Pasarku (Kini)…

10 09 2008

Pasar terapung di Banjarmasin

ORANG  berlalu lalang, suara saling bersahutan, becek di sana sini pada musim hujan, kumuh, tak jarang menjadi salah satu area hitam karena seringnya terjadi tindak kriminalitas. Barangkali itulah sedikit banyak gambaran umum pasar tradisional di Indonesia, terutama pasar-pasar tradisional yang ada di daratan. Karena gambaran pasar tradisional ini seketika berubah saat kita mengamati pasar tradisional di daerah yang di kelilingi perairan terutama wilayah di luar Jawa. Kondisi dan citra pasar yang demikian buruk tak jarang menimbulkan dilema, bagai buah simalakama bagi pemerintah daerah setempat. Disatu sisi merupakan sentra perekonomian rakyat tapi di sisi lain ibarat kuman penyakit yang harus dibasmi karena memberikan citra negatif wajah kota. Di tengah gencarnya penetrasi pemodal besar (kapital) dan demi keuntungan sesaat maka tak jarang pemerintah daerah mengambil jalan pintas dengan mengijinkan mereka (peretail besar) untuk menanamkan modal di wilayahnya dengan mendirikan pasar-pasar modern (mal, supermarket, hypermarket dan sebutan-sebutan sejenis lainnya).

Kondisi fisik dan lingkungan pasar yang dianggap sudah tidak sejalan dengan perkembangan jaman dijadikan alasan utama untuk “menyingkirkan” keberadaan pasar tradisional. Tanpa pernah mencoba mencari solusi pemecahan maksimal, tiba-tiba langsung saja nasib pasar tradisional harus ditentukan oleh buldozer dan alat perusak berat lainnya. Tak jarang area yang dahulu sebuah pasar tradisional berubah wajah menjadi pusat perbelanjaan modern. Namun tidak berarti pendirian pusat perbelanjaan modern tersebut tidak menimbulkan masalah. Masalah amdal dan simpul kemacetan baru merupakan hal yang sering terjadi.
Baca entri selengkapnya »





Surabaya, “A Shopping City?”

21 05 2008

Perayaan ulang tahun sering diidentikkan dengan pesta,kemeriahan dan kesenangan. Sering dijumpai pesta perayaan ulang tahun baik anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua diadakan dengan penuh kemeriahan. Hanya kadar kemeriahan dan pelaksanaannya berbeda-beda. Pesta ulang tahun anak-anak identik dengan kelucuan,keceriaan melalui tema warna-warni. Sementara bagi remaja apalagi ketika menginjak usia 17 tahun, kemeriahan dan kesenangan ini diwujudkan dengan sebuah pesta hura-hura bahkan tak jarang diadakan hingga semalam suntuk. Sebuah ekspresi kebebasan. Di sisi lain ketika memasuki masa-masa dewasa dan usia lanjut perayaannya banyak diwarnai kesan sederhana,banyak diisi perenungan kembali terhadap apa yang sudah dilakukan,dialamai dan dijalani. Tampaknya perjalanan waktu membuat orang untuk lebih arif dalam menyikapi bertambahnya usia. Pengalaman-pengalaman yang dihadapi setidaknya membuat orang untuk lebih dewasa dalam berfikir sehingga wujud kemeriahannya lebih sarat dengan makna positif dan tidak semata-mata menjadi bentuk hura-hura. Baca entri selengkapnya »