The Power of Lebaran

22 09 2008

Maaf Lahir Batin

MUDIK! Kata yang pertama kali terpikirkan begitu mendengar kata Lebaran. Untuk mempersiapkan tradisi mudik, tabungan dan simpanan yang dikumpulkan dalam rentang satu tahun rela dihabiskan. Hasil jerih payah tersebut biasanya dipergunakan untuk menyediakan pernak-pernik lebaran, mulai dari “menu wajib” baju baru hingga aneka makanan.

Rangkaian lain dari kegiatan mudik adalah silaturahmi, bertemu sanak saudara di kampung halaman. Ada sebuah upaya untuk menciptakan “ruang rindu”, ruang imajinasi untuk membangkitkan kenangan (memori). Hingga tak jarang sering dijumpai kegiatan penunjang silaturahmi misal arisan keluarga, reuni ataupun kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan pertemuan dan pembangkitan kenangan. Rentang waktu tertentu rupanya benar-benar meninggalkan hasrat untuk bertemu secara fisik. Selain tujuan utama lebaran untuk saling bermaafan, proses pertemuan secara fisikpun menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Jika merunut perkembangan peradaban yang makin maju (modern), acara mudik, sekedar saling silaturahmi fisik yang terkadang dalam prosesnya seringkali menimbulkan kemacetan luar biasa dan kejadian-kejadian lalu lintas bisa dilakukan dengan cara lain sehingga tidak menimbulkan efek negatif seperti macet dan kecelakaan lalu lintas. Kemajuan teknologi seperti telepon (termasuk handphone) yang sudah merambah pelosok bisa dimanfaatkan, baik melalui panggilan (menelepon), SMS, MMS dan fitur-fitur pendukung lain. Fenomena ini biasanya disikapi operator (penyedia layanan telepon) dengan mengobral berbagai kemudahan fasilitas dan tarif yang terkadang tidak masuk akal. Belum lagi pemanfaatan jaringan internet maupun pos. Toh fasilitas-fasilitas tersebut tetap tidak menggoyahkan tradisi mudik ini.
Baca entri selengkapnya »





Pasarku (Kini)…

10 09 2008

Pasar terapung di Banjarmasin

ORANG  berlalu lalang, suara saling bersahutan, becek di sana sini pada musim hujan, kumuh, tak jarang menjadi salah satu area hitam karena seringnya terjadi tindak kriminalitas. Barangkali itulah sedikit banyak gambaran umum pasar tradisional di Indonesia, terutama pasar-pasar tradisional yang ada di daratan. Karena gambaran pasar tradisional ini seketika berubah saat kita mengamati pasar tradisional di daerah yang di kelilingi perairan terutama wilayah di luar Jawa. Kondisi dan citra pasar yang demikian buruk tak jarang menimbulkan dilema, bagai buah simalakama bagi pemerintah daerah setempat. Disatu sisi merupakan sentra perekonomian rakyat tapi di sisi lain ibarat kuman penyakit yang harus dibasmi karena memberikan citra negatif wajah kota. Di tengah gencarnya penetrasi pemodal besar (kapital) dan demi keuntungan sesaat maka tak jarang pemerintah daerah mengambil jalan pintas dengan mengijinkan mereka (peretail besar) untuk menanamkan modal di wilayahnya dengan mendirikan pasar-pasar modern (mal, supermarket, hypermarket dan sebutan-sebutan sejenis lainnya).

Kondisi fisik dan lingkungan pasar yang dianggap sudah tidak sejalan dengan perkembangan jaman dijadikan alasan utama untuk “menyingkirkan” keberadaan pasar tradisional. Tanpa pernah mencoba mencari solusi pemecahan maksimal, tiba-tiba langsung saja nasib pasar tradisional harus ditentukan oleh buldozer dan alat perusak berat lainnya. Tak jarang area yang dahulu sebuah pasar tradisional berubah wajah menjadi pusat perbelanjaan modern. Namun tidak berarti pendirian pusat perbelanjaan modern tersebut tidak menimbulkan masalah. Masalah amdal dan simpul kemacetan baru merupakan hal yang sering terjadi.
Baca entri selengkapnya »





Kembali Ke Titik Nol

7 09 2008

Kembali ke titik nol

“CHANGE is the only evidence of life” (Evelyn Waugh). Perubahan adalah satu-satunya bukti kehidupan. Perubahan seakan mengiringi perjalanan hidup manusia. Jika kita menengok sejarah peradaban manusia maka perubahan selalu berjalan beriringan dengan sejarah itu sendiri. Ada kalanya perubahan itu memberikan dampak positif sehingga memberikan perbaikan dan kemajuan, namun tak jarang perubahan tersebut justru menimbulkan kerusakan dan pada akhirnya malah menyebabkan kesengsaraan. Kesengsaraan bagi manusia serta seluruh pendukung hidupnya dan terutama untuk kehidupan itu sendiri.

Membicarakan perubahan, sejarah, peradaban, tentu tidak akan lepas dari makhluk bernama manusia. Bisa dikatakan bahwa manusia menjadi aktor utama dari sebuah panggung teater bernama hidup. Bahwa manusia secara kodrati mendapatkan tanggung jawab sebagai khalifah atau pemegang amanat. Bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan akal budi yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lain. Bahwa manusia seakan-akan bisa menentukan kemana kehidupan tersebut diarahkan. Bahwa manusia dapat memberikan kebaikan bagi kehidupan sekitarnya. Bahwa manusiapun mampu memberikan kerusakan yang luar biasa bagi kehidupannya. Dan bahwa manusia ibarat sang penakluk ruang dan waktu.

Baca entri selengkapnya »