Jejak Purba di Sangiran

1 11 2008

Oleh : Harry Widianto
Ahli Arkeologi/Paleoantropologi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Dimuat di harian Kompas, 13 Juni 2008

Situs Sangiran

Situs Sangiran

KISAH panjang mengenai evolusi manusia di dunia tampaknya tidak dapat dilepaskan sama sekali dari sebuah bentangan lahan perbukitan tandus yang terletak di tengah perbatasan Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa tengah. Lahan seluas 8 x 7 kilometer persegi, yang saat ini dikenal dengan nama Situs Sangiran itu telah mencuatkan kisah yang menggema lantang ke seluruh dunia. Terutama sejak ditemukan oleh GHR von Koenigswald melalui temuan alat-alat serpih pada tahun 1934.

Di sini telah muncul salah satu pusat evolusi manusia di dunia, yang sanggup menorehan cerita panjang tentang kemanusiaan sejak 1,5 juta tahun lalu. Itu sebabnya, Sangiran dimasukkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 1996.

Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang tererosi bagian puncaknya sehingga menghasilkan cekungan besar di pusat kubah. Akibatnya, lapisan-lapisan tanah berumur tua tersingkap secara alamiah, menampakkan lapisan-lapisan berfosil, baik fosil manusia purba maupun binatang.

Okupasi manusia purba dari tokson Homo erectus secara intens telah meninggalkan jejak-jejaknya, seperti artefak batu ataupun lingkungan faunanya, dalam lingkungan purba yang terbentuk selama 2 juta tahun terakhir tanpa terputus. Inilah napas dan arti mendalam dari Situs Sangiran sebagai salah satu situs akbar dalama kajian evolusi manusia di dunia.

Baca entri selengkapnya »





“Masterpiece” Itu Teramat Sempurna

31 10 2008

oleh : Harry Widianto
Ahli Arkeologi/Paleoantropologi Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Dimuat : Kompas, 13 Juni 2008

Sangiran 17

Sangiran 17

DISEBUT sebagai Sangiran 17 (sesuai dengan nomor seri penemuan yang diberikan), fosil tengkorak Homo erectus yagn ditemukan dari endapan pasir fluvio-volkanik di Pucung ini merupakan salahs atu temuan master piece Homo erectus Sangiran. Desebut demikian karena temuan ini merupakan temuan fosil manusia terbaik dari Sangiran, yang terdiri atas atap tengkorak dan dasar tengkorak dengan muka masih terkonservasi secara baik meski proses transportasi dan deformasi telah memintalnya selama lebih dari 500.000 tahun.

Inilah satu-satunya fosil Homo erectus Asia yang mempunyai muka sehingga tidak dapat dimungkiri lagi bahwa Sangiran 17 memiliki nilai penting yang amat besar dalam rekonstruksi muka Homo erectus yang sebenarnya. Dalam konteks yang lebih luas, Sangiran 17 adalah salah satu dari dua tengkorak Homo erectus di dunia yang ditemukan lengkap dengan mukanya. Spesimen lainnya berasal dai Afrika Timur.

Inilah bentuk muka Homo erectus itu. Dahi sangat datar, tulang kening menonjol, orbit mata persegi, pipi lebar menonjol, mulut menjorok ke depan dan tengkorak pendek memanjang. Berdasarkan morfologi tengkorak yang dipenuhi dengan superstruktur tengkorak yang berat dan insersi otot-otot yang sangat berkembang, tengkorak ini adalah individu laiki-laki dewasa.

Dia hidup pada saat Sangiran didominasi oleh lingkungan sungai yang luas pada periode sekitar 500.000 tahun yang lalu. Mengingat primanya kondisi temuan ini telah menjadikan nilai teramat penting baginya. Sangiran 17 menjadi data banding dalam telaah evolusi fisik bagi temuan-temuan fosil homo erectus lainnya sehingga cetakan fosil ini dapt ditemukan di berbagai laboratorium evolusi manusia paling terkemuka di dunia meski fosil aslinya saat ini tersimpan damai di salah satu laboratorium di Bandung.

Impilikasinya, Sangiran 17 mempunyai kisah mendunia. Dia tdiak pernah ditinggalkan sekejap pun oleh para ahli paleoantropologi dalam melahirkan karya-karya besar mereka tentang evolusi manusia. Ketika analisis Homo erectus dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun, di situlah Sangiran 17 akan hadir. Bagaikan air abadi yang mengalir, menghidupi kisah evolusi manusia, Sangiran 17 ada dimana-mana meski dalam bentuk cetakannya.





Membangun Kawasan Bersejarah yang Dinamis

8 08 2008

Oleh : Punto Wijayanto
Peneliti di Center for Heritage Conservation, Jurusan Arsitektur dan Perancangan, Universitas Gadjah Mada (UGM), juga relawan untuk Green Mapper Jogja dan Klinik Urban
Dimuat di : Peta Hijau Jogja, Edisi 01 April 2006
“2002-2006, 4 Tahun Metani Jogja”

Menarik untuk mencermati gagasan tentang bagaiman menghidupkan citra Kota Yogyakarta dengan mempertahankan keotentikannya. Otentik di sini mengacu pada bentuk kawasan seperti waktu pembentukannya, ditandai dengan arsitektur, misalnya gaya Tiong Hoa di kampung Ketandan atau gaya Mataram di Kotagede (Kompas 13/03), sementara, kita tahu, kota itu dinamis dan terus mengalami perubahan menurut kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya.
Baca entri selengkapnya »





Sudahkah Surabaya Jadi Kota Sehat?

20 06 2008

Oleh: Djoko Santoso
Ahli Ginjal-Hipertensi, member of American College of Physicians
Dimuat di Jawa Pos, 3 Juni 2008

Pada 31 Mei lalu, Surabaya merayakan hari jadinya yang ke-715. Kota ini telah tumbuh begitu cepat dan pesat. Sudahkah Surabaya menjadi kota yang sehat? Kota yang sehat adalah kota yang senantiasa mampu menciptakan dan memperbaiki lingkungan fisik dan sosialnya. sebagai contoh. Kota Canberrra, Australia. Kota tersebut berpenduduk 308.659 jiwa dengan luas area 2.400 kilometer persegi. Canberra tergolong sangat sehat.
Baca entri selengkapnya »





Maaf Anda Ketinggalan Kereta

3 06 2008

oleh : Mochamad Elman
Wartawan Jawa Pos
dimuat di harian Jawa Pos
Rabu, 28 Mei 2008

Saya membayangkan Emir Kuwait Ahmad jabir Al Shabah dan Presidan Venezuela hugo Chavez, dua pemimpin negara anggota OPEC, saat ini sedang geleng-geleng kepala melihat laporan Al Jazirah atau CNN tentang demo ibu-ibu membawa rantang dan jeriken minyak di depan Istana Merdeka. Keduanya tak membayangkan saat negara-negara anggota klub eksklusif itu berpesta menaggapi melambungnya harga minyak di atas USD 130 per barel, orang Indonesia-yang juga anggota OPEC-sedang marah karena harga BBM naik.
Baca entri selengkapnya »





Kepemimpinan Tanpa Bendera

21 05 2008

0leh : Sri Sultan Hamengkubuwono X
(Gubernur Kepala Daerah Istimewa Jogjakarta)
dimuat di Jawa Pos, 19 Mei 2008

Jika saat ini ada orang bertanya “Apa salah satu tindakan berani seorang pemimpin pada era seperti sekarang ini?” Saya pasti akan menjawab, “Berani menetang saran penasihatnya!” Sebab, banyak penasihat yang tiba-tiba gamang menghadapi dinamika sosial, politik dan ekonomi yang bergerak fluktuatif seperti sekarang.

Jika ada penasihat yang menyarankan pembubaran kelompok keagamaan, padahal mereka tidak melakukan ajakan bunuh diri, pemaksaan dan kekerasan, saran itu harus ditentang. Baca entri selengkapnya »