“…..Di Ersilia, untuk menciptakan hubungan-hubungan yang menopang kehidupan kota, para penduduknya merentang tali-tali dari pojokan rumah-rumah, putih atau kelabu atau hitam putih berdasarkan penandaan hubungan darah, perdagangan, otoritas, peragenan. Tatkala tali itu menjadi begitu banyak sehingga kau tak dapat lagi lewat di sela-selanya, para penduduk meninggalkannya: rumah-rumah dirobohkan; hanya tali-tali dan penopangnya saja yang tertinggal….”
Nukilan novel Invisible City (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kota-kota Imajiner) karya Italo Calvano sedikit banyak memberikan gambaran wajah dunia yang telah berubah. Pergerakan menjadi semakin cepat. Waktu seakan termampatkan. Pertukaran informasi tidak lagi berpijak pada hitungan bulan, hari dan jam, namun sudah bergeser dalam hitungan detik. Imajinasi geografis yang menghasilkan konsep “desa”, “kota”, “bangsa”, “negara”, “global” dan sebagainya telah menghilang dan lebur. Internetlah yang menghilangkan sekat dan batas geografis itu. Dunia terlipat dalam sebuah lipatan kecil. Pelipatan dan pemampatan yang oleh David Harvey disebut dengan time-space compression (pemampatan ruang-waktu). Hambatan-hambatan ruang (space barriers) dapat diatasi dengan teknologi, sehingga menciptakan percepatan kehidupan.