Untuk kesekian kalinya saya berkesempatan mengunjungi Langgeng Fine Art Gallery (begitu nama resmi dari galeri ini), tapi orang lebih suka menyebutnya Galeri Langgeng. Masih saja terlihat sepi, karena memang jika tidak ada agenda kegiatan, tak terlalu banyak orang yang mau mengunjunginya. Padahal jika sejenak meluangkan waktu untuk berkunjung tidak akan merasa rugi karena banyak hal yang bisa diperoleh di tempat ini. Hijaunya tanaman menjadi pemandangan lazim saat pertama kali menginjakkan kaki. Bukan hijaunya tanaman di dalam galeri semata namun lingkungan di sekitarnyapun memberi nuansa lain, mengingat galeri yang terletak di Jl Cempaka No. 88, Magelang tepat berhadapan dengan Taman Wisata Kyai Langgeng. Sebuah kompleks wisata alam di sisi timur Sungai Progo.
Langgeng, nama ini sengaja dipilih karena kebetulan lokasinya berdekatan dengan situs makam Kyai Langgeng, dimana menurut cerita masyarakat setempat merupakan salah satu pengawal dari Pangeran Diponegoro. Selain itu lokasinya berhadapan pula dengan Taman Wisata Kyai Langgeng. Di sisi lain, menurut Deddy Irianto (yang kemudian dikenal dengan Deddy Langgeng, pemilik Galeri Langgeng) keberadaan dua tempat di sekitar galeri itu menjadi sebuah keuntungan (hoki) tersendiri. “Langgeng” sendiri merupakan sebuah kata serapan yang berasal dari Bahasa Jawa dan memilik arti abadi, kekal atau selamanya.
Untuk menemukan Galeri Langgeng tidaklah terlalu sulit mengingat lokasinya tepat berhadapan dengan kompleks Taman Wisata Kyai Langgeng (tepatnya di depan Hotel Puri Asri).Memang jika hanya dilihat sekilas, tidak tampak kalau bangunan dengan tanaman hijau di bagian depannya merupakan sebuah galeri yang banyak menyimpan karya-karya kontemporer perupa-perupa Indonesia. Bahkan ketika saya pertama kali mengunjungi tempat ini, saya seperti tidak melihat sebuah galeri. Meskipun dibangun pada area yang memiliki topografi lebih tinggi dibandingkan jalan utama di depannya namun keberadaan bangunan yang tertutup rindangnya pepohonan di sekitarnya membuatnya tidak begitu menonjol.
