Headline sebuah surat kabar nasional yang berpengaruh. “Indonesia Gulung Jepang” sebuah headline berita yang sangat mengejutkan. Indonesia menggulung Jepang? Apakah ini sebuah mimpi? bagaimana bangsa ini bisa mengalahkan salah satu raksasa Asia bahkan dunia. Raksasa dalam segala bidang dan aspek. Terutama ekonomi, bisa dikatakan Jepang adalah salah satu pilar ekonomi dunia dan mempunyai posisi yang berpengaruh terhadap perubahan ekonomi secara makro. Perlahan-lahan mulai kubaca kalimat per kalimat isi berita itu. Ternyata…sebuah berita yang menurutku lebih mustahil dan sulit diterima akal, Timnas PSSI mengalahkan Jepang 2-0 dalam penyisihan Piala Dunia zona Asia. Sepakbola? Olahraga yang selalu digembar-gemborkan sebagai olahraga rakyat, namun jarang sekali memberikan berita gembira kepada rakyat. Mengapa? Hampir di setiap sudut wilayah dijumpai masyarakat bermain sepakbola dengan riangnya. Bisa dikatakan olahraga yang satu ini merupakan olahraga rakyat yang benar-benar merakyat. Lapangan bola, alun-alun, lapangan kosong, petak sawah yang habis dipanen bisa dijadikan ajang bermain. Bahkan tidak jarang ditemui anak-anak bermain bola di jalan. Tapi sering muncul anekdot, “Bagaimana mungkin Indonesia yang mempunyai penduduk 200 juta lebih hanya untuk mencari sebelas pemain inti untuk kesebelasan sepak bolanya saja tidak bisa?” Baca entri selengkapnya »
Aku dan Mimpiku (Bagian 1)
1 02 2008Lelah juga seharian melakukan aktifitas yang menguras tenaga dan pikiran. Sejenak memanfaatkan waktu luang hanya sekedar untuk merebahkan badan yang kalau diibaratkan mesin inilah waktu untuk turun mesin. Sembari merebahkan diri, oh…..nyaman sekali, hingga tak terasa zz…zz.zzz…….. Baca entri selengkapnya »
Komentar : 1 Komentar »
Kategori : Selamat Pagi...!
Air (Mimik dan Momok), Sebuah Kearifan Dalam Hidup
1 02 2008Tes…tes…tes…
Itulah sedikit gambaran yang telah kita ketahui tentang butiran air yang menetes. Sedikit berandai-andai, membayangkan butiran air yang menetes di atas bebatuan. Perlahan, seakan menunjukkan sebuah kesabaran. Tetes demi tetes, detik demi detik seakan tak pernah berhenti membuat cerukan-cerukan di atas batu. Waktu seakan menjadi saksi bisu akan sebuah kesabaran. Satu tetes, dua tetes sampai akhirnya ribuan tetes air berkumpul dan mengalir dari celah-celah bebatuan, menjadi satu dalam sebuah kejernihan mata air. Pernahkan kita mencoba melihat dan memahami kejernihan itu?
Mendekatkan wajah kita dalam pantulan sang air, maka yang ada di balik kejernihan adalah bayangan wajah kita sendiri. Yang ada adalah pantulan kejujuran dan kepolosan. Baca entri selengkapnya »
Komentar : Leave a Comment »
Kategori : Wajah Kita


Komentar Terakhir