MUDIK! Kata yang pertama kali terpikirkan begitu mendengar kata Lebaran. Untuk mempersiapkan tradisi mudik, tabungan dan simpanan yang dikumpulkan dalam rentang satu tahun rela dihabiskan. Hasil jerih payah tersebut biasanya dipergunakan untuk menyediakan pernak-pernik lebaran, mulai dari “menu wajib” baju baru hingga aneka makanan.
Rangkaian lain dari kegiatan mudik adalah silaturahmi, bertemu sanak saudara di kampung halaman. Ada sebuah upaya untuk menciptakan “ruang rindu”, ruang imajinasi untuk membangkitkan kenangan (memori). Hingga tak jarang sering dijumpai kegiatan penunjang silaturahmi misal arisan keluarga, reuni ataupun kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan pertemuan dan pembangkitan kenangan. Rentang waktu tertentu rupanya benar-benar meninggalkan hasrat untuk bertemu secara fisik. Selain tujuan utama lebaran untuk saling bermaafan, proses pertemuan secara fisikpun menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Jika merunut perkembangan peradaban yang makin maju (modern), acara mudik, sekedar saling silaturahmi fisik yang terkadang dalam prosesnya seringkali menimbulkan kemacetan luar biasa dan kejadian-kejadian lalu lintas bisa dilakukan dengan cara lain sehingga tidak menimbulkan efek negatif seperti macet dan kecelakaan lalu lintas. Kemajuan teknologi seperti telepon (termasuk handphone) yang sudah merambah pelosok bisa dimanfaatkan, baik melalui panggilan (menelepon), SMS, MMS dan fitur-fitur pendukung lain. Fenomena ini biasanya disikapi operator (penyedia layanan telepon) dengan mengobral berbagai kemudahan fasilitas dan tarif yang terkadang tidak masuk akal. Belum lagi pemanfaatan jaringan internet maupun pos. Toh fasilitas-fasilitas tersebut tetap tidak menggoyahkan tradisi mudik ini.
Baca entri selengkapnya »



Komentar Terakhir