Mukadimah


Waktu senggang bisa menjadi sesuatu yang mahal. Disaat waktu diidentikkan dengan berapa lembar rupiah atau dollar yang dihasilkan kesempatan untuk sekedar bersosialisasi dengan sesama atau hanya say hello menjadi sebuah moment yang mahal. Namun ketika kesempatan itu datang tak jarang justru dimanfaatkan untuk hal-hal yang berlebihan. Banyak ditemui kaum perempuan bahkan tidak ketinggalan kaum lelaki berkumpul bukannya untuk berdemo namun sekedar memperbincangkan suatu hal. Mulai dari sekedar hobi merawat anthurium, gosip artis-artis bahkan terkadang topik berat yang masuk wilayah publik seperti kondisi negaran kenaikan harga minyak dan sebagainya.

Fenomena ini banyak ditemui di berbagai tempat dan komunitas masyarakat. Tak jarang ajang ini dipergunakan untuk membicarakan orang-orang di sekitarnya, tetangga mupun teman sekantor. Dari sekedar ibu A beli kulkas secara kredit, anak si B yang nakal bahkan tak jarang hal-hal yang masuk wilayah pribadi seperti Nina yang putus dari pacarnya. Gejala untuk berkumpul dan memperbincangkan dan menggunjingkan suatu hal ini dalam masyarakat jawa sering disebut ngrasani. Aktifitas rasan-rasan sering dianggap tidak produktif dikarenakan hal yang dibicarakan terkadang kurang pas dan tak jarang dikonotasikan negatif.

Karena seringnya image negatif yang dialamatkan pada acara rasan-rasan , kesan sebuah aktifitas yang tidak berguna menjadi lebih dominan. Padahal dari rasan-rasan ini tak jarang timbul sebuah ide segar. Terkadang dari sekedar aktifitas yang dinilai omong kosng ini banyak hal-hal bermanfaat yang bisa dirasakan. Warga sebuah kampung melihat ada sebuah lahan kosong yang bisa dimanfaatkan, dari sekedar perbingangan ringan tercetus ide untuk membuat semacam balai RT. Akhirnya dicari cara dengan swadaya dana dan bahan yang sederhana hingga berdiri sebuah Balai RT yang menjadi pusat kegiatan warga di sekitarnya. Barangkali itu hanya sebuah contoh kecil yang memang pernah dialami oleh penulis bermula dari omongan yang ngalor-ngidul, muncul sebuah ide sederhana yang mampu direalisasikan.

Dipicu dari semangat inilah muncul gagasan forum rasan-rasan ini. Sebagian orang mungkin masih menganggap ngrasani adalah sebuah tindakan asosial dan dicitrakan negatif, namun dari tulisan sederhana ini kita coba sedikit untuk memperbarui citra itu. Bahwa rasan-rasan dapat menjadi sebuah aktifitas yang lebih berbudaya. Bahwa rasan-rasan mampu memberikan sedikit nilai positif dan kemanfaatan bagi kehidupan di sekitar kita. Bahwa rasan-rasan ini dapat menjadi sebuah ajang untuk “ngrasani dengan hati.”

4 thoughts on “Mukadimah

  1. Akan ada kelanjutannya, bahan sudah siap tinggal “eksekusi” saja. Ditunggu rasan-rasannya. Semoga memberi kemanfaatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s