Syang Art Space

Tag

, , , ,

MAGELANG adalah sebuah kota kecil di sisi selatan Propinsi Jawa Tengah, namun keberadaannya sebagai salah satu kota penting dalam dunia seni di Indonesia tidak bisa dikesampingkan. Selain menyimpan banyak karya seni dari maestro seni Indonesia, keberadaan galeri dan museum seni di Magelang-pun layak untuk dinikmati dan dikunjungi. Kali ini saya berkesempatan mengunjungi salah satu galeri di Kota Magelang. Galeri yang terlihat menyolok dengan dindingnya yang berwarna merah marun.  Syang Art Space, bagitu galeri seni di Jl. MT Haryono No. 2 ini diberi nama.  “Syang” sendiri memiliki makna “cinta”. Untuk menemukan lokasinya tidaklah terlalu sulit, mengingat  bangunan Syang Art Space yang berdekatan dengan Monumen Tentara Pelajar.

Awal ketertarikan saya bermula saat melihat deretan sepeda di depan galeri serta sebuah totem setinggi 2,5 meter. Penempatan karya seni yang cukup cerdik karena menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi.  “Harus ada jadual khusus”, pikir saya. Saya harus mencari waktu yang pas agar bisa menikmati isi dari galeri berwarna merah marun dengan deretan bambu pada bagian fasade-nya. Meskipun Magelang merupakan kota kecil, namun dari beberapa catatan yang saya peroleh, di kota kecil ini terdapat aset seni rupa senilai Rp 2 triliun lebih yang disimpan para kolektor seni. Bahkan setidaknya terjadi transaksi seni senilai Rp 100-200 milyar rupiah tiap tahunnya. Kondisi tersebut tak lepas pula dari keberadaan galeri-galeri seni di kota yang mendapat julukan “kota getuk” ini.

Continue reading »

Indonesiaku Kini, “Sambung Menyambung Menjadi Satu”

Tag

, , , ,

“…..Di Ersilia, untuk menciptakan hubungan-hubungan yang menopang kehidupan kota, para penduduknya merentang tali-tali dari pojokan rumah-rumah, putih atau kelabu atau hitam putih berdasarkan penandaan hubungan darah, perdagangan, otoritas, peragenan. Tatkala tali itu menjadi begitu banyak sehingga kau tak dapat lagi lewat di sela-selanya, para penduduk meninggalkannya: rumah-rumah dirobohkan; hanya tali-tali dan penopangnya saja yang tertinggal….”

Nukilan novel Invisible City (diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan judul Kota-kota Imajiner) karya Italo Calvano sedikit banyak memberikan gambaran wajah dunia yang telah berubah. Pergerakan menjadi semakin cepat. Waktu seakan termampatkan. Pertukaran informasi tidak lagi berpijak pada hitungan bulan, hari dan jam, namun sudah bergeser dalam hitungan detik. Imajinasi geografis yang menghasilkan konsep “desa”, “kota”, “bangsa”, “negara”, “global” dan sebagainya telah menghilang dan lebur. Internetlah yang menghilangkan sekat dan batas geografis itu. Dunia  terlipat dalam sebuah lipatan kecil.  Pelipatan dan pemampatan yang oleh David Harvey disebut dengan time-space compression (pemampatan ruang-waktu).  Hambatan-hambatan ruang (space barriers) dapat diatasi dengan teknologi, sehingga menciptakan percepatan kehidupan.

Continue reading »

Langgeng Fine Art Gallery, Sebuah Catatan dan Harapan

Tag

, , , ,

 

Tampak depan Langgeng Fine Art Gallery

Untuk kesekian kalinya saya berkesempatan mengunjungi Langgeng Fine Art Gallery (begitu nama resmi dari galeri ini), tapi orang lebih suka menyebutnya Galeri Langgeng.  Masih saja terlihat sepi, karena memang jika tidak ada agenda kegiatan, tak terlalu banyak orang yang mau mengunjunginya.  Padahal jika sejenak meluangkan waktu untuk berkunjung tidak akan merasa rugi karena banyak hal yang bisa diperoleh di tempat ini. Hijaunya tanaman menjadi pemandangan lazim saat pertama kali menginjakkan kaki. Bukan hijaunya tanaman di dalam galeri semata namun  lingkungan di sekitarnyapun memberi nuansa lain, mengingat galeri yang terletak di Jl Cempaka No. 88, Magelang tepat berhadapan dengan Taman Wisata Kyai Langgeng.  Sebuah kompleks wisata alam di sisi timur Sungai Progo.

Langgeng, nama ini sengaja dipilih karena kebetulan lokasinya berdekatan dengan situs makam Kyai Langgeng, dimana menurut cerita masyarakat setempat merupakan salah satu pengawal dari Pangeran Diponegoro. Selain itu lokasinya berhadapan pula dengan Taman Wisata Kyai Langgeng. Di sisi lain, menurut Deddy Irianto (yang kemudian dikenal dengan Deddy Langgeng, pemilik Galeri Langgeng) keberadaan dua tempat di sekitar galeri itu menjadi sebuah keuntungan (hoki) tersendiri. “Langgeng”  sendiri merupakan  sebuah kata serapan yang berasal dari Bahasa Jawa dan memilik arti abadi, kekal atau selamanya.

Untuk menemukan Galeri Langgeng tidaklah terlalu sulit mengingat lokasinya tepat berhadapan dengan kompleks Taman Wisata Kyai Langgeng (tepatnya di depan Hotel Puri Asri).Memang jika hanya dilihat sekilas, tidak tampak kalau bangunan dengan tanaman hijau di bagian depannya merupakan sebuah galeri yang banyak menyimpan karya-karya kontemporer perupa-perupa Indonesia.  Bahkan ketika saya pertama kali mengunjungi tempat ini, saya seperti tidak melihat sebuah galeri.  Meskipun dibangun pada area yang memiliki topografi lebih tinggi dibandingkan jalan utama di depannya namun keberadaan bangunan yang tertutup rindangnya pepohonan di sekitarnya membuatnya tidak begitu menonjol.

Continue reading »

Menuju Surabaya yang Lebih Hijau

Tag

, , ,

Surabaya green and clean, Surabayaku hijau dan bersih, begitu bunyi ungkapan pada baliho yang banyak betebaran di sudut kota. Kata yang bukan sekedar omong kosong belaka, terbukti tahun ini Kota Surabaya meraih Adipura, penghargaan bagi kota terbersih di Indonesia untuk kategori Kota Metropolitan. Namun masih banyak pekerjaan rumah untuk Surabaya jika benar-benar ingin menyebut dirinya ”green and clean.”

Beberapa waktu lalu, Surabaya banyak berbenah untuk mengatasi banjir dengan membangun saluran drainage kota atau lazim dikenal dengan box culvert serta perbaikan jalur pejalan kaki (pedestrian way). Salah satunya di sekitar Jl. Wijaya Kusuma. Namun betapa terkejutnya saat melihat kenyataan bahwa pekerjaan itu mengorbankan beberapa batang pohon yang sudah tumbuh puluhan tahun di lokasi tersebut. Meskipun dengan dalih bahwa pohon yang ditebang akan diganti tetapi kejadian itu perlu dicermati.

Continue reading »

Balai Kota Surabaya (Staadhuis te Soerabaia), “Total Work of Art”

Tag

, ,

Gedung-balaikota-surabaya-tahun-1940-an

SURABAYA, kota yang di masa lalu menjadi salah satu pelabuhan penting Kerajaan Majapahit, kota yang dikenal pula karena perjuangan heroiknya saat peristiwa 10 Nopember 1945.  Cerita, legenda dan peristiwa banyak menjadi saksi bisu keberadaan kota pelabuhan tersebut. Banyaknya kejadian dan peristiwa ternyata meninggalkan berbagai jejak di kota yang 31 Mei 2011 ini genap berusia 718 tahun. Salah satu jejak peninggalan yang masih bisa dinikmati adalah Balai Kota Surabaya di daerah Ketabang (alamat resmi yang dipergunakan Jl. Taman Surya no. 1). Gedung dua lantai yang dirancang arsitek G.C. Citroen dengan pelaksana H.V. Hollandsche Beton Mij, dibangun pada masa walikota kedua Surabaya G.J. Dijkerman serta menghabiskan dana hingga 1000 gulden. Sejak dibangun hingga sekarang, gedung dua lantai ini tidak banyak mengalami perubahan. Perubahan paling menyolok adalah pergantian bahan atap dari sirap (di masa awal pembangunannya) dengan genteng. Banyak cerita yang bisa dicatat dari bangunan yang memiliki gedung utama berukuran panjang 102 m, lebar 19 m dan ditempati secara resmi tahun 1927 ini. Sementara fungsinya tidak mengalami perubahan karena sampai saat ini masih dipergunakan sebagai kantor Walikota Surabaya.

Latar Belakang dan Sejarah
Menyusuri Balai kota Surabaya adalah perjalanan menyusuri penggal sejarah arsitektur Indonesia. Begitu pentingnya posisi G.C Citroen dalam perkembangan arsitektur Indonesia, hingga H. P Berlage dalam bukunya “Mijn Indische Reis” (perjalanan saya ke Hindia Belanda) mengatakan, “…..Bandung de staad van Wolff Schoemaker en Aalbers is, Batavia van Hulswit, Fermont en Ed. Cuypers, Semarang van Karsten dan is Surabaya de staad van C . Citroen” – Kota Bandung secara arsitektur adalah milik Wolff Schoemaker dan Aalbers, Batavia adalah milik Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers, Semarang milik Karsten dan Surabaya adalah kota milik C. Citroen. (Handinoto, Arsitek G.C. Citroen dan Perkembangan Arsitektur Kolonial Belanda di Surabaya (1915-1940)). Sebuah pernyataan wajar, mengingat begitu banyaknya karya arsitektur G.C Citroen yang tersebar dan mewarnai Kota Surabaya. Balai kota Surabaya adalah salah satu karya masterpiece-nya.
Namun tahukah Anda bahwa Balai kota Surabaya ini mempunyai sejarah perancangan dan pembangunan yang memakan waktu cukup lama? Kompleks bangunan yang bisa kita nikmati saat ini sebenarnya merupakan bagian belakang dari keseluruhan desain yang sudah direncanakan G.C Citroen.

Continue reading »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.