11 Maret 2002, terjadi hiruk pikuk di galeri yang terletak di Jl Cempaka No. 88, Magelang (tepat berhadapan dengan Taman Wisata Kyai Langgeng). Hari itu Rendra, Sardono W. Kusumo, Darmanto Jatman, Garin Nugroho, Sujiwo Tejo, Afrizal Malna, Emha Ainun Najib, Hari Roesli, Sindhunata, Andy Siswanto dan beberapa seniman serta budayawan tumpah ruah, untuk mendiskusikan sebuah tema, “Intercosmolimagination” dan sekaligus menandai dibukanya Galeri Langgeng. Prosesi ini disemarakkan pula dengan pementasan orchestra Trunthung, yang diambil dari musik tradisi pengiring tarian Soreng (dimainkan oleh Komunitas Lima Gunung) gubahan komponis Sutanto Mendut. Deddy tidak hanya menggandeng Sutanto Mendut untuk keperluan pembukaan Galeri Langgeng miliknya namun dia juga memposisikan Sutanto menjadi semacam creative director. Kolaborasi keduanya telah menghasilkan beberapa pameran dengan tema yang cukup kontroversial diantaranya, Sorak-sorai Identitas, Borobudur Agitatif dan lain-lain.
Eko Prawoto menyusun ruang demi ruang secara “mengalir” (continue space). Menjadikan skylight di bagian tengah galeri yang disangga 4 buah tiang (menyerupai soko guru) menjadi area utama sekaligus emphasis desain interiornya. Kecerdikan sang arsitek dalam mengolah penataan ruang yang bisa mengurangi penggunaan lampu sorot (spot light) di siang hari. Detail bangunan dan tektonika, masih menjadi salah satu bagian yang senantiasa menjadi perhatian Eko Prawoto. Penyusunan pola lantai di bagian pintu masuk serta detail pintu menjadi salah satu daya tarik tersendiri di galeri yang menampung kurang lebih tak kurang dari 75 karya senirupa kontemporer berukuran besar. Beberapa seniman dan perupa yang ikut merasakan keuntungan dari keberadaan Galeri Langgeng diantaranya Agus Suwage, Bob Sick, S Teddy, Ugo Untoro, Arahmaiani, Tisna Sanjaya, termasuk perupa senior yang merupakan aktivis “senirupa” baru, FX. Harsono.
Strategi pemasaran menjadi salah satu kunci untuk membuat keberadaan galeri dan art dealers dilirik. Deddy Irianto selaku pemilik, menyadari akan hal itu. Selain menampilkan tema-tema pameran dan pertunjukan yang cukup kontroversial, Deddy berani menentang “arus” mayoritas art-dealers di Magelang yang cenderung “Yogyasentris” (lebih banyak menampilkan karya-karya perupa dari Yogyakarta). Galeri Langgeng rupanya melakukan pendekatan berbeda dengan menampilkan karya perupa dari kutub lain, Bandung dan Bali. Keberagaman dan perbedaan inilah yang menjadi salah satu magnet galeri ini. Kiprah Deddy tidak hanya berhenti sampai disitu. Aktif mengadakan pameran dan berpartisipasi dalam ajang lelang art-fair di berbagai Negara merupakan cara lain untuk tetap menjaga eksistensi galeri miliknya. Beberapa negara yang sudah menjadi bukti kiprahnya diantaranya, Singapura, Hongkong, Shanghai, Beijing, Tokyo, hingga Abu Dhabi di Timur Tengah. Jakarta, kota yang berfungsi sebagai etalase Indonesia pun tidak luput dari genggamannya. Langgeng Icon Gallery di Kawasan Kemang dan Grand Indonesia adalah bukti kepakan sayap bisnisnya di Jakarta. Tahun ini, dia berencana membangun sebuah galeri di Kota Yogyakarta.Meskipun pola membisniskan seni, termasuk perupa yang ada di dalamnya masih menjadi perdebatan yang belum menemukan titik temu, setidaknya keberadaan Galeri Langgeng di Kota Magelang menjadi sebuah alternatif lokasi kunjungan wisata seni selain Syang Art-Space, Golden Gallerys serta dua buah museum senirupa yang sudah didirikan Dokter Oei Hong Djien (OHD). Dan lebih dari itu, keberadaan galeri dan art dealers seperti Galeri Langgeng ini bisa menjadi modal awal untuk membuat semacam “aturan baku” dalam dunia senirupa Indonesia, yang hingga saat ini ibarat benang kusut yang belum terurai.
Foto lengkap Galeri Langgeng silakan klik disini.



Desain galeri yang memberikan inspirasi nih…thx yach…
Selamat bergabung….terima kasih atas apresiasinya
mas ada gak cara penataan ruang untuk rumah yang berbentuk ruko?
Terima kasih Mas Huang telah sudi dan berkenan mampir ke blog ini. Mengenai penataan ruang untuk rumah yang berbentuk ruko, ada caranya mas….secara garis besar, penataannya lebih banyak menggunakan sistem ruang yang menerus (open plan, cuntinue space) sehingga bisa memberi kesan agar ruangannya lebih lega dan tidak tersekat-sekat. Semoga tips kecil ini bermanfaat.
cari buku judul Seni rupa perubahan politik pengarang F.X. Harsono Pub Galary langgeng Magelang isbn :9789799750143 2009 267 hal ill:21 cm apakah ada ? berapa harga buku tsb?
Martha Hartanti
Janur Kuning III WH1 no.23
Kelapa Gading Permai
Jakarta 14240
tel :081315498678 ; 021-93787573
terima kasih.
Martha