• Mukadimah
  • Potret Diri
  • Wajah Kita
  • Selamat Pagi…!

rasanrasan

~ ketika hadir sebagai beda, bukan sebagai sama, bukan sebagai satu.....

rasanrasan

Monthly Archives: April 2011

Taman yang Tak Lagi Nyaman

25 Senin Apr 2011

Posted by Aji Prarismawan in Angkringan

≈ Tinggalkan sebuah Komentar

Tag

kota, perilaku, ruang publik, taman

TANGGAPAN orang Indonesia terhadap taman sudah muncul sejak masa pra-Islam. Taman dianggap sebagai lambang kehidupan manusia yang lebih tinggi, tempat manusia, pencipta dan alam menyatu. Taman banyak muncul di hampir semua jenis sastra Jawa (dalam pewayangan kita mengenal nama Taman Sriwedari). Denys Lombard menyatakan bahwa taman di Jawa sebenarnya merupakan lambang dari dua unsur, bumi dan air. Dari dua hal inilah semua unsur pemikiran rancangan taman muncul (Taman : Surga di Bumi).

Berjalannya waktu dan pergeseran perilaku ternyata turut berpengaruh terhadap fungsi dan makna taman sebagai sebuah ruang publik. Taman (yang seharusnya) bisa menjadi tempat manusia untuk bertemu, berjalan-jalan, bercakap-cakap dan menyatu dengan alam sekitarnya mulai mengalami kemorosotan fungsi. Ruang dan budaya publik itu kini telah terkomersialisasi dalam ruang komersial/privat di balik bingkai sebuah mal perbelanjaan serta dunia tema tersimulasi. Ruang publik komersial itu telah membalikkan situasi antara “yang di luar” dan “yang di dalam”.

Taman-taman yang kini hadir dalam kemegahan fisiknya, justru ibarat “tempat sampah” yang berbahaya. Tak jarang menjadi lokasi prostitusi, tempat hidup mereka yang makin terpinggirkan, sebuah simbol ketidakmampuan kota dalam melindungi warganya.

Taman-taman itu kini tercerabut dari akarnya. Tak lagi menjadi tempat manusia, pencipta dan alam-nya untuk menyatu….

-7.290322 112.789003

(Masyarakat) Adat dan Alam

25 Senin Apr 2011

Posted by Aji Prarismawan in Angkringan

≈ Tinggalkan sebuah Komentar

Tag

adat, alam, hidup, kehidupan

DATA The World Conservation Union tahun 1997 mencatat bahwa dari sekitar 6.000 kebudayaan yang ada di dunia, 4.000-5.000 (sekitar 70%-80% dari total masyarakat budaya di dunia) diantaranya adalah masyarakat adat. sebuah jumlah yang sangat besar dan tidak dapat dikesampingkan, meskipun dalam kerangka dominasi ekonomi serta kemajuan iptek mereka selalu termarginalkan.

Namun bagaimana mereka memandang alam dan tanah sebagai sesuatu yang mempunyai peranan penting dan sakral adalah hal yang perlu kita cermati dan renungkan. Tanah bagi masyarakat adat adalah sumber kehidupan bagi manusia maupun semua makhluk di dalamnya. Bahkan dalam arti tertentu, tanah bukan sekedar sumber kehidupan, karena dia adalah kehidupan itu sendiri. Ia adalah “ibu” yang memberi hidup dan memancarkan kehidupan, ia memberi makna pada kehidupan.

Tanah mempunyai dan memberi makna ekologis, sosila, spiritual dan moral bagi manusia dan makhluk hidup lain. “tanah bukan sekedar rahim bagi reproduksi kehidupan biologis, melainkan juga reproduksi kehidupan budaya dan spiritual (di dalamnya) begitu ucap Vandana Shiva. Hal yang (sudah dan seringkali) dilupakan…..

* Sebuah catatan dari “Etika Lingkungan” (A. Sonny Keraf), sumber gambar silakan klik di sini.

-7.290322 112.789003

Rumah

06 Rabu Apr 2011

Posted by Aji Prarismawan in Apa Kata Mereka

≈ Tinggalkan sebuah Komentar

Tag

Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad, rumah, Wae Rebo

Goenawan Mohamad
Catatan Pinggir
- Majalah Tempo Edisi Senin, 28 Juni 2010

Goenawan Mohamad

DI ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, sebuah dusun di Flores Barat mencoba mengingat.

Di Desa Wae Rebo itu, orang membangun kembali rumah adat mereka yang berbentuk kerucut—setelah entah berapa lama hanya empat yang tertinggal dari tujuh yang pernah berdiri, setelah pohon kayu worok tak mudah lagi didapat untuk bahan tiang utama, setelah sawah ladang tak cukup bisa membuat surplus. Generasi silih berganti selama 1.000 tahun; mereka membentuk sejarah, dibentuk sejarah. Kebutuhan baru datang, dan desa didefinisikan oleh kekurangan yang dulu tak ada. Pada abad ke-21, ingatan tak lagi berwibawa: hanya sebuah gudang berisikan hal-hal yang aus.

Waktu memang bukan teman untuk Wae Rebo—sebagai nama yang dicoba disimpan dalam ingatan dan dilambangkan oleh rumah adat. Waktu bukan teman bagi banyak dusun tua lain di Indonesia, di mana rumah pernah memiliki ”kosmisitas”, di mana (jika saya tafsirkan pengertian Bachelard ini) orang bisa merasakan getar dari tiang yang menjulang, seakan-akan tiap saat bumi menjangkau yang kosmis.

Kita, hidup di kota yang makin padat, mungkin bahkan tak lagi sempat mempedulikan yang kosmis nun di atas. Yang vertikal di tempat tinggal dan tempat kerja kini dilambangkan oleh bangunan bertingkat yang tiap lantai bisa didatangi dengan lift. Ia jadi sesuatu yang horizontal. Tubuh kita tak mendaki.

Berbeda dengan nenek moyang orang Wae Rebo, kita tak berteman dengan ruang. Penghuni Wae Rebo yang hidup di antara gunung itu menyadari mereka bagian dari tamasya yang lebih luas ketimbang dusun. Sementara itu, di Jakarta, para pembangun rumah susun memaksa ruang atau dipaksa ruang; konstruksi mereka lahir dari impuls geometris.
Continue reading »

-7.290322 112.789003

Renaisans Perkotaan

01 Jumat Apr 2011

Posted by Aji Prarismawan in Apa Kata Mereka

≈ Tinggalkan sebuah Komentar

Tag

Eko Budihardjo, Perkotaan, Renaisans

Eko Budihardjo – Guru Besar Arsitektur dan Perkotaan Universitas Diponegoro; Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia
Kompas, 9 Maret 2011

Prof Eko Budihardjo

Berita tentang kemubaziran dana rakyat triliunan rupiah akibat telantarnya ribuan unit rumah susun sewa di DKI Jakata (Kompas, 1-2 Maret 2011) sungguh terasa amat menyesakkan dada.

Betapa tidak. Begitu banyak saudara kita sebangsa dan setanah air yang masih tinggal di kolong jembatan, sepanjang tepi rel kereta api, bahkan di kuburan, dengan kondisi mengenaskan. Kok, bisa-bisanya di negara Pancasilais ini ada 74 dari 78 menara kembar rumah susun yang sudah terbangun ternyata mangkrak atau telantar. Kendalanya, menurut pihak berwenang, karena tak tersedia prasarana (infrastruktur) seperti air bersih dan listrik, serta sarana pendidikan dan akses transportasi.

Ajaib betul. Bagaimana mungkin rumah susun dibangun tanpa kelengkapan air bersih dan jaringan listrik. Orang pasti geleng-geleng kepala tak habis pikir mendengar adanya rumah susun di Kemayoran yang tak bisa dihuni karena lift yang dijanjikan Pemprov belum juga dipasang. Menyebalkan, menggelikan, sekaligus memalukan kisah tragis ini terjadi di ibu kota negara di era milenium ketiga. Bukan di kota kecil terpencil.
Continue reading »

-7.290322 112.789003

♣ Jejak…..

Arsitek di ruang angan dan kenyataan

♣ Blogroll

  • 19design – Arsitektur Interior Landscape
  • greenatlas
  • greenmap
  • Kajian Internasional Strategis
  • naris batik
  • supergaban

♣ Kategori

♣ Arsip

♣ Translate To

♣

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

♣ Pengunjung

  • 24,878 hits

♣ Statistik Blog

HTML hit counter - Quick-counter.net
Add to Technorati Favorites
Check PageRank

♣ Dimanakah Aku

♣ Statusku

♣ Online

online counter

♣ Almanak

April 2011
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

♣ Tulisan Terkini

  • Trowulan, Melacak Jejak Masa Lalu
  • Syang Art Space
  • Indonesiaku Kini, “Sambung Menyambung Menjadi Satu”
  • Langgeng Fine Art Gallery, Sebuah Catatan dan Harapan
  • Menuju Surabaya yang Lebih Hijau

♣ Tulisan Teratas

  • Malioboro: Dari Kematian Tugu Waktu sampai Politik Tanda Mata
  • Menuju Surabaya yang Lebih Hijau
  • Balai Kota Surabaya (Staadhuis te Soerabaia), “Total Work of Art”
  • Menyusuri Jejak Masa Lalu ("Makam Tua Peneleh")
  • Selamat Pagi...!

♣ Kata Kunci

alun-alun Arsitektur Art Deco Bambang D.H BBM Belanda Deddy irianto Euro 2008 Galeri Langgeng Gedung Bundar Hugo Chavez inefisiensi Insomnia Jawa Pos Kafein Kebangkitan Nasional kemacetan Kenaikan BBM kolonial kota Lebaran lembur Magelang Malioboro Minyak OPEC Pasar Pasar Turi pedestrian pemadaman bergilir penataan PLN Ruang ruang publik Sehat Senirupa Shopping City SSF Stress Sultan Hamengku Buwono X Surabaya Thomas Karsten Tidur transportasi zebra cross

♣ Komentar Terakhir

eko on Langgeng Fine Art Gallery, Seb…
cincinatim on Gedung Bundar, Bukti Keberadaa…
okta on Syang Art Space
okta on Syang Art Space
dian cahyo on Membangun Kawasan Bersejarah y…
Mario on Menyusuri Jejak Masa Lalu (…
Tina Chayanx Adix on Selamat Pagi…!
Tina Chayanx Adix on Selamat Pagi…!
De'e Pothele on Jejak Purba di Sangiran
martha Hartanti on Galeri Langgeng dan Hiruk Piku…

♣ Catatan Arsitektural-ku

19desain

♣ Portofolioku

Gerbang Tol Waru

BBPJN V - 3

BBPJN V - 2

BBPJN V - 1

Islamic Village

More Photos

♣ Dunia-ku

Aji Prarismawan | Create your badge

Blog pada WordPress.com. Tema: Chateau oleh Ignacio Ricci.