Air (Mimik dan Momok), Sebuah Kearifan Dalam Hidup


Tes…tes…tes…
Itulah sedikit gambaran yang telah kita ketahui tentang butiran air yang menetes. Sedikit berandai-andai, membayangkan butiran air yang menetes di atas bebatuan. Perlahan, seakan menunjukkan sebuah kesabaran. Tetes demi tetes, detik demi detik seakan tak pernah berhenti membuat cerukan-cerukan di atas batu. Waktu seakan menjadi saksi bisu akan sebuah kesabaran. Satu tetes, dua tetes sampai akhirnya ribuan tetes air berkumpul dan mengalir dari celah-celah bebatuan, menjadi satu dalam sebuah kejernihan mata air. Pernahkan kita mencoba melihat dan memahami kejernihan itu?
Mendekatkan wajah kita dalam pantulan sang air, maka yang ada di balik kejernihan adalah bayangan wajah kita sendiri. Yang ada adalah pantulan kejujuran dan kepolosan.

Air adalah salah satu kebutuhan yang paling mendasar bagi makhluk yang hidup di alam fana ini. Apa jadinya seadainya Sang Esa tidak menciptakan air? Sebuah ketiadaan. Ketiadaan kehidupan, ketiadaan kemajuan, ketiadaan kerusakan, ketiadaan dosa dan ketiadaan-ketiadaan lainnya. Ketiadaan yang membuat dunia ini menjadi tiada. Namun “Titah” menghendaki lain, diciptakan-Nya air, diciptakan-Nya udara, diciptakan-Nya makhluk, diciptakan-Nya kerusakan, diciptakan-Nya dosa dan sebagainya. Hingga akhirnya tercipta suatu kompleksitas. Semuanya saling bergantung, berhubungan dan saling membutuhkan.

Mengibaratkan air dengan makhluk bernama manusia, barangkali bisa memberikan sebuah gambaran nyata tentang kompleksitas kehidupan. Air yang terkadang jernih terkadang keruh seakan membuat diri kita bercermin. Jernih dan keruh ibarat jiwa manusia yang terkadang tenang, santun, menjadi makhluk yang bermoral,taat terhadap hukum dan ketetapan Illahiah. Namun ada kalanya di sisi lain sosok manusia menjelma menjadi Dasamuka, Duryudana, Dajjal, Hittler dan makhluk-makhluk penyebab kerusakan.

Air yang terkadang tenang terkadang bergelombang seakan menggambarkan keadaan makhluk-makhluk yang menerima asupan dan kemanfaatannya.Terutama manusia, sebagai pembawa “Titah Illahiah.” Di saat manusia mempunyai kearifan terhadap semesta dan seluruh penghuninya, airpun seakan memberikan gambaran yang setimpal. Hidup dan memberi kehidupan. Di waktu lain seperti yang kita alami saat ini, air yang seharusnya hidup dan menghidupi seakan berubah menjadi sosok raksasa menakutkan. Menerjang dan menyapu semua yang ada. Makhluk yang seharusnya dihidupinya seakan tidak dipedulikan lagi. Sebuah kemarahan, pemberontakan, luapan emosi yang seakan-akan sudah sampai di ubun-ubun.

Namun kembali kita bercermin dalam kejernihan sang air. Bukankah itu gambaran diri kita sendiri? Gambaran kemarahan, pemberontakan, luapan-luapan emosi yang
tak terbendung. Kemanakah kearifan itu?Kemanakah kesabaran itu?Manusia, sosok makhluk yang membawa “Titah Illahiah.” Seharusnya “memberi hidup dan kehidupan” bagi sekitanya ternyata melalaikan kewajiban-kewajiban yang dipikulkan kepadanya. Adakah kita menyalahkan alam?Menyalahkan air?Menyalahkan Sang Pemberi Hidup?

Mengenang waktu lampau, saat kita dalam buaian sang bunda. Masa kanak-kanak, kala kita bebas bermain yang terkadang dengan kenakalannya sering menyusahkan orang tua. Kenakalan yang ada kalanya berbuah nasehat-nasehat yang memberikan pencerahan, penyadaran. Namun di waktu lain saat kenakalan itu memuncak terkadang berbuah “jeweran” di telinga kita. Kenapa di telinga? Tidak di tangan, kaki, hidung dan bagian tubuh lainnya?Telinga merupakan instrumen dalam diri untuk menangkap suara, nasehat dan pencerahan. Apa yang diharapkan dari “jeweran” itu? Sebuah penyadaran agar kita mendengarkan nasehat dan pencerahan.Sebuah teguran kasih sayang.

Apa yang dilakukan sang air merupakan sebuah “Teguran Kasih Sayang.” Mampukah kita menangkap dan memahami teguran itu?Menangkap nasehat-nasehat alam.Menangkap kasih sayang itu?Mengembalikan kitai kepada akar kearifan manusia, sang pembawa “Titah Illahiah.” Apa yang akan terjadi seadainya “kemarahan” sang air berbuah musnahnya air dari kehidupan kita?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s