat kepadatan pemakaian kendaraan terutama kendaraan pribadi dan tingkat polusi yang makin tinggi. Selain peningkatan infrastruktur fisik berupa penambahan dan pelebaran ruas jalan, pemerintah kota mencoba melakukan perbaikan dan perencanaan dalam upayanya untuk menekan pertambahan jumlah kendaraan di jalan. Penyediaan sarana transportasi massal yang nyaman menjadi salah satu solusinya. Apa yang diharapkan dari dari upaya tersebut? Dengan penyediaan transportasi massal yang cepat,nyaman dan murah pemerintah kota berharap masyarakat lebih memilih untuk memanfaatkannya dan beralih ke moda transportasi massal dibandingkan dengan memakai kendaraan pribadi. Hal lain yang dilakukan yaitu dengan pengeluarkan kebijakan berupa beban atau biaya parkir yang tinggi di daerah yang termasuk down town atau pusat kota serta areal dimana banyak didirikan perkantoran dan sentra-sentra perekonomian. Kebijakan ini berbengaruh pada berkurangnya tingkat kepadatan lalu lintas di daerah tersebut. Dalam rentang waktu lebih panjang penataan sistem transportasi ini berkaitan dengan perencanaan dan perkembangan kota di masa mendatang. Secara garis besar apa yang dilakukan pemerintah kota adalah bagaimana mewujudkan sebuah kota yang lebih manusiawi, dengan tidak menafikan modernisasi namun tetap mendudukkan masyarakat kota sebagai subyek penentu arah perkembangan kotanya. Melihat bagaimana cara pemerintah kota dalam menangani masalah ini maka wajar bila masyarakat begitu antusias memanfaatkan fasilitas yang disediakan. Antusiasme itu ditunjukkan lewat antrian panjang yang tertib. Fenomena baru yang cukup mencengangkan jika membandingkannya dengan kejadian-kejadian sebelumnya. Untuk mengantri membeli tiket film saja begitu susah apalagi harus mengantri membeli tiket bus dan kereta. Ternyata sedikit banyak sistem transportasi baru ini mampu mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat.

mori tower salah satu landmark roppongi

mori tower salah satu landmark roppongi

Membayangkan sebuah kota teratur dan manusiawi sedikit banyak akan berkaca pada sebuah distrik di pusat kota Tokyo, Jepang. Roppongi, yang selanjutnya lebih dikenal dengan Ropongi Hills. Sebuah proyek ambisius dan idealis dari seorang raja properti Minori Mori dengan brand name perusahaannya Mori Building Co.Ltd. Proyek yang oleh sebagian besar pengamat kota dinilai sebagai proyek terbesar dan cukup mengagetkan karena usahanya untuk membangun kembali (urban renewal) kota Tokyo untuk pertama kalinya sejak perang dunia kedua berakhir. Roppongi sendiri adalah sebuah distrik di pusat kota Tokyo yang dikenal dengan berbagai fasilitas hiburan,komersial serta pusat pemerintahan dan birokrasi. Dapat dikatakan bahwa kota ini selalu hidup,tidak pernah tidur dan menutup mata.

Mori sendiri mempunyai pemikiran yang sederhana tentang pembangunan kembali kota Tokyo. Dimulai dari rasa keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat Tokyo dimana setiap hari harus menghabiskan waktu rata-rata 3 jam lebih naik komuter untuk sekedar menuju tempat kerjanya. Hal ini berimbas pada kurangnya waktu bersama keluarga karena sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menempuh perjalanan. Kondisi serupa banyak pula ditemui di kota-kota besar dunia hingga timbul kesan bahwa kota hanya sekedar ruang target untuk bekerja dan mengeruk modal. Konsep dasar yang dipakai Roppongi Hills adalah menciptakan sebuah kawasan yang komplet, kompak, terintegrasi dalam sebuah ruang vertikal kota yang nikmat dan terjangkau (dalam sebuah kawasan besar dan acak bernama Tokyo). Dalam pemikiran jangka panjangnya adalah membuat Tokyo sebagai sebuah kota yang mudah ditinggali (livable city) melalui sebuah konsep kota yang kompak (compact city).

Roppongi dilihat dari atas

Roppongi dilihat dari atas

Barangkali bukan hanya ide dan konsep Roppongi Hills saja yang coba diadopsi namun ada hal yang jauh lebih penting yaitu penanganan permasalahan di awal pengerjaan proyek. Bagaimanapun sebuah pengerjaan proyek berskala besar dan berkaitan dengan kepentingan masyarakat tentu akan menimbulkan efek atau dampak. Perencanaan transportasi berkaitan erat dengan perkembangan kota di masa mendatang serta adanya perubahan fungsi dan tata guna lahan. Bisa dikatakan sebuah konsep perencanaan transportasi bukan hanya pengumpulan serta pengolahan data,analisa komprehensif tentang tata guna lahan,perencanaan jaringan jalan dan transportasi maupun implementasinya, pemantauan dan evaluasi. Tetapi lebih dari itu yaitu bagaimana masyarakat mampu memperoleh manfaat dan tidak merasa dirugikan. Seringkali terjadi dimana sebuah proyek yang mengatasnamakan kepentingan masyarakat namun dalam pelaksanaannya justru memberikan kerugian kepada masyarakat. Tidak jarang pula justru menyengsaraan masyarakat. Yang paling sering dialami dan terjadi yaitu tindakan yang kurang manusiawi berupa penggusuran secara semena-mena. Jika ditelaah justru penanganan masalah-masalah yang berkaitan dengan aspek sosial dan kemasyarakatan dalam kasus-kasus seperti ini seharusnya mempunyai porsi yang besar,namun sering kali hal tersebut diabaikan.

Masalah yang sering dihadapi adalah konsolidasi atau pengambilalihan tanah milik masyarakat yang memiliki berbagai latar belakang kepemilikan (land ownership) dan penggunaan (landuse). Ketika sebuah kepentingan untuk pembangunan kota bertemu dengan kepentingan lain menyangkut hak-hak masyarakat maka yang perlu dipikirkan adalah bagaimana solusi yang ditawarkan. Apa yang dilakukan permerintah kota dengan menyediakan fasilitas pengganti untuk tempat tinggal baik melalui sistem penggantian finansial dengan mengganti nilai dari tanah dan bangunan yang terkena dampak proyek maupun dengan menyediakan fasilitas tempat tinggal pengganti berupa rumah susun patut mendapatkan apresiasi tersendiri. Yang dilakukan bukan hanya membangun rumah susun secara fisik saja namun lebih dari itu yaitu penyiapan prasarana penunjang baik berupa prasarana fisik misalnya air, listrik, kemudahan aksesibilitas atau transportasi yang menjangkau lokasi maupun hal yang berkaitan dengan non fisik. Pemerintah kota berupaya bagaimana agar masyarakat tidak kehilangan nilai-nilai sosial yang selama ini telah terbentuk melalui interaksi dengan lingkungan hunian sebelumnya .Masyarakat tidak hanya merasa nyaman secara fisik dengan bangunan baru yang mereka tempati tetapi lebih penting lagi tidak merasa kehilangan nilai-nilai dan interaksi sosial terhadap lingkungan binaannya.Seringkali relokasi kurang memperhatikan aspek non fisik berupa nilai-nilai sosial masyarakat. Sehingga banyak ditemui ketika masyarakat pindah ke tempat baru mereka harus kehilangan pekerjaan,kesulitan untuk mencapai tempat kerja karena sarana transportasi di lokasi baru masih minim, kesulitan dalam hal aksesibilitas dan mobilisasi. Hal-hal yang bersifat fisik dan non fisik inilah yang dicarikan jalan keluarnya oleh pemerintah kota.

Setelah hampir sepuluh menit asyik dengan lamunan dan angan-angan akhirnya…

Mimpi bukan hanya sekedar mimpi
bunga tidur yang terkesan mati
mimpi adalah harapan
mimpi adalah angan-angan dan tujuan
“Selamat Pagi..!”

3 thoughts on “Aku dan Mimpiku (Bagian 4)

  1. bagaimana dengan surabaya?

    sayangnya,(penguasa) kota surabaya masih sibuk tarik ulur kepentingan dalam menjawab masalah mass transportation ini.
    disatu sisi_ berbekal saran dari ahli transportasi_ mendukung dibangunnya infrastruktur transportasi massal berbasis jalan raya tanpa menungga kapasitas jalan bertambah.
    disisi lain_berbakal saran dari ahli penataan kota_menolak upaya manajemen transportasi itu dengan mengedapankan argumen : kapasitas jalan harus ditambah dulu, baru kemacetan bisa dikurangi.

    nah, tentang pembelajaran agar perilaku masyarakat _dalam hal memiliki dan membaggakan kendaraan mereka_ dimulai dari mana dulu?

    masyarakat kita masih memandang kepemilikan mobil dan motor sebagai repersentasi atas status mereka. sedangkan jika kemacetan mulai merambah kehidupan mereka, pemerintah kota yang dikutuk dan dimaki2.

    mau mengerem arus kepemilikan mobil? susah juga. suku bunga bank Indonesia diusahakan menurun atau stabil agar iklim investasi berkembang. lalu dampaknya kredit kepemilikan mobil menjadi mudah.

    jadi semua serba terhubung. bicara tentang transportasi, malah sampai suku bunga bank indonesia….

    btw, anshori itu arek ITS jurusan elektro 98 ta? sawangane aku tau kenal….

  2. Naik busway dah gak nyaman…
    naik KRL takut copet…..
    naik KRL AC, empet empetan juga….
    naik metromini/kopaja jantung dagdigdug karena mereka ugal ugalan dan dipaksa harus loncat untuk naik ataupun turun… (pernah terjatuh dari tangga masuk bis gara-gara buru-buru turun)
    naik angkot, di tengah kota besar susah dan panas….
    naik motor, mereka pada nyetir ugal-ugalan, naik trotoar, kalo si pejalan kaki marah, pengendara motor yang naik ke trotoar galaknya lebih kenceng……
    naik mobil, macet, boros bensin dan tol…..
    mo beli rusunami? takut gempa…. dan luas huniannya yg imut dan mini banget serasa masuk dalam kandang…..
    mo beli rumah, muaaaaahaaaaaaaaaa banget….
    mo beli rumah murah sederhana, jauuuuh di pinggir desa…..
    hmm….
    so…?????

    Ada beberapa mekanisme yang bisa digunakan oleh masyarakat untuk mengontrol kinerja pengambil kebijakan (dalam hal ini pemerintah). Misalnya, pembentukan opini publik lewat tulisan-tulisan yang bisa mengkaji mana yang menjadi sisi positif dari kebijakan yang diambil pemerintah, mana yang masih kurang dan perlu diperbaiki dan bagian apa yang memang harus benar-benar ditanggalkan. Ada keseimbangan (check and balancing) antara pengambil kebijakan (pemerintah) dan user (masyarakat) tentang ketersediaan fasilitas pelayanan publik. Terus menerus mengeluh dan mengkritik tanpa ada solusi juga bukan merupakan tindakan yang bijaksana. Mempergunakan kesempatan dan ruang untuk menyampaikan pikiran adalah salah satu metode yang cukup masuk akal. Apa yang dilakukan dengan pembentukan opini publik dan dialog yang sehat merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki sistem yang dianggap belum melayani dan mengayomi kepentingan umum.

  3. memang ideal ya check and balancing. “check”nya bisa diupayakan terus menerus, sedang “balancing”nya yang sering kedodoran juga.

    giliran masyarakatnya mulai kritis, eh kebablasan sampai hobi memaki-maki.
    giliran pemerintahnya mulai sadar, eh kebingungan (mau nyelesaikan masalah yang mana dulu ya? kebanyakan seeh) hehehe…

    Mungkin perlu adanya skala prioritas tentang kepentingan dan kebutuhan masyarakat mana dulu yang harus diutamakan. Mengenai kekritisan masyarakat yang terkadang kebablasan, mungkin hanya masalah waktu. Karena kita-pun harus memaklumi bahwa kebebasan dan kekritisan kita berbicara belum terlalu lama dinikmati. Ibarat saluran, kita ini sudah terlalu lama disumbat, jadi begitu sumbatan itu hilang yang terjadi adalah “arus besar” yang terkadang tidak terkontrol. Usaha untuk melakukan sharing dan diskusi sehat seperti ini adalah sebuah permulaan yang perlu terus dipupuk. Terima kasih atas komentar dan kunjungannya di blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s