Menyusuri Jejak Masa Lalu (“Makam Tua Peneleh”)

28 06 2009
Makam Tua Peneleh

Makam Tua Peneleh

PENELEH merupakan salah satu kawasan asli Kota Surabaya. Nama Peneleh lahir di zaman Kerajaan Singosari. Asal kata “peneleh” berasal dari lokasi ini yang dahulunya merupakan tempat bersemayamnya pangeran pilihan (pinilih), putra Wisnu Wardhana yang memiliki pangkat setara dengan bupati. Pangeran tersebut kemudian diangkat menjadi pemimpin di daerah yang berada antara Sungai Pegirian dan Kalimas ini. Kawasan Peneleh sendiri merupakan salah satu bagian sejarah Kota Surabaya karena di dalamnya memiliki beberapa peninggalan bersejarah diantaranya masjid kuno Peneleh, rumah HOS Cokroaminoto (tempat proklamator Ir. Soekarno tinggal pada saat beliau bersekolah), perkampungan tua, Pasar Peneleh (salah satu tempat di Jawa dimana saat itu buah anggur dapat dibeli) serta Makam Peneleh yang merupakan salah satu makam tertua di Jawa Timur.

Makam Peneleh, merupakan sebuah komplek pemakaman yang dibangun tahun 1814 dan menempati areal seluas 4,5 hektare. Meskipun kondisinya saat ini sangat kumuh dan memprihatinkan, namun masih menyisakan sisa-sisa eksotisme masa lalu. Banyak hal yang bisa digali di dalamnya. Detail ornamen berlanggam gothic dan doric, patung-patung berkarakter Romawi (meskipun sebagian besar sudah tidak dalam kondisi utuh) hanyalah sebagian kecil dari keindahan masa lalu yang masih bisa ditelusuri. Kisah hidup mereka yang meninggal bisa ditemukan di prasasti batu marmer ataupun besi cor

Baca entri selengkapnya »





Mengisi Lubang di “Hati” (Sebuah Catatan Kecil Untuk “Relativitas-Arsitek di Ruang Angan dan Kenyataan”)

17 01 2009

Relativitas-Arsitek di ruang angan dan kenyataan

Relativitas-Arsitek di ruang angan dan kenyataan

At the time when I thought life was most important,
it was painful for me to live

On the day when I found there was
something more important than life,
it became joyful for me to life

Life-Columbine (1986)

Tomihiro Hoshino

Syair tersebut merupakan bagian penutup sekaligus menjadi salah satu pengantar bagi Adi Purnomo saat mengikuti Sayembara Internasional Museum Tomihiro Hoshino di Azuma,Jepang.

Adi Purnomo (biasa disapa Mamo), praktisi arsitek yang lahir di Yogyakarta, menyelesaikan pendidikan formalnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan memperkaya khazanah ber-arsitekturnya di beberapa biro konsultan ini pernah mendapatkan penghargaan utama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk serial ‘rumah urban’ kategori rumah tinggal pada tahun 2002. Pada tahun yang sama juga memperoleh penghargaan arsitek muda dari Ikatan Arsitek Indonesia serta terpilih menjadi tokoh arsitek tahun 2001 oleh majalah Tempo.
Baca entri selengkapnya »





Meledak!

16 12 2008

Selamat Tahun Baru 2009TAHUN 2008 segera menuju penghujungnya. Tahun 2009 menanti di depan mata. Tahun baru biasanya ditandai dengan harapan, keinginan, rencana dan resolusi baru. Semua serba baru dan tentu saja dengan semangat dan spirit baru. Namun tidakkah kita sadar bahwa sebuah ancaman (baru) menghantui di tahun 2009 dan tahun-tahun mendatang?

Sebuah ancaman sekaligus tantangan bagi manusia untuk mencapai sebuah taraf hidup baru. Kondisi yang mengharuskan manusia (terutama rakyat Indonesia) untuk merencanakan sebuah masa depan yang baik bagi generasi penerusnya. Ancaman tersebut bersumber dari teori Robert Malthus ( 1798 ) yang menyatakan bahwa peningkatan produksi pangan yang bergerak mengikuti deret hitung sedangkan pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur. Khusus untuk Indonesia, ancaman ledakan penduduk menjadi hal yang sangat serius untuk dicarikan jalan keluar. Program Keluarga Berencana sebagai pengendali kelahiran yang dulu begitu kuat gaungnya, kini terabaikan seiring dengan adanya otonomi daerah. Imbas diabaikannya program Keluarga Berencana tersebut adalah ancaman ledakan penduduk atau baby booming yang dialami Indonesia. Jumlah penduduk tahun ini, diestimasi mencapai 220 juta diperkirakan menjadi 247,5 juta jiwa pada tahun 2015 dan 273 juta jiwa pada tahun 2025.
Baca entri selengkapnya »





Jejak Purba di Sangiran

1 11 2008

Oleh : Harry Widianto
Ahli Arkeologi/Paleoantropologi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Dimuat di harian Kompas, 13 Juni 2008

Situs Sangiran

Situs Sangiran

KISAH panjang mengenai evolusi manusia di dunia tampaknya tidak dapat dilepaskan sama sekali dari sebuah bentangan lahan perbukitan tandus yang terletak di tengah perbatasan Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa tengah. Lahan seluas 8 x 7 kilometer persegi, yang saat ini dikenal dengan nama Situs Sangiran itu telah mencuatkan kisah yang menggema lantang ke seluruh dunia. Terutama sejak ditemukan oleh GHR von Koenigswald melalui temuan alat-alat serpih pada tahun 1934.

Di sini telah muncul salah satu pusat evolusi manusia di dunia, yang sanggup menorehan cerita panjang tentang kemanusiaan sejak 1,5 juta tahun lalu. Itu sebabnya, Sangiran dimasukkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 1996.

Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang tererosi bagian puncaknya sehingga menghasilkan cekungan besar di pusat kubah. Akibatnya, lapisan-lapisan tanah berumur tua tersingkap secara alamiah, menampakkan lapisan-lapisan berfosil, baik fosil manusia purba maupun binatang.

Okupasi manusia purba dari tokson Homo erectus secara intens telah meninggalkan jejak-jejaknya, seperti artefak batu ataupun lingkungan faunanya, dalam lingkungan purba yang terbentuk selama 2 juta tahun terakhir tanpa terputus. Inilah napas dan arti mendalam dari Situs Sangiran sebagai salah satu situs akbar dalama kajian evolusi manusia di dunia.

Baca entri selengkapnya »





“Masterpiece” Itu Teramat Sempurna

31 10 2008

oleh : Harry Widianto
Ahli Arkeologi/Paleoantropologi Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Dimuat : Kompas, 13 Juni 2008

Sangiran 17

Sangiran 17

DISEBUT sebagai Sangiran 17 (sesuai dengan nomor seri penemuan yang diberikan), fosil tengkorak Homo erectus yagn ditemukan dari endapan pasir fluvio-volkanik di Pucung ini merupakan salahs atu temuan master piece Homo erectus Sangiran. Desebut demikian karena temuan ini merupakan temuan fosil manusia terbaik dari Sangiran, yang terdiri atas atap tengkorak dan dasar tengkorak dengan muka masih terkonservasi secara baik meski proses transportasi dan deformasi telah memintalnya selama lebih dari 500.000 tahun.

Inilah satu-satunya fosil Homo erectus Asia yang mempunyai muka sehingga tidak dapat dimungkiri lagi bahwa Sangiran 17 memiliki nilai penting yang amat besar dalam rekonstruksi muka Homo erectus yang sebenarnya. Dalam konteks yang lebih luas, Sangiran 17 adalah salah satu dari dua tengkorak Homo erectus di dunia yang ditemukan lengkap dengan mukanya. Spesimen lainnya berasal dai Afrika Timur.

Inilah bentuk muka Homo erectus itu. Dahi sangat datar, tulang kening menonjol, orbit mata persegi, pipi lebar menonjol, mulut menjorok ke depan dan tengkorak pendek memanjang. Berdasarkan morfologi tengkorak yang dipenuhi dengan superstruktur tengkorak yang berat dan insersi otot-otot yang sangat berkembang, tengkorak ini adalah individu laiki-laki dewasa.

Dia hidup pada saat Sangiran didominasi oleh lingkungan sungai yang luas pada periode sekitar 500.000 tahun yang lalu. Mengingat primanya kondisi temuan ini telah menjadikan nilai teramat penting baginya. Sangiran 17 menjadi data banding dalam telaah evolusi fisik bagi temuan-temuan fosil homo erectus lainnya sehingga cetakan fosil ini dapt ditemukan di berbagai laboratorium evolusi manusia paling terkemuka di dunia meski fosil aslinya saat ini tersimpan damai di salah satu laboratorium di Bandung.

Impilikasinya, Sangiran 17 mempunyai kisah mendunia. Dia tdiak pernah ditinggalkan sekejap pun oleh para ahli paleoantropologi dalam melahirkan karya-karya besar mereka tentang evolusi manusia. Ketika analisis Homo erectus dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan dimanapun, di situlah Sangiran 17 akan hadir. Bagaikan air abadi yang mengalir, menghidupi kisah evolusi manusia, Sangiran 17 ada dimana-mana meski dalam bentuk cetakannya.





The Power of Lebaran

22 09 2008

Maaf Lahir Batin

MUDIK! Kata yang pertama kali terpikirkan begitu mendengar kata Lebaran. Untuk mempersiapkan tradisi mudik, tabungan dan simpanan yang dikumpulkan dalam rentang satu tahun rela dihabiskan. Hasil jerih payah tersebut biasanya dipergunakan untuk menyediakan pernak-pernik lebaran, mulai dari “menu wajib” baju baru hingga aneka makanan.

Rangkaian lain dari kegiatan mudik adalah silaturahmi, bertemu sanak saudara di kampung halaman. Ada sebuah upaya untuk menciptakan “ruang rindu”, ruang imajinasi untuk membangkitkan kenangan (memori). Hingga tak jarang sering dijumpai kegiatan penunjang silaturahmi misal arisan keluarga, reuni ataupun kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan pertemuan dan pembangkitan kenangan. Rentang waktu tertentu rupanya benar-benar meninggalkan hasrat untuk bertemu secara fisik. Selain tujuan utama lebaran untuk saling bermaafan, proses pertemuan secara fisikpun menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Jika merunut perkembangan peradaban yang makin maju (modern), acara mudik, sekedar saling silaturahmi fisik yang terkadang dalam prosesnya seringkali menimbulkan kemacetan luar biasa dan kejadian-kejadian lalu lintas bisa dilakukan dengan cara lain sehingga tidak menimbulkan efek negatif seperti macet dan kecelakaan lalu lintas. Kemajuan teknologi seperti telepon (termasuk handphone) yang sudah merambah pelosok bisa dimanfaatkan, baik melalui panggilan (menelepon), SMS, MMS dan fitur-fitur pendukung lain. Fenomena ini biasanya disikapi operator (penyedia layanan telepon) dengan mengobral berbagai kemudahan fasilitas dan tarif yang terkadang tidak masuk akal. Belum lagi pemanfaatan jaringan internet maupun pos. Toh fasilitas-fasilitas tersebut tetap tidak menggoyahkan tradisi mudik ini.
Baca entri selengkapnya »





Pasarku (Kini)…

10 09 2008

Pasar terapung di Banjarmasin

ORANG  berlalu lalang, suara saling bersahutan, becek di sana sini pada musim hujan, kumuh, tak jarang menjadi salah satu area hitam karena seringnya terjadi tindak kriminalitas. Barangkali itulah sedikit banyak gambaran umum pasar tradisional di Indonesia, terutama pasar-pasar tradisional yang ada di daratan. Karena gambaran pasar tradisional ini seketika berubah saat kita mengamati pasar tradisional di daerah yang di kelilingi perairan terutama wilayah di luar Jawa. Kondisi dan citra pasar yang demikian buruk tak jarang menimbulkan dilema, bagai buah simalakama bagi pemerintah daerah setempat. Disatu sisi merupakan sentra perekonomian rakyat tapi di sisi lain ibarat kuman penyakit yang harus dibasmi karena memberikan citra negatif wajah kota. Di tengah gencarnya penetrasi pemodal besar (kapital) dan demi keuntungan sesaat maka tak jarang pemerintah daerah mengambil jalan pintas dengan mengijinkan mereka (peretail besar) untuk menanamkan modal di wilayahnya dengan mendirikan pasar-pasar modern (mal, supermarket, hypermarket dan sebutan-sebutan sejenis lainnya).

Kondisi fisik dan lingkungan pasar yang dianggap sudah tidak sejalan dengan perkembangan jaman dijadikan alasan utama untuk “menyingkirkan” keberadaan pasar tradisional. Tanpa pernah mencoba mencari solusi pemecahan maksimal, tiba-tiba langsung saja nasib pasar tradisional harus ditentukan oleh buldozer dan alat perusak berat lainnya. Tak jarang area yang dahulu sebuah pasar tradisional berubah wajah menjadi pusat perbelanjaan modern. Namun tidak berarti pendirian pusat perbelanjaan modern tersebut tidak menimbulkan masalah. Masalah amdal dan simpul kemacetan baru merupakan hal yang sering terjadi.
Baca entri selengkapnya »





Kembali Ke Titik Nol

7 09 2008

Kembali ke titik nol

“CHANGE is the only evidence of life” (Evelyn Waugh). Perubahan adalah satu-satunya bukti kehidupan. Perubahan seakan mengiringi perjalanan hidup manusia. Jika kita menengok sejarah peradaban manusia maka perubahan selalu berjalan beriringan dengan sejarah itu sendiri. Ada kalanya perubahan itu memberikan dampak positif sehingga memberikan perbaikan dan kemajuan, namun tak jarang perubahan tersebut justru menimbulkan kerusakan dan pada akhirnya malah menyebabkan kesengsaraan. Kesengsaraan bagi manusia serta seluruh pendukung hidupnya dan terutama untuk kehidupan itu sendiri.

Membicarakan perubahan, sejarah, peradaban, tentu tidak akan lepas dari makhluk bernama manusia. Bisa dikatakan bahwa manusia menjadi aktor utama dari sebuah panggung teater bernama hidup. Bahwa manusia secara kodrati mendapatkan tanggung jawab sebagai khalifah atau pemegang amanat. Bahwa manusia dikatakan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan akal budi yang lebih tinggi dibandingkan makhluk lain. Bahwa manusia seakan-akan bisa menentukan kemana kehidupan tersebut diarahkan. Bahwa manusia dapat memberikan kebaikan bagi kehidupan sekitarnya. Bahwa manusiapun mampu memberikan kerusakan yang luar biasa bagi kehidupannya. Dan bahwa manusia ibarat sang penakluk ruang dan waktu.

Baca entri selengkapnya »





Efek Mozart

8 08 2008

Oleh : Dhani
Tulisan ini ditampilkan dalam blog pribadinya “Bianglala” 9 Desember 2007

Bersantai di akhir pekan, ditemani satu seri Piano Concerto dari Mozart (koleksi lama yang masih saja asyik untuk didengar), sebuah pertanyaan “iseng” terlintas di benak: Apa benar komposisi mozart memiliki pengaruh terhadap kecerdasan pendengarnya – yang sering diistilahkan sebagai Efek Mozart itu?

Heboh soal efek Mozart ini pertama kali dipicu oleh sebuah penelitian yang dimuat di jurnah ilmiah bergengsi, Nature (vol 365 tahun 1993) dengan judul “Musical and Spatial Task Performance”. Paper ini memuat riset eksperimen dari Franches Rauscher dkk, ahli neurosains dari Universitas Wisconsin di Oshkosh, AS.
Baca entri selengkapnya »





Membangun Kawasan Bersejarah yang Dinamis

8 08 2008

Oleh : Punto Wijayanto
Peneliti di Center for Heritage Conservation, Jurusan Arsitektur dan Perancangan, Universitas Gadjah Mada (UGM), juga relawan untuk Green Mapper Jogja dan Klinik Urban
Dimuat di : Peta Hijau Jogja, Edisi 01 April 2006
“2002-2006, 4 Tahun Metani Jogja”

Menarik untuk mencermati gagasan tentang bagaiman menghidupkan citra Kota Yogyakarta dengan mempertahankan keotentikannya. Otentik di sini mengacu pada bentuk kawasan seperti waktu pembentukannya, ditandai dengan arsitektur, misalnya gaya Tiong Hoa di kampung Ketandan atau gaya Mataram di Kotagede (Kompas 13/03), sementara, kita tahu, kota itu dinamis dan terus mengalami perubahan menurut kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya.
Baca entri selengkapnya »