Aku dan Mimpiku (Bagian 2)


Headline sebuah surat kabar nasional yang berpengaruh. “Indonesia Gulung Jepang” sebuah headline berita yang sangat mengejutkan. Indonesia menggulung Jepang? Apakah ini sebuah mimpi? bagaimana bangsa ini bisa mengalahkan salah satu raksasa Asia bahkan dunia. Raksasa dalam segala bidang dan aspek. Terutama ekonomi, bisa dikatakan Jepang adalah salah satu pilar ekonomi dunia dan mempunyai posisi yang berpengaruh terhadap perubahan ekonomi secara makro. Perlahan-lahan mulai kubaca kalimat per kalimat isi berita itu. Ternyata…sebuah berita yang menurutku lebih mustahil dan sulit diterima akal, Timnas PSSI mengalahkan Jepang 2-0 dalam penyisihan Piala Dunia zona Asia. Sepakbola? Olahraga yang selalu digembar-gemborkan sebagai olahraga rakyat, namun jarang sekali memberikan berita gembira kepada rakyat. Mengapa? Hampir di setiap sudut wilayah dijumpai masyarakat bermain sepakbola dengan riangnya. Bisa dikatakan olahraga yang satu ini merupakan olahraga rakyat yang benar-benar merakyat. Lapangan bola, alun-alun, lapangan kosong, petak sawah yang habis dipanen bisa dijadikan ajang bermain. Bahkan tidak jarang ditemui anak-anak bermain bola di jalan. Tapi sering muncul anekdot, “Bagaimana mungkin Indonesia yang mempunyai penduduk 200 juta lebih hanya untuk mencari sebelas pemain inti untuk kesebelasan sepak bolanya saja tidak bisa?”

Apanya yang salah?Hampir setiap hari masyarakat pecinta bola selalu dicekoki tayangan pertandingan sepakbola Liga Indonesia, namun masih saja dengan kompetisi yang rutin digelar setiap tahun tidak menghasilkan sebuah prestasi yang signifikan. Alih-alih yang terjadi justru tawuran antar penonton, pemukulan wasit oleh pemain dan aneka macam bumbu-bumbu kerusuhan. Sehingga muncul sebuah opini dalam masyarakat bahwa sepakbola Indonesia selalu identik dengan anarki. Inikah potret masyarakat Indonesia sebenarnya? Bahwa bangsa yang terkenal ramah ini sebenarnya menyimpan benih-benih vandalisme?

Yang terjadi masyarakat pecinta bola justru lebih banyak mengidolakan klub-klub dari negeri seberang yang tayangan kompetisinyapun rutin dinikmati di TV, sebuah berhala baru yang memberikan tingkat kecanduan luar biasa. Orang lebih mengenal pemain yang berlaga di La Liga (Spanyol), Premier League (Inggris), Lega Calceo (Italia) mupun Budesliga (Jerman). Masih ditambah lagi game (permainan) dalam komputer yang menjadikan penggunanya bak manajer handal. Mulai dari Manager Football, Championship Manager-lah dan sederet game-game atau permainan sejenis. Seakan-akan masyarakat diberi sebuah ecstasy baru yang benar benar membikin candu.

Sejenak lamunan dan pergolakan pikiran ini terhenti saat sayup-sayup kudengar pembawa berita TV yang sejak tadi menyala namun kuacuhkan membacakan berita keberhasilan PSSI. Kualihkan perhatian pada berhala abad modern itu. Cuplikan adegan gol-gol yang terjadi dan momen bagaimana penonton begitu riuh menyambut kemenangan, sebuah kata yang rasanya menjadi mahal. Sebuah kata yang seakan menjadi guyuran hujan di tengah tandusnya padang pasir. Di bagian lain repoter stasiun TV mewawancarai para penonton yang menjadi saksi sejaraih ini. Semuanya larut dalam sebuah euphoria kemenangan. Pendapat merekapun senada dengan tokoh-tokoh bolal yang juga dimintai pendapat. Mereka semua berharap agar momen bersejarah ini menjadi awal kebangkitan sepak bola Indonesia. Sebuah harapan dari mayoritas rakyat Indonesia begitu mengharapkan sebuah perkembangan positif dan kemajuan.

Sisi lain dari surat kabar yang pagi itu kubaca membahas keberhasilan Timnas Indonesia dari kacamata seorang pengamat bola terkenal. Dalam tulisannya dia menjelaskan bahwa keberhasilan itu bukanlah sebuah keajaiban, namun adalah buah kerja keras dari Pengurus PSSI dan seluruh insan sepakbola. Sang penulis menyajikan data mengenai tingkat kerusuhan dan pemukulan wasit dari tahun ketahun mengalami penurunan yang cukup signifikan, animo penonton yang terus meningkat. Hal itu ditunjang pula dengan program pelatnas timnas yang kontinyu dan berkesinambungan serta jadwal kompetisi yang teratur.Data, barangkali ini juga menjadi kunci sebuah kemajuan. Bahwa orang mulai melihar data sebagai acuan maupun dasar dalam mengambil sebuah keputusan. Data tidak hanya sebuah angka-angka statistik statis yang hanya bisa diberi komentar dan analisa ngalor-ngidul. Namun data yang memang benar-benar memenuhi dua kriteria yaitu tingkat keakurasian (accuracy) maupun memiliki derajat kebenaran (validity).

Artikel itu menulis bahwa pengurus PSSI sekarang berisikan orang-orang muda yang benar-benar “mencintai” sepakbola bukan hanya sekedar mengerti. Orang-orang yang bekerja keras untuk mengabdikan diri pada sepakbola itu sendiri dan bukan seorang opportunis yang mencari ladang penghidupan dari sepakbola. Mereka tidak lagi mengurus sepakbola bak masa-masa Ramang, Anjas Asmara, Sucipto Suntoro, Ricky Yacobi hingga Kurniawan maupun Bambang Pamungkas yang cenderung konvensional dan begitu-begitu saja. Namun mulai menunjukkan bahwa sepakbola bukan hanya sekedar menjalankan roda kompetisi. Tetapi lebih dari itu bahwa sepakbolapun membutuhkan sentuhan dan pendekatan ilmu-ilmu modern.

Bahwa mengurus sepakbolapun harus memahami kaidah-kaidah ilmu. Paham bagaimana mengamati dan menemukan permasalahan secara benar, paham bagaimana memikirkan masalah tersebut, paham bagaimana menemukan fakta-fakta dari sebuah permasalahan, paham bagaimana mengajukan hipotesa untuk menjelaskan fakta-fakta tersebut serta paham bagaimana untuk tidak “memihak” dalam pengujian hipotesa yang memang memilki kompetensi dalam memecahkan permasalahan yang ada. Terlihat kompleks memang namun para pengurus mampu menerjemahkan ini secara praktis dan sistematis.

Bagian lain tulisan itu menjelaskan bagaimana jadual kompetisi disusun secara teratur dan sistematis dan disesuaikan dengan kalender internasional dari AFC maupun FIFA serta agenda nasional. Keuntungan yang diperoleh dari hal ini adalah program pelatnas jangka panjang timnas bisa berlangsung kontinyu. Di sela-sela kompetisi para pemain yang terpilih dalam timnas berkumpul untuk melakukan latihan bersama dan melakukan pertandingan uji coba. Kondisi pemainpun dapat dipantau dari waktu ke waktu. Data tentang fisik dan psikis pemainpun tersedia. Pun demikian dengan kondisi bio ritmis para pemain. Apa yang bisa didapat dari semua penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi ini adalah pelatih bisa memprediksi kapan penampilan puncak (peak performance) pemain harus di dapat. Para petinggi bola tanah airpun paham akan psikologi massa, karakter dan budaya penonton dan pecinta bola di Indonesia sehingga bisa meminimalisir kerusuhan massa akibat pertandingan sepakbola.

Akupun berpikir bahwa analisa pengamat bola itu tidaklah berlebiha toh hasilnya juga mulai bisa dirasakan. Aku mulai membuka-buka lembar demi lembar dari surat kabar pagi itu. Masih dengan pikiran yang berkecamuk akibat headline sepakbola tadi. Satu demi satu kurunut berita-berita yang tersaji dan…

Mimpi bukan hanya sekedar mimpi
bunga tidur yang terkesan mati
mimpi adalah harapan
mimpi adalah angan-angan dan tujuan

“Selamat Pagi..!”

One thought on “Aku dan Mimpiku (Bagian 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s