Aku dan Mimpiku (Bagian 3)


Sajian berita-berita yang tersaji dari lembar demi lembar surat kabar yang kubaca pagi itu sungguh menerbitkan rasa percaya diri dan optimisme baru. Lembar ekonomi menyajikan berita kebangkitan ekonomi negeri ini mulai laju inflasi yang dapat ditekan sampai kegairahan para pelaku pasar dalam menyambut babak baru ekonomi Indonesia. Ada sebuah berita sederhana yang cukup mengusik, penguasa negeri ini mengunjungi pasar tradisional. Bukan sesuatu yang aneh karena hal ini sudah sangat sering dilakukan di waktu-waktu lampau. Namun kunjungan-kunjungan yang dilakukan akhir-akhir ini memberikan dampak yang sangat luar biasa. Terlihat bahwa pemerintah begitu menyadari pentingnya fungsi, peran dan kedudukan dari pasar tradisional. Sebagai salah satu penggerak ekonomi rakyat fungsi pasar tradisional bisa dikatakan bagaikan jantung bagi ekonomi rakyat. Selain itu begitu banyak komponen masyarakat yang menggantungkan hidup dari pasar ini. Ada satu hal yang cukup menarik bahwa di saat kondisi perekonomian mengalami kelesuan dan krisis justru simpul-simpul ekonomi kerakyatan ini masih mampu bertahan. Agaknya hal ini yang mendorong pemerintah untuk membuat konsep bagaimana sektor ekonomi rakyat ini mempunyai fungsi strategis sekaligus merupakan salah satu komponen penggerak ekonomi nasional.

Senyum dan keceriaan menyambut pagi…sebuah harapan akan kehidupan baru yang lebih baik. Sambil membaca halaman lain dari surat kabar pagi itu sesekali menikmati teh hangat dan roti panggang yang mulai menanti masa-masa akhir keberadaannya alias habis. Diiringi habisnya roti dan teh hangat maka berakhir pulalah aktifitas bacaku.

05.45
Kumulai beranjak meninggalkan ruang santai dan mematikan televisi. Sedikit menggerakkan badan sambil berolah raga kecil. Aku menuju kamar tidur untuk mengambil notebook dan kemudian mulai berselancar di internet sekaligus melihat barangkali ada pesan elektronik atau email yang masuk. Internet, hal yang seakan-akan membuat orang menjadi gila karena dampaknya yang demikian luas. Manusia seakan diajak berpindah dari ruang dalam arti fisik menuju sebuah ruang semu,cyberspace. Istilah cyber, kemudian lebih dikenal dengan cyberspace sendiri diperkenalkan oleh William Gibson melalui sebuah novel fiksi ilmiahnya Neuromancer tahun 1984. Gibson mengatakan bahwa ruang cyber adalah dunia buatan manusia yang tidak memiliki batas serta digunakan manusia untuk bernavigasi di dalam ruang dasar informasinya. Melalui ruang ini informasi menjadi tak terbatas dan hubungan manusia bagai tak berjarak. Jika dilihat dari akar katanya cyberspace terdiri dari dua suku kata yaitu cyber dan space. Cyber sendiri berasal dari bahasa Yunani kebermetes yang artinya pengontrol atau pengendalian,lalu berkembang ke dalam bahasa Perancis kuno yang berarti seni mengatur. Istilah ini diberikan oleh ahli matematika Wiener untuk teori komunikasi informasi antar disiplin yang menghubungkan prinsip organisasi dan struktur segala pengetahuan suatu mekanisme untuk memperoleh umpan balik dan suatu alat untuk suatu pendekatan sistem terpadu pada informasi.

Seiring dengan perkembangan teknologi telekomunikasi dan informasi, ruang cyber mengalami perkembangan tahap kedua (2nd order of cybernetics).Sistem tersebut dikembangkan oleh Heinz Von Foerster pada awal tahun 1970-an,dimana ruang cyber dapat digunakan untuk mengendalikan atau memantau para pengguna ruang cyber. Dengan demikian penggunanya tidak hanya mensimulasikan informasi dalam benaknya namun juga mampu mengetahui, memantau dan mendapatkan informasi dalam pikiran dan hasil karya pengguna ruang cyber lainnya.

Space sendiri berasal dari bahasa Latin,spatium yang artinya ruangan atau luas (extent) serta bahasa Yunani tempat (topos) atau lokasi (choros) dimana ruang mempunyai ekspresi tiga dimensional. Dalam pandangan barat, Aristoteles mendefinisikan ruang sebagai suatu yang terukur dan terlihat, dibatasi oleh kejelasan fisik, enclosure yang terlihat sehingga dapat dipahami keberadaannya dengan jelas dan mudah. Namun dalam pandangan timur, seperti konsep Ma dalam budaya Jepang serta buku Tao Teh Ching, konsep dasar ruang berasal dari suatu kekosongan dan tidak terlihat namun mampu dirasakan keberadaannya. Dengan demikian bisa dikatakan ruang memiliki pengertian absolut dan relatif.

Bisa dikatakan bahwa ruang cyber merupakan sebuah ruang dalam akal manusia yang diwujudkan dalam ruang buatan sehingga manusia dapat mengetahui, mengendalikan serta memenuhi kebutuhan-kebutuhannya baik kebutuhan di masa kini maupun prediksi kebutuhan masa mendatangnya. Manusia bisa menjelajah segalanya dari sebuah layar kecil. Sebuah terobosan luar biasa abad modern yang terkadang bisa menghilangkan sebuah kehidupan sosial secara fisik. Seperti yang dikatakan Alan Tourine bahwa apa yang timbul adalah akibat modernisasi yang telah mencapai titik ekstrimnya dan selanjutnya disebut hypermodernisasi kontemporer.Dampaknya, kehidupan sosial kini telah kehilangan kesatuannya. Dia kini tak lebih dari sebuah arus perubahan yang terus menerus dan di dalamnya aktor-aktor individu maupun kolektif tidak lagi bertindak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial namun mengikuti strateginya masing-masing serta tidak lagi sepenuhnya dikontrol oleh kekuasaan negara.Begitulah, ilmu pengetahuan dan teknologi selalu menyisakan permasalahan baru yang tidak pernah ada habisnya serta harus terus dicari jalan keluarnya. Selalu memberikan manusia dua sisi mata pisau! Abad cyberspace memang memungkinkan semua kebutuhan dapat diperoleh secara instan namun tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang sudah diperoleh dihancurkan seketika. Tergantung kita sendiri bagaimana menyikapinya.

Merasa cukup, kuarahkan kursor ke tombol shut down. Tak berapa lama benda kecil bernama notebook itu “mengakhiri tugasnya.” Segera kumenuju ruang mandi untuk membersihkan diri dan segera bersiap-siap menghadapi rutinitas kerja.

07.00

Mimpi bukan hanya sekedar mimpi
bunga tidur yang terkesan mati
mimpi adalah harapan
mimpi adalah angan-angan dan tujuan

“Selamat Pagi..!”

4 thoughts on “Aku dan Mimpiku (Bagian 3)

  1. ji, sayangnya, arus berpikir dan bertindak pemerintah pusat tidak di-amin-i oleh pemerintah daerah (surabaya). lihat saja, mall tumbuh subur, pasar tradisinal terpaksa jadi sepi. aktifitas tawar menawar harga sudah tidak dilakukan lagi digantikan dengan aktifitas keluar masuk mall memburu diskon.

    sayang sekali.

    sampai disini, aku bertanya-tanya : apakah pemerintah pusat yang (sekedar) bertindak sok baik agar populis dan pemkot surabaya yang blokosutho (tanpa tedeng aling2) keberpihakannya? atau sebaliknya?
    pemerintah pusat yang beranjak dan mulai bergeliat dan pemkot surabaya yang belum bangun (padahal sugah jam 07.00, waktunya mandi, seperti katamu)

    nah…. kita mesti bagaimana?
    aku pun hipokrit dengan memngalirkan diri agar terbawa arus (memburu diskon sepatu demi dapat yang murah…. hehehehe)

    gimana embrio buku MGL nya?

    tak tunggu ceritanya…

  2. Sebenarnya itu imbas dari otonomi yang “terlalu” kebablasan. Kalau aku tidak salah sebenarnya konsep otonomi pada awalnya hanya sampai “garis” tingkat 1 (propinsi) tapi pada kenyataannya justru malah sampai tingkat 2 (kab/kota) jadi propinsi “hanya” sebagai koordinator. Apa yang terjadi? Justru pemerataan pembangunan jadi kurang karena masing-masing daerah memiliki potensi yang berbeda-beda. Berikutnya pimpinan daerah (bupati/walikota) seakan menjadi “raja kecil”. Apa yang harus dilakukan? kalau aku berpikir kita harus memperkuat lembaga pengontrol baik yang resmi (DPRD) maupun membuat Dewan kota yang berfungsi memberi input maupun sebagai pengontrol dan penyeimbang kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s